Seringai susul Frau cabut dari Spotify, daftar musisi memboikot makin panjang
Langkah Seringai menambah panjang daftar musisi yang menolak terlibat dalam bisnis Spotify, menyusul kontroversi investasi sang CEO, Daniel Ek, di perusahaan teknologi militer berbasis AI.
Band metal Seringai dalam salah satu unggahan mereka di media sosial. (Foto: Instagram/@seringai_official)
Gelombang boikot terhadap Spotify terus meluas. Kini, band metal Indonesia, Seringai, menarik lagu-lagu mereka dari platform streaming musik tersebut, menyusul langkah penyanyi Frau (Leilani Hermiasih) dan sejumlah musisi internasional seperti Massive Attack, King Gizzard & the Lizard Wizard, Deerhoof, hingga Xiu Xiu.
Aksi kolektif ini muncul setelah CEO Spotify, Daniel Ek, diketahui berinvestasi ratusan juta euro ke Helsing, perusahaan asal Jerman yang mengembangkan teknologi pertahanan berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk keperluan militer, termasuk teknologi untuk peperangan dan produksi drone.
Ek melakukan investasi itu lewat firma miliknya, Prima Materia, yang memimpin pendanaan senilai €600 juta (sekitar Rp10 triliun) untuk Helsing. Langkah tersebut memicu kemarahan para musisi yang menilai kekayaan hasil karya seni tidak seharusnya digunakan untuk membiayai perang.
Seringai menjadi band teranyar yang lantang menyatakan sikap. Manajer mereka, Wendi Putranto, menegaskan keputusan itu diambil sebagai bentuk penolakan terhadap segala bentuk keterlibatan, langsung maupun tidak langsung, dalam bisnis yang mendukung kekerasan.
"Band members Seringai dan seluruh karya yang diciptakan oleh mereka menolak terafiliasi dengan kegiatan tersebut maupun menolak mendukung peperangan," ujar Wendi kepada Detik, Selasa (14/10).
Ia menambahkan seluruh karya Seringai hanya akan dihapus dari Spotify, sementara di platform musik lain tetap tersedia.
"Betul, hanya mundur dari Spotify. Tapi masih tersedia di streaming platform musik lainnya kok," tuturnya.
'IRONIS BANGET'
Sebelum Seringai, musisi independen asal Yogyakarta, Frau (Leilani Hermiasih), sudah lebih dulu meninggalkan Spotify pada September 2025.
Dalam unggahan di media sosial, ia menulis, "Ironis banget, kok seseorang yang mengembangkan platform musik, yang seharusnya merayakan kehidupan dan kebebasan, malah ikut nyumbang ke teknologi perang."
Frau juga menyerukan aksi kolektif para seniman, "Kita udah capek coping lewat meme-meme distopik—tahun ini waktunya lebih lantang: marah-marah, boikot, berserikat, bergerak bersama."
Band asal Yogyakarta lainnya, Majelis Lidah Berduri, ikut cabut dari Spotify sejak 25 September 2025. Mereka menilai Spotify berpihak pada pihak yang mendukung genosida di Palestina dan turut menormalisasi sistem ekonomi yang merugikan pekerja seni.
"Kabar sebaris: Kami cabut dari Spotify sebab kami berdiri bersama kalian," tulis mereka dalam unggahan di Instagram.
BOIKOT GLOBAL
Protes terhadap Spotify tidak hanya datang dari Indonesia. Band legendaris Inggris, Massive Attack, menarik seluruh katalog musiknya dari Spotify setelah mengetahui investasi Daniel Ek di perusahaan teknologi militer tersebut.
"Mengingat (dilaporkan) investasi signifikan ke sebuah perusahaan yang memproduksi drone amunisi militer dan teknologi AI yang terintegrasi ke dalam pesawat tempur, Massive Attack mengajukan permintaan terpisah kepada label kami agar musik kami dihapus dari layanan streaming Spotify di semua wilayah," tulis mereka.
Grup rock psikedelik asal Australia, King Gizzard & the Lizard Wizard, yang dikenal lewat lagu-lagu populer seperti Work This Time dan Robot Stop, menghapus hampir semua katalog mereka dari Spotify. Hanya beberapa rilisan yang tersisa karena terikat lisensi.
Dalam unggahan di Instagram, mereka menulis bahwa demo terbaru mereka tersedia "di semua platform kecuali Spotify," sambil menambahkan pesan singkat: "f** Spotify."
Langkah serupa juga dilakukan musisi lain, grup indie asal Amerika, Deerhoof, yang menyatakan mereka tidak ingin "musik kami membunuh orang" dan menyebut Spotify sebagai "penipuan pengumpul data."
Musisi senior Australia, David Bridie, juga menarik karyanya karena alasan moral, bukan bisnis. "Ini bukan tentang bisnis, ini tentang kemanusiaan," tegasnya.
Sementara itu, produser musik elektronik asal Jerman Skee Mask menulis, "Saya tidak bisa terus berada di platform yang keuntungannya digunakan untuk membiayai perang."
Band eksperimental Xiu Xiu menyebut Spotify sebagai "portal kiamat sampah" dan meminta para penggemar membatalkan langganan mereka. Mereka juga menyebut langkah mereka sebagai bentuk "protes keras terhadap investasi CEO Spotify, Daniel Ek (melalui dana Prima Materia), di perusahaan teknologi militer AI asal Jerman, Helsing."
RESPONS SPOTIFY
Di tengah meningkatnya boikot, juru bicara Spotify menyatakan bahwa "Spotify dan Helsing adalah dua perusahaan yang benar-benar terpisah."
Pihak Helsing pun menegaskan bahwa teknologinya tidak digunakan untuk menyerang Gaza, melainkan untuk tujuan pertahanan di Eropa.
"Saat ini kami melihat misinformasi yang menyebar bahwa teknologi Helsing digunakan di zona perang selain Ukraina. Ini tidak benar," tulis pernyataan resmi perusahaan itu.
"Teknologi kami digunakan di negara-negara Eropa hanya untuk pencegahan dan pertahanan terhadap agresi Rusia di Ukraina."
Namun, penjelasan tersebut tidak meredam gelombang protes. Para musisi tetap menilai langkah Daniel Ek sebagai bentuk kontradiksi moral dari seorang pemimpin perusahaan musik yang justru ikut mendanai perang.
Seperti yang diungkapkan pengamat musik Euronews Culture, David Mouriquand, "Ketika para seniman menyuarakan kekhawatiran yang nyata soal meluasnya penggunaan AI dalam dunia yang didominasi teknologi, serta penggunaan karya mereka untuk melatih alat AI, respons [Spotify] ini terdengar seperti sikap yang masa bodoh terhadap situasi. Lebih parah lagi, secara moral benar-benar memalukan."
Musisi asal Islandia, Björk, bahkan pernah menyatakan dengan tegas: "Spotify mungkin adalah hal terburuk yang pernah terjadi pada musisi."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.