Rumah sutradara No Other Land digerebek tentara Israel
Istrinya diinterogasi, ponselnya diperiksa, dan keluarganya diserang pemukim bersenjata.
Basel Adra (kiri) dan Yuval Abraham (kanan) berpose dengan Piala Oscar untuk Film Dokumenter Terbaik Oscar untuk No Other Land di Academy Awards ke-97 di Hollywood, Los Angeles, California, A.S., 2 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Mike Blake)
Sutradara Palestina peraih Oscar untuk film dokumenter No Other Land, Basel Adra, mengungkap bahwa rumahnya di Tepi Barat digerebek oleh tentara Israel pada Sabtu (13/9). Dalam peristiwa itu, istrinya, Suha, diinterogasi, sementara ponselnya diperiksa.
Peristiwa itu bermua saat para pemukim Israel juga menyerang desanya dan melukai dua saudaranya serta satu sepupunya. Adra kemudian membawa mereka ke rumah sakit.
Saat masih di rumah sakit, Adra mendapat kabar dari keluarganya bahwa sembilan tentara Israel telah menerobos masuk ke rumahnya.
Para tentara Israel, kata Adra, mencari tahu keberadaannya lewat istrinya dan memeriksa isi ponsel sang istri. Saat itu, putri mereka yang baru berusia 9 bulan juga berada di rumah.
Salah satu pamannya bahkan sempat ditahan sebentar oleh tentara Israel.
Hingga Sabtu malam, Adra mengaku belum bisa kembali ke rumah untuk memastikan kondisi keluarganya karena jalan menuju desa ditutup tentara, dan ia takut akan ditangkap jika mencoba masuk, menurut laporan Euro News.
Militer Israel mengungkapkan penggerebekan tersebut terjadi setelah dua orang Israel terluka akibat lemparan batu di daerah tersebut, seperti dilaporkan The Times of Israel.
Adra merupakan jurnalis sekaligus salah satu sutradara film dokumenter No Other Land yang pada tahun ini memenangkan Piala Oscar untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik.
Film dokumenter No Other Land menggambarkan perjuangan warga Masafer Yatta dalam menolak penghancuran desa-desa mereka oleh militer Israel.
Film ini disutradarai oleh sutradara Palestina, Hamdan Ballal dan Basel Adra, bekerja sama dengan dua sutradara Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor.
Sepanjang kariernya, Adra mendokumentasikan kekerasan para pemukim Israel di wilayah Masafer Yatta, Tepi Barat bagian selatan, tempat kelahirannya.
Salah satu dari empat sutradara film dokumenter ini, Hamdan Ballal, sempat diserang oleh pemukim Israel pada bulan Maret lalu.
Adra mengungkapkan bahwa tekanan terhadap mereka semakin intens sejak film mereka meraih Oscar. Ia menyebut kejadian hari Sabtu itu sebagai pengalaman yang "mengerikan".
"Bahkan ketika kamu hanya merekam aksi para pemukim, tentara akan datang, mengejarmu, dan menggeledah rumahmu," ujar Adra.
"Seluruh sistem ini memang dirancang untuk menyerang kami, menakut-nakuti kami, membuat kami benar-benar ketakutan."
Yuval Abraham, jurnalis asal Israel sekaligus rekan sutradara film dokumenter itu, menyatakan rasa cemasnya terhadap Adra.
"Aku sangat takut untuk Basel," katanya.
"Apa yang terjadi di desanya hari ini, sudah berulang kali kita lihat: pemukim Israel menyerang desa Palestina secara brutal, lalu tentara datang dan malah menyerang warga Palestina."
Israel merebut wilayah Tepi Barat dalam perang Timur Tengah tahun 1967, bersamaan dengan Jalur Gaza dan Yerusalem Timur.
Hingga kini, Israel telah membangun lebih dari 100 permukiman yang dihuni oleh lebih dari 500.000 warga negara Israel. Sementara itu, sekitar 3 juta warga Palestina di Tepi Barat hidup di bawah kekuasaan militer Israel.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.