Ular hingga Ratu Elizabeth: 'Seniman Strava' menggambar dengan rute lari, jalanan Singapura menjadi kanvasnya
Kami ikut berlari bersama Toh Cheng Hock untuk melihat bagaimana aktivitas berlari dapat menjadi karya seni yang keren.
Seniman Strava, Toh Cheng Hock (kiri), bersama salah satu potret larinya yang menggambarkan mendiang Ratu Elizabeth II. (Foto: CNA/Raydza Rahman, Tan Cheng Hock)
SINGAPURA: Lari pagi itu dimulai seperti biasa di trotoar, tetapi setelah beberapa meter, pria berusia 71 tahun ini berbelok tajam ke hamparan rumput di satu kawasan hunian HDB (badan perumahan dan pembangunan Singapura), lalu melintasi beberapa ruang bawah blok, melompati selokan, dan menyelinap di antara mobil-mobil yang terparkir.
Meski saya cukup berpengalaman lari jarak jauh, yang saya kira akan menjadi joging santai di pagi hari bersama Pak Toh segera berubah menjadi petualangan berlumpur yang membuat saya merasa kurang persiapan.
Ternyata, ada alasan mengapa rute larinya sering kali tidak mengikuti jalur trotoar yang mulus — ia sedang mengerjakan karya seni terbarunya: kakinya ia jadikan kuas, dan jalanan di kawasan Tampines, Singapura, adalah kanvasnya.
Alih-alih menggunakan cat, Pak Toh menciptakan gambar rumit dan kompleks menyerupai berbagai hal, mulai dari angka dan huruf hingga hewan bahkan sosok manusia, hanya dengan rute larinya.
Praktik ini secara informal dikenal sebagai "seni Strava," karena para pelari yang menciptakan gambar-gambar ini biasanya membagikannya di aplikasi kebugaran Strava.
Meski telah menyempurnakan tekniknya selama 10 tahun terakhir, namanya baru mencuat belakangan ini setelah karyanya mendadak viral, yakni rute larinya sejauh 21 km yang menggambarkan angka 2025 dalam bentuk ular.
Unggahannya di grup Facebook Strava Art pada 1 Januari lalu itu mendapatkan 57.000 likes, dan telah dibagikan lebih dari 700 kali.
Sebagian terheran-heran dengan upayanya itu. “Semakin lama saya lihat, saya jadi makin bertanya-tanya,” tulis salah satu komentar.
Saya pun menghubungi Pak Toh untuk ikut berlari bersamanya guna melihat langsung cara ia melakukannya.
DIPANDU INSTING DAN PENGALAMAN
Meskipun gerimis merinai, Pak Toh sudah menunggu saya di Stasiun MRT Tampines pada pukul 6 pagi di hari Kamis, siap untuk berlari.
Langkah-langkah dini menembus hunian HDB hanyalah permulaan dari lari yang seolah-olah tanpa akhir, dan sekitar 60 persen rute berada di luar jalur trotoar.
Namun, walau besar kemungkinan bisa tersesat ketika keluar dari jalur utama, Pak Toh tetap percaya diri di tiap pengkolan kecil, sering kali tanpa perlu melihat ponselnya untuk memastikan arah.
Pak Toh yang tinggal di Tampines seumur hidupnya mengaku mengenal wilayah ini luar kepala.
"Saya cukup akrab dengan tempat ini, jadi saya biasanya tahu di mana harus berbelok dan menyeberang. Saya menganggap (Tampines) bagaikan seperti selembar kertas — saya bisa memotong jalur mana pun yang saya mau," ujarnya.
Tak lama kemudian, tiap jalan, trotoar, dan kompleks hunian HDB mulai terlihat sama bagi saya. Namun, Pak Toh masih dapat menjelaskan bagian-bagian dari rute yang akan membentuk gambar yang kami rencanakan.
"Sekarang kita membuat matanya," ujarnya di satu titik.
"Ini bagian mulutnya," tambahnya saat kami berbelok.
Kaki saya mulai lemas setelah melewati banyak tanjakan kecil dan trotoar tinggi. Kami juga basah kuyup oleh hujan, keringat, dan lumpur. Namun, setelah hampir satu setengah jam dan lebih dari 12 km, lari kami akhirnya rampung.
Dan hasilnya pun terlihat — gambar seekor ular dengan kepalanya membentang di sepanjang Tampines Ave 9 dan tubuhnya melingkar di sekitar Sekolah Menengah Pasir Ris.
Bagi Pak Toh, gambar akhir inilah yang memberinya kepuasan. Dan saat saya melihat gambar ular yang baru saja kami buat dengan berlari, saya pun memahami alasannya.
"Di saat gambarnya mulai terlihat… saya merasakan kepuasan, dan saya pun cukup senang karenanya," katanya.
PERPADUAN MINAT DAN PENGALAMAN
Minat luar biasa Pak Toh terhadap seni Strava tidak terjadi dalam semalam.
Setelah lari kami usai, ia mengungkapkan ia telah bekerja sebagai desainer grafis lebih dari 40 tahun, menggambar dan merancang ilustrasi untuk papan reklame serta iklan.
Meski kini ia semi pensiun, Pak Toh masih mengerjakan berbagai proyek desain secara lepas.
Dengan pengalaman tersebut, ia mampu membayangkan gambar dengan jelas di benaknya, dan bahkan melakukan penyesuaian kecil sepanjang rutenya.
"Saya tahu caranya menghindari rintangan dan cari-cari jalur alternatif untuk menyelesaikan gambar," ujarnya.
