Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Sinopsis film Conclave: Perang politik takhta suci Vatikan

Film berdurasi 120 menit ini tak hanya mengupas persaingan politik di Vatikan, tetapi juga mempertanyakan dogma agama yang dianggap hitam putih, sembari mengajak penonton merenungkan tabrakan antara iman, kekuasaan, dan kemanusiaan.

Sinopsis film Conclave: Perang politik takhta suci Vatikan

Potongan adegan dalam film Conclave memperlihatkan akting Ralph Fiennes. (Foto: Instagram/@conclavethefilm)

27 Feb 2025 10:30AM (Diperbarui: 25 Apr 2025 04:12PM)

Film Conclave sukses menarik perhatian publik karena meraih delapan nominasi Oscar 2025, termasuk kategori bergengsi Best Picture. 

Disutradarai oleh Edward Berger dan diadaptasi dari novel karya Robert Harris yang terbit pada 2016, film bergenre thriller politik ini mengangkat drama serta intrik di balik proses pemilihan Paus baru—tradisi yang sudah berlangsung hampir 1.000 tahun di Takhta Suci Vatikan

Meski kisah dalam film ini bersifat fiktif, latarnya tetap mengacu pada realitas konklaf kepausan yang sarat dengan protokol ketat dan suasana sakral.

Potongan adegan dalam film Conclave memperlihatkan akting Ralph Fiennes. (Foto: Instagram/@conclavethefilm)

Kisah Conclave berpusat pada Kardinal Thomas Lawrence (Ralph Fiennes) yang langsung menjabat sebagai Dekan Dewan Kardinal setelah kematian Sri Paus akibat serangan jantung. 

Namun, kematian ini menyisakan misteri yang memicu berbagai spekulasi di antara para kardinal. Lawrence diberi tugas memimpin konklaf untuk memilih pemimpin tertinggi Gereja Katolik yang baru.

Seluruh kardinal dari berbagai penjuru dunia dikumpulkan di Vatikan, tepatnya di Kapel Sistina, untuk mengikuti proses pemilihan selama tiga hari. 

Mereka terlibat dalam putaran doa, refleksi, dan pemungutan suara, hingga muncul asap putih sebagai tanda bahwa Paus baru telah terpilih. Proses ini dilakukan secara tertutup demi menjaga kerahasiaan dan menghindari campur tangan pihak luar.

Ada empat kandidat kuat yang disebut-sebut memiliki peluang besar menduduki Takhta Suci, yakni Aldo Bellini (Stanley Tucci) dari Amerika Serikat, Joshua Adeyemi (Lucian Msamati) dari Nigeria, Joseph Tremblay (John Lithgow) dari Kanada, dan Goffredo Tedesco (Sergio Castellitto) dari Italia. 

Keempat kandidat itu mewakili beragam pandangan, mulai dari liberalis, konservatif, moderat, hingga tradisionalis.

Potongan adegan dalam film Conclave memperlihatkan akting Ralph Fiennes (kiri) dan Stanley Tucci (kanan). (Foto: Instagram/@conclavethefilm)

Namun, keadaan semakin pelik ketika muncul sosok Kardinal Vincent Benitez (Carlo Dhiez) dari Kabul, Afghanistan, yang mengejutkan para kardinal lainnya. 

Bagaimana mungkin seorang kardinal berasal dari negara yang menganut hukum Islam? Setelah diinterogasi, terungkap bahwa Benitez memang diangkat secara rahasia oleh Sri Paus sebelum wafat.

Intrik semakin memuncak ketika Lawrence mendapatkan informasi dari Janusz Woźniak, prefek rumah tangga kepausan, bahwa Sri Paus sempat meminta Tremblay untuk mundur sebagai kardinal di malam terakhir hidupnya—permintaan yang ditolak mentah-mentah oleh Tremblay. 

Di sisi lain, Bellini memperingatkan Lawrence akan bahaya jika Takhta Suci jatuh ke tangan seseorang yang radikal, karena dapat membalikkan kemajuan progresif yang telah dicapai Gereja selama enam dekade terakhir.

Konflik batin Lawrence pun semakin dalam, terutama saat seseorang mengaku sebagai kardinal rahasia yang ditunjuk oleh Sri Paus dan bertugas di tempat misterius, membuat para kardinal lainnya kebingungan. 

Potongan adegan dalam film Conclave. (Foto: Instagram/@conclavethefilm)

Di tengah proses pemungutan suara, lebih dari lima kali penghitungan suara menghasilkan asap hitam, tanda bahwa belum ada kandidat yang memperoleh suara mayoritas.

Film berdurasi 120 menit ini tak hanya menampilkan persaingan politik di balik dinding Vatikan, tetapi juga mempertanyakan dogma agama yang kerap dianggap hitam putih. Conclave mengajak penonton merenungkan bagaimana iman, kekuasaan, dan kemanusiaan saling bertabrakan.

Setelah tayang perdana di Festival Film Telluride ke-51 pada 30 Agustus 2024, Conclave meraih berbagai penghargaan bergengsi, termasuk Best Film dan Outstanding British Film of the Year di BAFTA Awards 2025, serta Movie of the Year di AFI Awards 2025. 

Film ini juga sukses secara komersial, dengan pendapatan box office global mencapai US$98,5 juta dari bujet produksi sebesar US$20 juta.

Dengan sederet prestasi tersebut, Conclave dipastikan menjadi salah satu film yang paling diperhitungkan menjelang malam puncak Piala Oscar ke-97 yang akan digelar pada 3 Maret 2025 di Dolby Theatre, Hollywood.

Film Conclave tayang di bioskop Indonesia mulai Rabu, 26 Februari 2025.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan