Skip to main content
Iklan

Lifestyle

'Menghubungkan saya ke akar yang nyaris hilang': Batik bantu seniman ini kenang sang nenek

Menempuh studi seni di London selagi berduka akan wafatnya sang nenek, Fathiah A’bdussamad menemukan makna batik yang lebih mendalam, membimbingnya menempuh perjalanan spiritual yang membawanya kembali ke akar leluhurnya.

 

'Menghubungkan saya ke akar yang nyaris hilang': Batik bantu seniman ini kenang sang nenek

Desain batik karya seniman asal Singapura, Fathiah A’bdussamad, kini dipamerkan di satu galeri seni di London sebagai bagian dari program magister keduanya. (Foto: Fathiah A’bdussamad)

Sejak kecil, Fathiah sudah akrab dengan batik. Ia belajar merawat kain-kain batik milik ibu dan nenek dari pihak ayah yang diperoleh dari sahabat maupun kerabat.

Berasal dari Indonesia, seni batik menggunakan malam (wax) untuk membentuk pola-pola rumit pada kain melalui proses pencantingan dan pewarnaan berulang. Batik merujuk pada teknik seni ini, sekaligus kain yang memuat pola tersebut.

Dalam koleksi batik keluarganya, tiap lembar memiliki corak dan warna khas. Sang ibu dan nenek mengajarinya cara melipat kain menjadi rok lilit. Fathiah kecil bisa mengikatkannya begitu erat hingga tetap terbungkus rapi bahkan saat ia tidur.

Karena begitu lekat dengan kesehariannya, batik nyaris luput dari perhatiannya. Anak kedua dari tiga bersaudara ini bahkan pernah merasa tak ada yang istimewa ketika ia mengunjungi pameran batik di Singapura saat remaja.

Nenek Fathiah bersama cucu laki-lakinya, adik Fathiah. (Foto: Fathiah A’bdussamad)

“Saya dulu lihat (batik) tiap hari,” kata Fathiah, seniman batik berusia 37 tahun. “Batik dari dulu sampai sekarang merupakan bagian besar dari hidup saya, tapi saya mengabaikan seni dan maknanya. Tidak pernah terpikir untuk bertanya apa arti sebenarnya.”

Puluhan tahun kemudian, di seberang dunia, batik menghadirkan makna baru dalam hidupnya.

Kini tinggal di London, Fathiah menampilkan karya batiknya di The Garrison Chapel, bangunan bersejarah berusia 130 tahun yang difungsikan sebagai ruang seni publik. Galeri ini kerap mengangkat pameran yang menyoroti pentingnya seni tradisi dan kerajinan warisan budaya.

Karya-karya Fathiah yang terinspirasi dari masa remaja sekaligus pencarian spiritual akan warisan budayanya di Indonesia ditampilkan bersama karya 11 seniman lain. Tema yang diangkat beragam, mulai dari ikonografi Katolik hingga geometri Islam.

Apa yang dulu hanya dianggap sepele di masa kanak-kanaknya kini menjelma menjadi seni sakral yang menyembuhkan – menghubungkannya dengan leluhur, mendiang nenek, sekaligus identitasnya sebagai orang Singapura.

MENGGANDRUNGI SENI TRADISIONAL

Sejak lama Fathiah memiliki kecintaan pada seni. Enam tahun menempuh pendidikan di Mesir guna meraih gelar sarjana serta magister untuk bahasa dan sastra Arab di Universitas Al-Azhar, ia juga mendalami kaligrafi Arab.

Ia berguru pada sejumlah maestro ternama. Salah satunya pernah terlibat dalam proyek nasional Mesir, dan ada pula yang mengerjakan karya pesanan khusus bagi keluarga kerajaan Maroko.

Fathiah mengerjakan motif batik kawung yang melambangkan siklus kehidupan dan kematian. (Foto: Fathiah A’bdussamad)

Sekembalinya ke Singapura pada 2013, Fathiah mengajar sekaligus mempraktikkan kaligrafi Arab.

Namun setelah 10 tahun mengajar, ia merasa masih ada celah dalam penguasaan seni tersebut di Singapura. Saat itu pula ia merasa siap menantang diri, mencari cara untuk memperdalam pengetahuan kaligrafi Arab.

“Saya tahu seni bukan sekadar hobi bagi saya. Ini sesuatu yang ingin terus saya pelajari, kuasai, dan ajarkan,” tuturnya.

Keyakinan itu membawanya ke Inggris, tempat yang menurutnya tepat untuk memperluas wawasan dalam kaligrafi Arab. Ia diterima di King’s Foundation School of Traditional Arts, sebuah institusi seni pascasarjana di London.

Fathiah juga memperoleh beasiswa penuh dari Queen Elizabeth II Platinum Jubilee Commonwealth Heritage Skills Training Programme, program yang mendukung anak muda di negara-negara Persemakmuran untuk mengasah keterampilan pelestarian warisan budaya.

