Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Review One Hundred Years of Solitude di Netflix: Kisah kesepian yang memikat

Menggunakan realisme magis, Gabriel García Márquez menenun potongan sejarah Kolombia, termasuk tragedi Banana Massacre pada 1928, dengan mitos kota utopis Macondo, menghasilkan kisah yang absurd namun memikat. 

Review One Hundred Years of Solitude di Netflix: Kisah kesepian yang memikat

Potongan adegan dalam serial One Hundred Years of Solitude yang tayang di Netflix. (Foto: Dok. Netflix)

"Bertahun-tahun kemudian, saat menghadapi regu tembak, Kolonel Aureliano Buendía mencoba mengenang suatu senja yang jauh ketika ayahnya mengajaknya untuk melihat es."

Kalimat tersebut merupakan pembuka dari novel legendaris One Hundred Years of Solitude, atau Seratus Tahun Kesunyian dalam Bahasa Indonesia, karya jurnalis asal Kolombia, Gabriel García Márquez (Gabo).

Kalimat ikonis ini tetap dipertahankan dalam adaptasi serial Netflix yang diangkat dari novel tersebut. 

Kalimat itu kerap disebut ikonis karena secara indah mengaburkan batas antara masa kini, masa lalu, dan masa depan.

Namun, bukan hanya waktu yang kabur, serial ini juga tetap setia pada novel aslinya dengan memadukan elemen realitas dan magis, serta melanggar semua aturan bercerita yang kita kenal.

SINOPSIS

Potongan adegan dalam serial One Hundred Years of Solitude yang tayang di Netflix. (Foto: Dok. Netflix)

Kisah ini mengikuti perjalanan hidup dua sepupu, José Arcadio Buendía (Marco González) dan Úrsula Iguarán (Susana Morales), dalam upaya mereka mencari kebahagiaan sejati.

Melawan restu orang tua mereka, José Arcadio dan Úrsula memutuskan untuk menikah dan meninggalkan desa tempat mereka dibesarkan. 

Bersama sekelompok teman dan petualang, pasangan ini memulai perjalanan panjang, mencari tempat yang dapat mereka sebut sebagai rumah baru.

Perjalanan mereka akhirnya berujung pada pendirian sebuah kota utopis di tepi sungai yang dinamai  Macondo.

Beberapa generasi dari garis keturunan Buendía akan membentuk masa depan kota mitos ini, tersiksa oleh kegilaan, cinta penuh nafsu, perang berdarah, dan kutukan mengerikan yang membuat mereka terperangkap dalam 100 tahun kesunyian.

Kisah ini diceritakan kembali beberapa generasi kemudian, dibacakan dengan lantang dari buku harian seorang gipsi bernama Melquiades (Moreno Borja) yang menjadi tokoh sentral dalam kisah ini. 

DARI KOLOMBIA UNTUK KOLOMBIA

Potongan adegan dalam serial One Hundred Years of Solitude yang tayang di Netflix. (Foto: Dok. Netflix)

Serial ini diadaptasi dari novel berjudul saa yang diterbitkan pada tahun 1967 dan telah terjual lebih dari 50 juta kopi serta diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa.

Adaptasi ini merupakan salah satu produksi paling ambisius dalam sejarah Amerika Latin, difilmkan dalam bahasa Spanyol dan berlokasi di Kolombia, negara asal Gabo. 

Menurut data Netflix, produksi film ini telah menyumbangkan lebih dari 225 miliar peso bagi  perekonomian Kolombia.

Seluruh pemerannya pun merupakan aktris dan aktor dari Kolombia. 

"Menyutradarai proyek ini merupakan sebuah tantangan sekaligus petualangan; dalam hidup, mengambil risiko diperlukan untuk memberi makna pada apa yang kita lakukan," kata Alex García López, yang menyutradarai Episode 1, 2, 3, 7, dan 8, kepada Netflix. 

"Saat menyelami adaptasi Seratus Tahun Kesunyian, saya ingin menciptakan sesuatu yang otentik yang berkualitas produksi internasional, karena ceritanya memang layak untuk itu."

NAMA YANG BERULANG

Potongan adegan dalam serial One Hundred Years of Solitude yang tayang di Netflix. (Foto: Dok. Netflix)

Jujur saja, saya menonton One Hundred Years of Solitude tanpa pernah membaca novelnya terlebih dahulu.

Alasannya cukup sederhana: membaca mahakarya Gabriel García Márquez, yang membuatnya dianugerahi Penghargaan Nobel Sastra pada tahun 1982, terasa menantang. Salah satunya karena banyaknya nama karakter yang terus berulang sepanjang cerita.

Sebagai contoh, tokoh utama, José Arcadio Buendía, memiliki dua putra bernama José Arcadio dan Aureliano Buendía. Tidak berhenti di situ, cucunya diberi nama Arcadio, dan ada pula 17 cucu laki-laki lainnya yang semuanya bernama Aureliano.

Secara keseluruhan, terdapat enam karakter bernama Arcadio dan 22 karakter bernama Aureliano dalam novel ini. Hal ini tentu membuat pembaca bingung, apalagi jika hanya mengandalkan teks tertulis tanpa visualisasi.

REALISME MAGIS

Suasana syuting serial One Hundred Years of Solitude. (Foto: Dok. Netflix)

Selain itu, tema magical realism atau realisme magis yang diusung Gabo juga menambah tingkat kerumitan. 

Otak kita dipaksa bekerja ekstra untuk menangkap makna di balik hal-hal mistis dan ajaib yang dianggap biasa dalam cerita ini.

Bayangkan saja, ada karakter yang setelah memakan cokelat tiba-tiba melayang di udara tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Atau karakter lain yang akan memakan tanah setiap kali merasa stres.

