Review film Hit Man: Siapa sangka, rom-com pembunuh bayaran bisa kocak sekaligus filosofis
Hit Man mampu menjadi sajian yang menghibur, jauh dari kata membosankan, sekaligus filosofis.
Film Hit Man yang saat ini tengah tayang di platform streaming Netflix sejak 7 Juni 2024 menawarkan film drama komedi yang tidak biasa. Alih-alih menjadi romansa klise antara pembunuh bayaran dan kliennya, Hit Man menawarkan sajian romansa thriller yang menghibur, penuh adegan dan dialog yang kocak, sekaligus filosofis.
Hit Man mengisahkan tentang Gary Johnson (Glen Powell), profesor filsafat dengan pembawaan yang lembut. Namun, di sela-sela kagiatannya mengajar, ia merangkap sebagai pembunuh bayaran palsu untuk kepolisian New Orleans, Amerika Serikat.
Tugasnya adalah untuk memastikan bahwa para klien, yang menghubungi dirinya untuk menghabiskan nyawa orang lain, benar-benar merencanakan kejahatan pembunuhan, dan oleh karena itu dapat ditangkap.
Dalam menjalankan tugasnya, Gary kemudian bertemu dengan klien perempuan bernama Madison (Adria Arjona), yang memintanya menghabisi nyawa suaminya. Alur cerita selanjutnya tentu mudah ditebak: Gary jatuh hati kepada Madison, sembari terus berpura-pura sebagai seorang pembunuh bayaran.
Sampai kisah cinta yang tidak biasa ini membawa kerumitan tersendiri dalam hubungan mereka berdua.
KELAM NAMUN MENGHIBUR DAN FILOSOFIS
Dilihat dari sinopsisnya yang biasa-biasa saja, kita bisa saja berpikir ini akan menjadi film rom-com yang berfokus pada seorang pembunuh bayaran palsu yang jatuh cinta pada kliennya. Kisah yang dapat dikatakan mudah ditebak dan membosankan.
Namun, senang sekali ketika perkiraan itu meleset. Siapa sangka, Hit Man nyatanya mampu menjadi sajian yang menghibur, jauh dari kata membosankan, sekaligus filosofis.
Hal ini, tentu saja, berkat andil besar sang sutradara Richard Linklater, yang terkenal akan film-film penuh makna seperti Boyhood dan Before Midnight. Selain sebagai sutradara, Linklater juga menulis skrip bersama sang aktor utama, Glen Powell.
Kolaborasi yang tidak biasa ini menghasilkan sajian komedi thriller dengan dialog yang filosofis semacam, "Bagaimana jika dirimu hanyalah sebuah konstruksi? Bahwa diri kita tidak lebih dari sebuah pribadi yang terbentuk dari lingkungan tempat kita tinggal, dan orang-orang terdekat."
Tidak dalam setiap rom-com rasanya kita dapat mendengar dialog yang mendalam semacam itu.
Linklater dan Powell juga menamburkan banyak representasi dari teori dasar psikoanalisis, yang terkenal dengan trilogi id-ego-superego, dalam setiap keberlanjutan kisah cinta antara Gary dan Madison.
Hal ini utamanya terlihat jelas dari kepribadian Gary yang dapat terus berubah, menyesuaikan dengan klien yang meminta jasanya untuk membunuh orang.
Ketika bertemu dengan satu klien, Gary bisa tampil necis dengan setelan jas dan dasi. Di lain hari ketika bertemu klien lainnya, Gary mudah saja mengubah penampilannya menjadi macho, anak motor, atau pemuda tampan yang atletis.
Semua bisa ia sesuaikan, tergantung riset akan latar belakang kliennya. Adengan-adegan semacam ini tidak pernah gagal memicu gelak tawa.
Di tangan sutradara dan penulis lain, Hit Man bisa saja menjadi film klise yang membosankan dengan balutan thriller di sana-sini yang hanya menjadi pemanis.
Namun, di tangan yang tepat, film ini rupanya membuktikan bahwa rom-com bisa juga kelam sekaligus filosofis.
Dapatkan informasi menarik lainnya dengan bergabung di WhatsApp Channel CNA.id dengan klik tautan ini.