Skandal perdagangan seks Sean 'Diddy' Combs akan dijadikan serial dokumenter
Serial dokumenter ini akan menampilkan wawancara dengan para korban, serta laporan mendalam dari Rolling Stone dan sejumlah cuplikan arsip terkait.
Mogul musik hip-hop Sean "Diddy" Combs. (Foto: Reuters/Lucas Jackson)
Investigation Discovery dan Maxine Productions tengah menggarap serial dokumenter tentang perjalanan perjalanan hidup Sean "Diddy" Combs, dari raja industri musik dunia hingga didakwa kasus perdagangan seks.
Informasi ini diumumkan hanya sehari setelah sang taipan musik secara resmi didakwa dengan tuduhan berlapis, mulai dari perdagangan seks, konspirasi dalam pemerasan, hingga penyediaan transportasi untuk tujuan prostitusi.
Menurut siaran pers yang dikutip Variety, proyek serial yang belum diberi judul ini akan menggali "tuduhan perilaku kekerasan dan aktivitas ilegal yang telah lama dikaitkan dengan taipan musik ini."
"Seiring munculnya laporan pelecehan seksual, perilaku abusif, dan klaim-klaim mengerikan lainnya, dokumenter ini menelusuri kisah pria yang menyebut dirinya sebagai 'Bad Boy' ini, mengungkap pola perilaku menyimpang yang dituduhkan terhadapnya," bunyi pernyataan tersebut.
Menurut laporan Page Six, Diddy ditangkap pada Senin (16/9) di Manhattan, sekitar enam bulan setelah pihak berwenang federal menggerebek rumah mewahnya di Los Angeles dan Miami.
Dalam penggerebekan tersebut, polisi menyita narkoba, video pertunjukan pesta seks, serta lebih dari 1.000 botol pelumas dan minyak bayi, menurut dokumen tuntutan dari jaksa.
Pihak berwenang juga menyita senjata api dan amunisi, termasuk tiga senapan AR-15 dengan nomor seri yang sudah dihapus, yang disimpan di lemari di rumahnya di Miami.
Menurut dokumen pengadilan, Diddy merupakan pemimpin organisasi kriminal yang terlibat dalam perdagangan seks, kerja paksa, transportasi lintas negara untuk tujuan prostitusi, penyalahgunaan narkotika, penculikan, pembakaran, penyuapan, dan upaya untuk menghalangi keadilan.
Diddy dan rekan-rekannya menggunakan "kekuasaan dan prestise" untuk mengintimidasi dan memikat sejumlah perempuan ke dalam lingkaran sosialnya, "seringkali dengan dalih hubungan romantis," menurut dokumen tersebut.
Dokumen itu juga mengungkapkan bahwa Diddy menggunakan berbagai tindak kekerasan, ancaman, dan paksaan untuk memaksa sejumlah perempuan berhubungan dengan pekerja seks laki-laki dalam pesta seks yang dapat berlangsung selama beberapa hari, atau yang disebut sebagai Freak Offs. Aksi kekerasan itu direkam menjadi puluhan video.
Diddy dibantu stafnya untuk mengurus perjalanan, akomodasi hotel serta menyediakan narkoba dan pelumas untuk kepentingan pesta tersebut.
Dokumen pengadilan mengungkapkan bahwa jaksa telah mewawancarai lebih dari 50 korban dan saksi, dan mereka memperkirakan jumlah itu akan bertambah.
Seluruh skandal seks ini terjadi di balik kedok bisnis musik, gaya hidup, dan pakaian global yang dikelola Diddy.
Dalam persidangan yang digelar di Manhattan, Amerika Serikat, pada Selasa (17/9), untuk mendengar berbagai tuduhan yang ditujukan kepadanya, Diddy bersikeras ia "tidak bersalah."
Hakim Magistrat AS Robyn Tarnofsky kemudian menolak melepaskan Diddy dengan jaminan. Sehingga, Diddy harus mendekam di tahanan sembari menunggu persidangan berikutnya.
Diddy bisa menghadapi hukuman minimal 15 tahun penjara, dengan kemungkinan hukuman seumur hidup.
Kuasa hukum Diddy, Marc Agnifilo, menegaskan bahwa Freak Offs merupakan pesta seks yang konsensual dan tanpa paksaan.
"Apakah ini perdagangan seks? Tidak, jika semua orang memang ingin melakukannya," kata Agnifilo, yang juga berpendapat bahwa pihak kepolisian telah melanggar privasi kliennya.
Serial dokumenter tentang kehidupan Diddy akan menampilkan wawancara dengan para korban, serta laporan mendalam dari Rolling Stone dan sejumlah cuplikan arsip terkait.
Bersama Maxine Productions, IPC akan memproduksi serial ini bekerja sama dengan Rolling Stone Films.
Proyek ini dijadwalkan tayang pada 2025.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.