MENGOLAH DUKA DAN MENEMUKAN AKAR

Saat memulai studi seni pada 2023, Fathiah awalnya berniat mendalami kaligrafi Arab. Namun, sejumlah peristiwa di semester pertamanya mengubah arah perjalanannya.

Pertama, ia terkejut melihat betapa sedikitnya orang yang memahami warisan budaya Asia Tenggara, bahkan di kalangan sesama seniman. Hanya segelintir yang tahu asal-usul batik, dan banyak yang menganggapnya sekadar ornamen dekoratif.

Fathiah bersama karya seninya yang memadukan kaligrafi Arab dan batik, dipamerkan di The Garrison Chapel, London. (Foto: Fathiah A’bdussamad)

“Saya pun semakin malu ketika menyadari saya sendiri paham sedikit sekali tentang batik dan apa makna di balik motif-motifnya,” ujarnya. “Pengalaman itu rasanya seperti disiram seember air dingin – membuat saya terbangun.”

Kedua, dalam beberapa kelas awal, ia diminta menelusuri asal-usul dan garis keturunannya.

“Para guru dan tutor menekankan pentingnya mengetahui akar kami, dari mana kami berasal,” ungkapnya. “Awalnya saya berpikir, kenapa harus dipersulit? Saya dari Singapura, bukankah cukup jelas?”

Namun ketika ditanya lebih jauh tentang asal-usul orangtua dan kakek-neneknya, barulah ia tersadar: buyutnya berasal dari Indonesia.

“Saat itulah tutor saya menyarankan agar saya mengeksplorasi bentuk seni tradisional dari sana, dan saya jadi kepikiran.”

Selain merefleksikan identitas dan warisan budaya, saat itu Fathiah pun tengah bergulat dengan kehilangan: setahun sebelum berangkat ke London, neneknya meninggal dunia.

Saya pun semakin malu ketika menyadari saya sendiri paham sedikit sekali tentang batik dan apa makna di balik motif-motifnya.”

“Nenek mengajari saya segalanya. Ketika beliau tiada, ada kekosongan besar dalam diri saya. Masih terasa sampai sekarang,” kenangnya. “Saya juga terus teringat batik-batik yang beliau simpan di rumah. Setelah bertahun-tahun, barulah saya mulai bertanya-tanya tentang maknanya.”

“Saya datang ke London untuk memperdalam kaligrafi Arab,” lanjutnya. “Namun, saya justru memulai perjalanan pulang.”

Diliputi rasa kehilangan dan ketertarikan akan batik, ia memutuskan untuk memusatkan energi pada penelusuran asal-usul batik sekaligus belajar membuatnya sendiri.

“Tiba-tiba, studi ini bukan tentang saya saja, melainkan tentang duka saya, tentang nenek saya, warisannya, dan satu kebudayaan utuh, menghubungkan saya ke akar yang nyaris hilang.”

PERJALANAN SPIRITUAL DALAM BATIK

Fathiah pun mengunjungi Jawa, tepatnya Kota Surakarta atau Solo yang penuh sejarah, asal-muasal buyutnya. Di sana, ia bertemu dengan banyak pengrajin batik yang masih setia menjalankan seni tradisional yang menuntut ketelatenan ini.

Motif garuda melambangkan kekuasaan dan kemakmuran, dan dahulu hanya boleh dikenakan oleh kalangan bangsawan. (Foto: Fathiah A’bdussamad)

“Mendatangi kampung batik itu terasa seperti perjalanan spiritual menuju rumah,” ujarnya.

“Saya bisa merasakan sejarahnya, menyadari betapa tempat itu telah menyambut seniman dari generasi ke generasi, dan leluhur saya pun mungkin pernah ada di situ, kalaupun bukan belajar membatik, setidaknya memahami makna pentingnya.”

Dari sana, Fathiah menyadari bahwa batik-batik yang diwariskan kepada ibu dan neneknya bukan untuk dipamerkan.

“Bukan karena mereka serakah atau mau menimbun kain batik,” jelasnya. “Pada pola tiap batik tersimpan harapan bagi penerimanya. Setiap helainya menceritakan kisah dan melantunkan doa.”

Misalnya, motif kawung dengan bentuk ovalnya yang khas melambangkan siklus hidup dan mati. Motif parang curigo, yang menggabungkan elemen parang (dalam bahasa Jawa berarti lereng atau tebing) serta curigo (keris), bermakna kekuatan dan kehormatan. Sementara garuda, makhluk mitologi serupa burung, melambangkan kuasa dan kemakmuran.

“Saya tersadar bahwa sebagian batik yang diterima nenek sebagai hadiah sebenarnya merupakan doa dari si pemberi, atau sebagai pujian bahwa beliau dianggap kuat, bijak dalam memberi nasihat, dan bahwa orang-orang memandang beliau penuh rasa hormat.”

Diiringi air mata, Fathiah menambahkan: “Sebagian batik itu bukan untuk dipakai. Bisa untuk dekorasi atau sekadar kenang-kenangan. Itu cara agar nenek saya tahu bahwa beliau dihormati, sekaligus doa dari si pemberi agar Tuhan melindungi beliau.”

