Butuh saran kencan? Hati-hati terlalu percaya konten TikTok dan medsos
Konten tentang cinta dan hubungan yang banyak tersebar di medsos memang informatif, tapi jangan ditelan mentah-mentah.
Di era yang serba digital ini, kita bisa dengan mudah menemukan konten yang berisi hal-hal yang informatif, baik tentang karier, makanan, hingga tentu saja, hubungan yang membahas seputar problematika kencan.
Konten semacam ini belakangan banyak diminati oleh kalangan muda, terutama Gen Z, yang kerap kami menghadapi berbagai permasalahan dalam berkencan dan membangun hubungan.
Namun, jika kita menelaah lebih lanjut, tidak semua konten seputar kencan dan hubungan menawarkan solusi yang baik dan benar.
Banyak konten hubungan dan saran kencan yang ternyata menebalkan stereotipe gender yang sudah mengakar di masyarakat.
Contohnya saja, konten seputar hubungan dan kencan yang diperuntukkan untuk perempuan, lagi-lagi hanya membahas seputar kecemburuan: memepertanyakan mengapa pacar lama membalas pesan, atau bagaimana menemukan calon pendamping yang dapat memenuhi semua kebutuhan finansial.
Di sisi lain, bagi para lelaki, konten seputar hubungan dan percintaan justru kerap kali menebarkan pesan maskulinitas beracun (toxic masculinity), mendorong para pria untuk selalu menjadi alpha male yang dominan dan tidak boleh menunjukkan perasaan, dan yang lebih menyebalkan, mendukung hal-hal manipulatif kepada para perempuan, misalnya saja, sengaja menunda balasan pesan.
Selain itu, konten-konten percintaan membuat kia cenderung untuk membandingkan hubungan kita dan pasangan dengan pasangan lain yang seakan selalu bahagia, kompak dan romantis setiap saat.
Paparan konten semacam ini yang masif kita jumpai setiap hari mau tidak mau akan menimbulkan rasa ketidakpuasan atau kekecewaan dalam hubungan kita dan pasangan.
Dalam upaya mengejar validasi eksternal, semacam likes dan komentar teman-teman di media sosial, kita berisiko kehilangan hal-hal yang benar-benar berarti dalam hubungan itu sendiri: koneksi yang tulus dengan pasangan.
Boleh saja mendengar berbagai nasihat soal percintaan dan kencan di media sosial, namun berusalah agar selalu menerapkan pemikiran yang kritis. Bagaimanapun juga, setiap orang mengekspresikan cinta dengan cara yang berbeda.
Pasanganmu boleh jadi memang lama membalas pesanmu, dan menurut konten nasihat percintaan di medsos, hal itu mengindikasikan dia tidak peduli pada perasaanmu, atau dia lebih asyik bertukar pesan dengan orang lain.
Atau mungkin, ia hanya sedang sibuk dan percaya bahwa kamu, sebagai pasangannya, bisa memahami dia.
Terlepas dari apa yang dikatakan para kreator konten di media sosial, gunakan suara hatimu untuk mengenal dan menjalin cinta dengan pasangan.
Karena tentu saja, kamu dan pasanganmu yang menjalani hubungan tersebut, bukan para kreator konten.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.