Kemampuannya memvisualisasikan gambar dengan akurat turut didukung dengan hobi melakoni olahraga lari yang telah dilakukan selama lebih dari 40 tahun.
Ia bukan sembarang pelari. Bulan ini, ia menyelesaikan maraton teranyarnya di Hong Kong dalam waktu kurang dari empat jam 30 menit, meski usianya sudah menginjak 70-an.
Sekitar enam tahun lalu, ia mulai melihat para pelari lain mengunggah seni Strava mereka secara daring, dan dari situlah ia terinspirasi untuk melakukan hal yang sama.
Namun, ia tidak asal berlari. Setia pada latar belakang sebagai desainer grafis, Pak Toh merancang dulu rute larinya di komputer — terkadang menggambar ilustrasi sebelum menerapkannya ke aplikasi pemetaan rute.
"Ketika sudah ada gambaran, akan saya hamparkan di atas peta dan dari sana saya sesuaikan rutenya," katanya.
Prosesnya bisa sesingkat satu hingga dua jam, tetapi untuk desain yang lebih kompleks bisa sampai setengah hari.
Setelah rute tersimpan di ponselnya, ia melakukan lari uji coba terlebih dahulu untuk mengidentifikasi aneka rintangan, misalnya proyek konstruksi tak terduga atau selokan yang terlalu dalam untuk dilompati.
Lantas ia akan mengulang rute itu sekali lagi dengan mempertimbangkan semua hambatan yang ditemukan. Jika masih ada rintangan baru atau hasil gambar kurang memuaskan, ia bisa mengulang lagi untuk kali ketiga.
"Ketika saya bikin kesalahan, kadang masih bisa saya tambal dengan berbalik atau mengulang bagian rute tersebut," ujarnya. "Tapi jika kesalahannya terlalu mencolok, mau tidak mau saya harus memulai ulang."
Secara keseluruhan, ia biasanya membutuhkan sekitar satu pekan untuk menyelesaikan satu karya seni Strava.
DARI SINGA DUYUNG HINGGA LEE HSIEN LOONG
Inspirasi Pak Toh untuk karyanya sering kali muncul saat musim perayaan. Saat Tahun Baru Imlek, ia biasanya menggambar hewan dalam zodiak China, yang kurang lebih menjelaskan mengapa ia memilih untuk menggambar ular saat berlari bersama saya.
Saat Natal, ia membuat gambar-gambar khas hari raya tersebut, misalnya manusia salju dan Sinterklas.
Hewan seperti kanguru, penguin, anjing, dan harimau juga pernah muncul dalam karyanya, begitu pula gambar orang yang melakukan berbagai aktivitas seperti breakdance dan kung fu. Ia bahkan pernah menggambar tokoh terkenal seperti mendiang Ratu Elizabeth II.
Selama pandemi COVID-19, ia memiliki lebih banyak waktu untuk membuat gambar yang lebih kompleks.
Salah satu favoritnya adalah Merlion, ikon Singapura berupa singa duyung, yang menyemburkan tulisan "SG 55," merayakan ulang tahun ke-55 Singapura pada Agustus 2020. Rute ini membentang 45 km dan memakan waktu hampir lima jam.
Karyanya yang lain – rute 26 km pada 2021 – menggambarkan orang divaksinasi. Ungkapnya, sosok tersebut adalah Perdana Menteri Singapura saat itu, Lee Hsien Loong, berdasarkan foto dirinya sedang menerima vaksin kala itu.
"Yang satu itu cukup rumit, karena menggambar sosok manusia memang biasanya cukup sulit," katanya sambil tertawa.
"Butuh waktu lebih lama … dan beliau kan Perdana Menteri, jadi saya harus berlatih agak lebih lama."
MENGAPA SINGAPURA COCOK UNTUK SENI STRAVA
Pak Toh mengaku tidak menyangka unggahan Strava art terbarunya akan viral, mengingat unggahan-unggahan sebelumnya hanya mendapatkan ratusan likes.
"Teman-teman saya mengirimkan unggahan itu kepada saya dan bilang sekarang saya terkenal," ujarnya dengan senyum kikuk. "Saya agak malu soal ini."
Meskipun sebagian besar komentar memuji usahanya, ada juga yang skeptis, mempertanyakan apakah ia benar-benar berlari mengikuti rute tersebut.
"Hanya penasaran, bagaimana Anda berlari melewati properti pribadi orang lain?" tulis salah satu komentar.
Kata Pak Toh, satu keunikan Singapura yang membuat seni Strava lebih mudah dilakukan adalah keberadaan ruang bawah blok (void decks) di kawasan hunian HDB. Menurutnya, tak banyak orang asing tahu soal ini.
"Di flat-flat HDB Singapura, sebagian besar bloknya bisa jadi jalan potong, dan itu menguntungkan bagi saya," katanya. "Saya bisa membentuk gambar, pola apa pun."
"Di negara lain, kita harus lari melewati halaman belakang rumah orang. Itu agak sulit."
Aksinya telah membuat kagum dan menginspirasi sekelompok kecil teman dan anggota klub lari yang dia ikuti, Running Department.
Sesekali, ia mengajak orang lain berlari untuk membantu memunculkan gambar yang mereka inginkan, tetapi selebihnya tetap menjaga profilnya tidak mencolok.
Pak Toh pun tak terlalu memikirkan usia, dan tak ada rencana berhenti membuat Seni Strava dalam waktu dekat.
"Selama saya masih bisa lari, akan terus saya lakukan," pungkasnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.