Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Kisah pilu ibu tunggal di balik warung kopi plus-plus Jalur Pantura dalam film Pangku

Dengan sinematografi yang intim, film Pangku mengangkat keberanian perempuan untuk menolak nasib yang sudah digariskan oleh keadaan. 

Kisah pilu ibu tunggal di balik warung kopi plus-plus Jalur Pantura dalam film Pangku

Poster film Pangku, film yang menjadi debut penyutradaraan aktor Reza Rahadian. (Foto: Instagram/@filmpangku)

07 Nov 2025 09:58AM (Diperbarui: 07 Nov 2025 11:56AM)

Sebagai debut penyutradaraan Reza Rahadian, film Pangku menghadirkan kisah getir yang terasa begitu nyata, tentang perempuan yang bertahan hidup di jalur Pantura (pantai utara), di tengah dunia yang tak memberi banyak ruang bagi kelemahan.

Film Indonesia ini menjadi langkah pertama Reza Rahadian sebagai sutradara film panjang di bawah rumah produksinya, Gambar Gerak, dengan deretan aktor papan atas seperti Claresta Taufan, Christine Hakim, dan Fedi Nuril di lini utama.

Film Pangku menelusuri sisi lain jalur Pantura, mengangkat kisah kehidupan di warung kopi yang tampak sederhana, namun menyimpan kisah gelap, luka, dan keberanian seorang ibu muda untuk memulai kembali dari nol.

SINOPSIS FILM PANGKU

Kisahnya berpusat pada Sartika (Claresta Taufan), seorang perempuan muda yang sedang hamil dan memutuskan meninggalkan kampung halamannya demi mencari kehidupan baru yang lebih baik untuk anaknya.

Perjalanan panjang itu membawanya ke Pantura dan bertemu Bu Maya (Christine Hakim), pemilik warung kopi yang tampak ramah dan berjiwa penolong. Bu Maya menampung Sartika, merawatnya hingga proses persalinan tiba. Namun, di balik kebaikan itu ada niat lain yang tersembunyi.

Begitu Sartika melahirkan, Bu Maya memanfaatkan keadaan dan memaksa Sartika bekerja di warung kopi miliknya, tempat di mana pelanggan bukan hanya datang untuk menyeruput kopi, tetapi juga mencari pelukan hangat dan perhatian dari para pelayan.

Di sana, Sartika terjebak dalam praktik "kopi pangku": ia harus melayani pelanggan secara fisik dan emosional.

Awalnya Sartika menolak, tapi tekanan hidup membuatnya tak punya pilihan. Sebagai ibu tunggal, ia bertahan demi membesarkan putra tunggalnya, Bayu (Shakeel Fauzi), sekaligus menjaga sisa harga dirinya yang kian tergerus keadaan.

Potongan adegan dalam film Pangku, menampilkan akting Claresta Taufan dan Fedi Nuril. (Foto: Instagram/@filmpangku)

MENEMUKAN CINTA

Di tengah rutinitas yang menyesakkan, muncul sosok Hadi (Fedi Nuril), sopir truk pengangkut ikan yang sering singgah di warung Bu Maya. Hadi bukan pelanggan biasa — ia melihat Sartika bukan sebagai masa lalu yang kelam, melainkan sebagai seseorang yang pantas dicintai.

Perlahan, hubungan mereka tumbuh dari simpati menjadi harapan. Hadi menawarkan Sartika kehidupan baru, jauh dari lingkaran gelap yang menjeratnya. Dari ketulusan itulah Sartika mulai menemukan keberanian untuk melawan sistem yang selama ini menindasnya.

Ia mulai menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi kepentingan orang lain. Dengan tekad dan keberanian yang tumbuh dari cinta, Sartika berusaha keluar dari kehidupan yang memperbudaknya dan menata masa depan bersama putranya.

Namun, perjuangan mereka tidak mudah. Cinta yang lahir di tengah keputusasaan harus menghadapi kenyataan pahit dan pengorbanan besar demi kebebasan.

Aktor Reza Rahadian debut menjadi sutradara dan salah satu penulis naskah film Pangku. (Foto: Instagram/@filmpangku)

DARI AKTOR MENJADI SUTRADARA

Pangku menandai babak baru dalam karier Reza Rahadian. Setelah dikenal luas sebagai aktor dengan segudang penghargaan, termasuk banyak Piala Citra, kali ini Reza mengambil peran sebagai sutradara dan penulis naskah bersama Felix K.

Reza sebelumnya sudah menjajal kursi sutradara lewat film pendek Sebelah (2011), serial mini Sementara, Selamanya (2020), dan keterlibatannya dalam film antologi Wanita Tetap Wanita (2013).

Namun, film Pangku berdurasi 1 jam 44 menit ini memperlihatkan kedewasaan Reza dalam menyutradarai. Ia memadukan penggambaran sosial yang tajam dengan kedalaman emosional para karakter, menjadikannya karya yang relevan sekaligus menyentuh.

Poster film Pangku, menampilkan akting Claresta Taufan, Fedi Nuril, Christine Hakim dan Shakeel Fauzi. (Foto: Instagram/@filmpangku)

Sebelum tayang di bioskop Indonesia, Pangku sudah lebih dulu menorehkan prestasi di panggung internasional. Film ini meraih empat penghargaan di Vision Awards Busan International Film Festival (BIFF) 2025, yaitu:

  • KB Vision Audience Awards
  • FIPRESCI Awards (Federasi Kritikus Film Internasional)
  • Bishkek International Film Festival – Central Asia Award
  • Face of the Future Award

Capaian tersebut menegaskan bahwa kisah lokal dengan pendekatan emosional dan sosial yang kuat mampu berbicara di kancah global.

Film Pangku dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 6 November 2025.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan