Raffi Ahmad ingin ganti tagar #KaburAjaDulu jadi #PergiMigranPulangJuragan
Utusan Khusus Presiden ini mengusulkan mengubah narasi agar lebih positif, serta mencerminkan semangat merantau untuk mencari pengalaman dan kembali ke Tanah Air dengan lebih mapan.
Presenter Raffi Ahmad. (Foto: Instagram/@raffinagita1717)
Tagar #KaburAjaDulu tengah ramai diperbincangkan di media sosial sebagai bentuk kekecewaan masyarakat, terutama generasi muda, terhadap kebijakan pemerintah dan kondisi sosial-ekonomi dalam negeri.
Banyak dari mereka yang merasa kesulitan mencari pekerjaan hingga mempertimbangkan untuk meninggalkan Indonesia demi kehidupan yang lebih baik di luar negeri.
Sejumlah warganet bahkan membagikan video keberangkatan mereka di bandara dengan menyertakan tagar tersebut sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak pada rakyat.
Fenomena ini mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk penyiar Raffi Ahmad, yang kini menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni.
Menanggapi viralnya #KaburAjaDulu, Raffi mengusulkan untuk mengubah narasi agar lebih positif.
PERSPEKTIF BARU
Raffi Ahmad menyatakan bahwa tren ini sebaiknya diarahkan ke hal yang lebih konstruktif.
Ia mengusulkan perubahan tagar menjadi #PergiMigranPulangJuragan, yang menurutnya mencerminkan semangat merantau untuk mencari pengalaman dan sukses sebelum kembali ke tanah air sebagai sosok yang lebih mapan.
"Dengan hashtag adanya tadinya kabur aja ini, kita harus membuatnya menjadi vibes yang lebih positif. Kita nanti akan menyuarakan hashtag yang lebih baik, yaitu Pergi Migran Pulang Juragan. Nah, itu kan vibes-nya lebih positif," ujar Raffi Ahmad, dikutip dari InsertLive.
Namun, usulan ini justru menuai reaksi negatif dari sebagian warganet yang menilai perubahan tersebut mengabaikan keresahan yang melatarbelakangi viralnya #KaburAjaDulu.
Banyak yang menganggap bahwa masalah utama yang perlu diatasi bukanlah mengubah perspektif, melainkan memperbaiki kondisi dalam negeri agar masyarakat tidak perlu berpikir untuk pergi.
"Mau dibungkus positif pun, tetap aja esensinya rakyat pengen kabur dari Indonesia gara-gara kebijakan yang absurd," tulis salah satu warganet di media sosial, dikutip dari CNN Indonesia.
MIGRASI LEBIH BAIK
Sementara itu, Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) turut merespons fenomena ini dengan menggandeng Raffi Ahmad serta sejumlah influencer untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya jalur migrasi yang aman dan prosedural.
Menurut laporan Tempo, Menteri KP2MI, Abdul Kadir Karding, menegaskan bahwa tren ini bisa menjadi masukan berharga bagi pemerintah untuk memahami aspirasi generasi muda.
"Jadi, menurut saya, Pak Utusan Khusus, #KaburAjaDulu ini harus kita dorong untuk lebih produktif. Lebih produktif bagi yang bersangkutan, bagi keluarganya, dan juga bagi negara kita,” ujar Karding dalam pertemuan dengan Raffi Ahmad dan para influencer pada Rabu (19/2).
Ia menambahkan bahwa bekerja di luar negeri bukanlah sesuatu yang buruk, tetapi harus dilakukan dengan persiapan yang matang.
Hal ini mencakup pemahaman terhadap regulasi, keterampilan yang memadai, serta kesiapan mental dan fisik agar tidak mengalami kesulitan di negeri orang.
Tak hanya dari KP2MI, fenomena #KaburAjaDulu juga mendapat perhatian dari Kementerian Luar Negeri.
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia-Badan Hukum Indonesia (PWNI-BHI), Yudha Nugraha, menilai bahwa meningkatnya angka migrasi bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merupakan fenomena global yang perlu dikelola dengan baik.
"Merupakan tanggung jawab negara bila ada warganya ingin bermigrasi ke luar negeri. #KaburAjaDulu berpotensi dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk menawarkan migrasi secara ilegal," jelas Yudha, dikutip dari Kompas.
Dalam diskusi terkait fenomena ini, Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, juga menilai bahwa #KaburAjaDulu merupakan bentuk autokritik terhadap kebijakan pemerintah dan kondisi ketenagakerjaan di Indonesia.
Ia menekankan perlunya langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat agar tidak ada lagi dorongan besar untuk meninggalkan tanah air.
Sebagai tindak lanjut dari tren ini, KP2MI mengusulkan untuk mengubah tagar menjadi #AyoKitaBekerjaDiLuarNegeri guna mendorong migrasi yang lebih terstruktur dan legal.
Menurut data KP2MI, terdapat sekitar 1,3 juta permintaan tenaga kerja dari luar negeri, dengan lebih dari 100 ribu jenis pekerjaan yang tersedia. Namun, Indonesia baru bisa memenuhi sekitar 200 ribu tenaga kerja.
Untuk itu, pemerintah berencana meningkatkan program pelatihan keterampilan dan sosialisasi mengenai prosedur migrasi yang aman agar para pekerja migran bisa mendapatkan pekerjaan yang layak serta menghindari risiko bekerja secara ilegal.
"Jadi, teman-teman generasi muda, Gen Z, dan sebagainya yang pengen ke luar negeri, kita ubah hashtag ini menjadi hashtag yang lebih produktif, Ayo Kita Bekerja di Luar Negeri saja," kata Karding.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.