Fathiah bersama Angga Setiawan, seniman batik asal Surakarta yang mengajarinya membuat motif tradisional, termasuk kawung. (Foto: Fathiah A’bdussamad)

Bagi Fathiah, kriya batik adalah seni yang patut dikagumi. Kesan tersebut ia peroleh selama lima hari di Surakarta, ketika ia belajar membuat batik dari dasar di bawah bimbingan Angga Setiawan di Batik Toeli Laweyan, bengkel batik yang dijalankan oleh para pengrajin tuli.

Angga, penyandang tuna rungu wicara, mengajarinya menciptakan pola-pola klasik tradisional dengan menggunakan malam (lilin lebah), pewarna alami, dan berbagai jenis kain.

“Belajar batik membuat saya merasa lebih dekat dengan almarhumah nenek, dan juga semakin rindu,” ucapnya. “Tapi justru duka itulah yang mendorong saya menekuni seni ini dengan sungguh-sungguh, dan tidak menyepelekan satu hal pun.”

Fathiah bersama koleksi sebagian kain batik peninggalan neneknya, yang ia bawa dari Singapura ke London. (Foto: Fathiah A’bdussamad)

Setelah perjalanannya, Fathiah sempat singgah di rumah sebelum kembali ke London. Ia berbincang dengan ibunya mengenai batik yang mereka miliki, lalu meminta untuk melihat kembali batik-batik peninggalan neneknya. Sang ibu menyuruhnya membawa beberapa helai ke London.

“Melihat lagi batik yang sudah saya kenal sejak kecil, saya bisa membaca berbagai pesan, pujian, dan doa dari orang-orang untuk nenek saya,” kenangnya. “Beliau suka membantu, kerap meluangkan waktu dan memberi saran. Beliau membagikan nasihat kepada orang-orang, serta mengundang senyum di wajah siapa pun yang bertemu dengannya.”

Pada pola tiap batik tersimpan harapan bagi penerimanya. Setiap helainya menceritakan kisah dan melantunkan doa."

Fathiah menambahkan: “Rasanya seperti berada di jalur yang diharapkan oleh para leluhur akan saya temukan, yakni mau ke mana pun, kita akan selalu menemukan jalan pulang.”

MEMBAWA BATIK KE PANGGUNG DUNIA SEBAGAI ORANG SINGAPURA

“Menariknya, walau perjalanan batik ini membuat saya lebih sadar akan akar Indonesia saya, hal ini juga membuat saya semakin bangga menjadi orang Singapura,” kata Fathiah.

Saat mengkurasi karyanya untuk pameran di London, ia sengaja menonjolkan identitas Singapura – bukan sebagai kontradiksi, melainkan sebagai perpanjangan dari warisan budayanya. “Hal tersebut menambahkan lapisan lain pada makna menjadi bagian dari kawasan ini,” ujarnya.

Fathiah (pojok kanan bawah) bersama rekan-rekan kuliahnya di London. (Foto: Fathiah A’bdussamad)

Menurutnya, hidup di kota yang serbacepat sering kali membuat kita lupa dari mana kita berasal.

“Kita memburu kemajuan, tapi melupakan kisah-kisah yang membentuk kita. Begitu kita kembali menyadari akar kita, betapapun jauh atau rumitnya, kita akan melihat rumah kita di Singapura dengan cara berbeda,” jelasnya. “Rumah memperoleh makna baru, dan makna itu sangat personal.”

Bagi Fathiah, perannya bukan hanya sebagai seniman, melainkan juga sebagai jembatan budaya yang membantu membentuk Singapura agar tetap menghormati sejarahnya yang berlapis-lapis.

“Saya merasa punya tanggung jawab memberi kontribusi pada seni tradisional di sini, agar semakin hidup dan menghargai keberagaman budaya yang kita miliki.”

Refleksi itu membawanya pada percakapan imajiner dengan para leluhurnya yang dahulu meninggalkan Indonesia.

“Saya tanya mereka: Kenapa pergi? Apa demi hidup yang lebih baik bagi anak keturunan? Jika iya, dan Singapura telah memberikan itu, maka saya harus balas budi kepada tempat yang saya sebut rumah ini.”

Ketika para pengunjung di London bertanya tentang karyanya, ia menjawab bahwa kekuatan Singapura terletak pada multikulturalisme – pada bagaimana berbagai kisah bisa hidup berdampingan dan terus berkembang.

“Multikulturalisme membuat kita lebih kaya; mengingatkan bahwa penduduk asli maupun bukan, kita semua punya kewajiban untuk menghormati tanah asal maupun tanah yang kita tinggali.

“Ketika kita melakukan itu, kita bisa menciptakan hal indah bersama-sama – seperti motif pada batik: terjalin, kompleks, dan penuh makna.”

“Singapura bisa menjadi lebih agung dan lebih utuh apabila semua benang budaya kita terlihat, dihargai, dan dijahit menjadi satu kain kebangsaan.”

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan