EXO comeback tanpa CBX lewat 'Reverxe', album paling jujur tentang identitas mereka
Album kedelapan ini lahir di tengah konflik, absensi tiga vokalis utama, dan ekspektasi publik yang terbelah.
Grup K-pop EXO merilis album studio kedelapan mereka, Reverxe, pada Senin, 19 Januari 2026. (Foto: Instagram/@weareone.exo)
Grup K-pop papan atas EXO merilis album terbaru mereka, Reverxe, pada Senin (19/1), dengan lagu utama berjudul "Crown". Reverxe, album studio kedelapan EXO, menjadi comeback yang dibentuk oleh perpaduan antara antisipasi dan ketidakpastian.
Album ini diumumkan di tengah konflik hukum yang masih berlangsung antara SM Entertainment dan subunit EXO-CBX yang beranggotakan Chen, Baekhyun, dan Xiumin, terkait persoalan kontrak dan pembayaran.
Karena itu, banyak penggemar awalnya memperkirakan Reverxe akan menjadi comeback full group pertama EXO dengan sembilan anggota, setelah mereka menyelesaikan masa wajib militer pada September 2025.
Namun, album ini akhirnya dirilis tanpa kehadiran tiga anggota tersebut, dua di antaranya merupakan vokalis utama EXO, Chen dan Baekhyun, serta Xiumin yang selama ini menjadi tulang punggung harmoni khas grup tersebut. Ketidakhadiran mereka hampir pasti memengaruhi cara album ini didengar dan dirasakan.
Enam anggota yang tersisa memilih untuk tetap melangkah maju dan menghadirkan sebuah album yang menguliti lapisan demi lapisan identitas EXO sendiri, mulai dari kekuatan vokal, dunia cerita teatrikal, hingga kekompakan yang telah lama menjadi ciri khas mereka.
Hampir 14 tahun sejak debut, EXO masih mampu bertahan di tengah arus tren yang terus berubah dan situasi yang tak selalu ideal.
Mereka memperkuat musikalitas khas mereka yang membentuk mereka sejak awal, sekaligus mendistribusikan ulang peran dan melampaui posisi resmi masing-masing anggota.
Para member yang berperan sebagai rapper memperkaya melodi, sementara mereka yang menjadi vokalis bereksperimen dengan delivery yang lebih ritmis.
Meskipun terasa berbeda tanpa tiga anggota, album ini tetap mengukuhkan EXO sebagai grup vokal yang serba bisa.
LAGU CROWN
Kemampuan beradaptasi itu paling terasa di lagu utama, Crown. Dibuka dengan verse yang langsung melekat dari rapper Chanyeol, lagu dance yang nge-beat ini dengan berani mengaburkan batas antar genre.
Nada bass yang berat, nada tinggi, dan vocal belt berpadu dalam gaya khas EXO.
Lapisan vokal DO dan Suho di bagian bridge berhadapan dengan rap intens dari Chanyeol dan Sehun, sementara vokal pendukung Kai dan Lay mempertegas cita rasa EXO yang sudah sangat dikenal.
Dari sisi visual, video musik Crown semakin menghidupkan kembali kisah tentang kekuatan super dan semesta paralel yang diangkat EXO sejak masa debut.
Secara lirik, lagu ini menyamakan sebuah eksistensi berharga dengan mahkota yang diperebutkan banyak orang, dan berikrar untuk melindunginya sampai akhir. Sebuah metafora yang terasa sangat relevan dengan kondisi EXO saat ini.
LAGU BALAD HINGGA FUSION POP
Jika lagu Crown menjadi penegasan musikalitas grup ini, lagu Back It Up justru merupakan lagu futuristik yang lebih berani.
Pertama kali diperkenalkan di Melon Music Awards pada 20 Desember 2025, lagu ini sempat memecah opini penggemar soal arah musiknya yang dinilai lebih agresif.
Lagu ini dibangun di atas bass yang berat, chorus yang lantang dan ritmis, serta lanskap suara ala video game, lengkap dengan efek laser dan suara terdistorsi yang berteriak "Shot!".
Di luar single utama, Reverxe juga menjelajah ragam lagu dance, R&B, dan fusion pop yang membangun pengalaman mendengarkan yang atmosferik.
Lagu Suffocate menjadi salah satu yang menonjol, memadukan groove yang tertahan dengan vokal sensual dan terkontrol. Bahkan di sini, giliran Sehun di bagian bridge melodis kembali menegaskan fokus EXO pada performa vokal yang menyeluruh dan unik, terlepas dari posisi resmi anggota.
Sementara Moonlight Shadows, lagu terpendek di album ini, menghadirkan momen sinematik yang halus. Vokal R&B dengan tekstur synth yang kaya dan denyut elektronik yang lembut menjadikannya lagu yang pas untuk didengarkan di tengah malam.
Lagu-lagu yang lebih lugas seperti Crazy, Back Pocket, dan Touch & Go membawa energi dan variasi, namun terasa kurang menonjol.
Salah satu kejutan terbesar datang dari Flatline, lagu pop-rock mid-tempo yang terdengar seperti langsung keluar dari drama Korea. Melodi gitar akustik dan synth misterius menciptakan nuansa euforia yang sinematik, sementara liriknya menyamakan hidup dengan pelayaran di lautan, dan menggambarkan soulmate sebagai pemandu arah yang penuh cahaya.
Album ini ditutup dengan lagu yang selembut pembukanya yang penuh daya tarik, I'm Home. Balada pop minimalis ini dilapisi melodi piano dan string yang halus. Ketidakhadiran CBX sangat terasa, terutama mengingat kontribusi besarnya dalam balada EXO sebelumnya.
Pemimpin EXO, Suho, mengungkapkan dalam showcase pasca-rilis bahwa grup ini akan memulai tur pada April, bertepatan dengan ulang tahun ke-14 mereka. Belum diketahui berapa banyak anggota yang akan ikut serta dalam tur tersebut.
Untuk saat ini, album Reverxe menegaskan satu hal: mahkota EXO bukan sesuatu yang mudah direbut.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.