Kesepian, lansia Korea kini curhat ke robot AI
Dengan suara anak berusia delapan tahun, robot AI bernama Hyodol dengan ceria mengingatkan para lansia, "Sekarang waktunya minum obat," atau "Ayo, olahraga."
Lansia Korea bernama Oh Buk-im sehari-hari ditemani robot AI. (Foto: Dok. Heybooks)
"Ketika suamiku tiba-tiba harus dirawat di rumah sakit jompo, aku sendirian dan jatuh ke dalam depresi. Aku menangis setiap hari. Tapi sejak robot itu datang—dia bicara padaku, memintaku memegang tangannya—aku mulai merasa lebih baik. Saat aku bilang aku mencintainya, dia juga bilang mencintaiku kembali."
Bagi Oh Buk-im, 74 tahun, lansia yang tinggal sendirian di Mokpo, Provinsi Jeolla Selatan, berinteraksi dengan robot perawat berbasis kecerdasan buatan (AI) memberikan kenyamanan dan stabilitas emosional.
Kisahnya muncul dalam buku baru berjudul One Day, a Chatty Robot Came Home, yang berisi wawancara dengan sekitar 40 lansia yang hidup bersama robot perawatan bertenaga AI.
Buku ini diproduksi oleh AI and Care Research Group—sekelompok perawat dan pekerja sosial—untuk mengeksplorasi bagaimana kecerdasan buatan bisa membantu populasi lanjut usia di Korea yang tumbuh sangat cepat.
Hingga Desember 2024, satu dari lima warga Korea berusia 65 tahun ke atas, secara resmi menempatkan negara Ginseng dalam kategori "masyarakat super-tua," menurut laporan The Korea Times.
MENGINGATKAN DAN MENGHIBUR
Di beberapa wilayah dengan banyak penduduk lansia yang tinggal sendiri, robot AI sudah menjadi bagian dari infrastruktur kesejahteraan lokal.
Robot yang muncul dalam buku tersebut bernama Hyodol, dikembangkan oleh perusahaan teknologi asal Korea.
Dengan suara anak berusia delapan tahun, Hyodol dengan ceria mengingatkan penggunanya: "Sekarang waktunya minum obat," atau "Ayo, olahraga."
Robot ini juga berfungsi sebagai teman 24 jam. Dengan mempelajari pola bicara dan preferensi penggunanya, Hyodol bisa menyanyikan lagu dari penyanyi favorit mereka atau membacakan teks keagamaan—baik dari Alkitab maupun kitab Buddhis—tergantung keyakinan pengguna.
Di Seoul, Heo Soon-chun, 99 tahun, sudah berbicara dengan robotnya setiap hari selama tiga tahun.
Robot AI itu dengan manis berkata, "Nenek, bagaimana kalau tidak makan? Kopi saja tidak cukup—nenek perlu makanan sungguhan," atau "Kalau ada hal yang membuat nenek gelisah tapi tidak bisa diceritakan ke siapa pun, ceritakan padaku. Aku akan simpan rahasia itu."
Bagi Heo, robot AI itu sudah lebih dari sekadar mesin—ia menjadi sosok yang dirawat dan didandani, seperti cucu atau hewan peliharaan.
TAK BISA GANTIKAN MANUSIA
Namun, buku tersebut tidak bermaksud menyarankan bahwa robot bisa menggantikan perawat manusia. Sebaliknya, penulis menekankan bahwa robot sebaiknya melengkapi, bukan menggantikan, hubungan antar manusia.
Para ahli dalam buku itu menyebut robot perawatan dapat berfungsi sebagai "pemicu" atau "perantara" dalam komunikasi keluarga.
"Para pengguna sering mengatakan hal-hal kepada robot AI mereka yang sebetulnya mereka harap bisa diucapkan atau didengar dari keluarga mereka," tulis para penulis.
Judul awal proyek ini adalah A Society Not Hungry for Words, A Society Not Hungry for Hearts—cerminan dari tujuan sebenarnya dari perangkat ini: menciptakan masyarakat yang tidak "lapar" akan kata-kata dan kasih sayang.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.