Momen-momen aneh bin ajaib semacam itu terus terjadi tanpa ada metafora yang jelas, apalagi penjelasan mendalam di dalam cerita.

Namun, justru keganjilan inilah yang menjadi daya tarik One Hundred Years of Solitude. 

Perpaduan antara elemen yang absurd dan tema yang melibatkan banyak emosi, seperti kesepian, membuat kisah ini begitu memikat meski penuh teka-teki.

PENOKOHAN YANG KOMPLEKS

Potongan adegan dalam serial One Hundred Years of Solitude yang tayang di Netflix. (Foto: Dok. Netflix)

Salah satu elemen paling menarik dalam One Hundred Years of Solitude adalah penokohan yang begitu kompleks, tidak terduga, dan terkadang membuat frustrasi.

Gabo menciptakan karakter yang tidak bisa didefinisikan dengan mudah. 

Pahlawan bisa berubah menjadi penjahat tanpa alasan yang jelas, sementara tokoh protagonis tiba-tiba menjadi antagonis tanpa latar belakang yang meyakinkan.

Misalnya, seorang pemuda yang tampak baik hati nyaris melakukan tindakan keji dengan memperkosa ibunya sendiri. 

Atau, seorang pria yang dikenal berhati mulia kehilangan sisi kemanusiaannya dan justru menjadi pelaku ketidakadilan yang dulu ia perangi.

Bahkan, kematian para tokohnya pun sering diselimuti misteri. 

Nasib sejumlah karakter dibiarkan tidak jelas, seolah sengaja untuk membuat kita terus bertanya: "Apa artinya semua ini?"

Namun, di balik semua keganjilan ini, serial One Hundred Years of Solitude yang terdiri dari delapan episode tetap memikat, membuat kita sulit berhenti menontonnya.

Salah satu aktor utamanya, Claudio Cataño yang memerankan Kolonel Aureliano, mengatakan kepada Netflix bahwa "suatu kehormatan dan risiko" untuk mengambil peran tersebut. 

Ia merasa menanggung "tanggung jawab yang sangat besar." 

Dia menambahkan, "Macondo dan sejumlah karakternya, yang benar-benar saya rasakan seperti keluarga saya sendiri, bersifat universal, tetapi pada saat yang sama begitu unik; sangat Kolombia, begitu indah dan tragis sehingga mustahil untuk tidak terperangkap di dunia ini."

INTERPRETASI

Potongan adegan dalam serial One Hundred Years of Solitude yang tayang di Netflix. (Foto: Dok. Netflix)

Untuk menghindari kebingungan, izinkan saya membagikan sedikit interpretasi saya terhadap kisah ini.

Menurut saya, Gabo sengaja bermain-main dengan kata-kata, mendorong kita untuk secara aktif menafsirkan ceritanya dari sudut pandang masing-masing.

Latar belakang sejarah juga memainkan peran besar dalam cerita ini. Gabo baru berusia enam tahun ketika tragedi yang dikenal sebagai Banana Massacre atau Pembantaian Pisang terjadi di dekat kampung halamannya di Kolombia pada 5 Desember 1928.

Dalam tragedi tersebut, ribuan pekerja perkebunan pisang dibantai oleh tentara United Fruit Company hanya karena memprotes kondisi kerja yang tidak manusiawi dan upah yang rendah.

Namun, alih-alih hanya menceritakan peristiwa tragis ini secara literal, Gabo menenunnya ke dalam mitos Macondo, desa fiksi dalam novelnya. 

Dengan sentuhan realisme magis, ia memberikan "suara" kepada para korban untuk menyampaikan sisi lain dari kisah ini.

Potongan adegan dalam serial One Hundred Years of Solitude yang memperlihatkan kota utopis Macondo. (Foto: Dok. Netflix)

Realisme magis juga menjadi cara Gabo untuk mengekspresikan rasa frustrasinya terhadap kekerasan yang tak masuk akal.

"Jika kekejaman terlalu sulit untuk dipercaya, mengapa tidak kita kaburkan saja realita yang ada?" Mungkin pemikiran ini yang menjadi inspirasi Gabo ketika menulis kisah ini.

Hasilnya adalah sebuah cerita yang sangat personal namun tetap relevan secara universal. Berat, memang, tetapi juga sangat memikat.

KESEPIAN YANG MEMIKAT

Potongan adegan dalam serial One Hundred Years of Solitude yang tayang di Netflix. (Foto: Dok. Netflix)

Menurut saya, One Hundred Years of Solitude adalah kisah tentang kesepian.

Kesepian yang bisa menghinggapi siapa saja, tidak peduli seberapa banyak cinta, kekayaan, atau ambisi yang kita miliki. 

Kisah ini juga menggambarkan rasa keterasingan — dari realitas, dari orang-orang tercinta, bahkan dari masa depan yang kita kejar dengan begitu gigih.

Meski terdengar pesimistis, kesepian adalah perasaan universal yang pasti dialami semua orang pada titik tertentu kehidupan.

Bagian Pertama serial One Hundred Years of Solitude berisi delapan episode pertama baru saja dirilis, dan Bagian Kedua kini tengah dikembangkan. 

Meski belum ada informasi kapan Bagian Kedua akan dirilis, kita dibuat penasaran dengan kelanjutan kisah penduduk kota mistis Macondo.

Sebagai penutup, izinkan saya mengutip kalimat terakhir dari Bagian Pertama:

"Kita ternyata tidak membebaskan diri dari apa pun, José Arcadio Buendía. Kita justru telah membesarkan seorang monster."

Kalimat ini, menurut saya, sangat tepat untuk mengakhiri sebuah bab yang memikat. 

Serial One Hundred Years of Solitude tengah tayang di platform streaming Netflix sejak 11 Desember 2024. 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan