Profil Andhika Sudarman, alumni Harvard diduga lakukan pelecehan seksual di program SejutaCita
Saat mengikuti program SFL yang didirikan oleh penerima beasiswa LPDP lulusan Harvard itu, peserta mengaku menerima komentar tak pantas bernada seksual.
Profil Andhika Sudarman, alumni Harvard dan founder SejutaCita Future Leaders (SFL). (Foto: Instagram/@andhikasudarman_)
Sejumlah peserta program SejutaCita Future Leaders (SFL) mengungkap dugaan pelecehan seksual yang mereka alami dalam rangkaian kegiatan, dan menyebut nama founder SFL, Andhika Sudarman (AS), sebagai pelaku. Pengakuan para peserta itu dipublikasikan melalui media sosial dan memicu klarifikasi dari yang bersangkutan.
SejutaCita Future Leaders (SFL) merupakan program pengembangan untuk pelajar dan mahasiswa. Isu dugaan pelecehan dan persoalan teknis dalam program SFL ramai diperbincangkan di media sosial sejak akhir Februari 2026.
Sejumlah peserta membagikan pengalaman mereka melalui akun Instagram @matchagreen1001, mulai dari keluhan teknis hingga dugaan interaksi yang dinilai tidak pantas dalam sesi mentoring.
KELUHAN PESERTA
Dalam unggahan @matchagreen1001, peserta menceritakan pengalaman mereka mengikuti student trip SFL ke Beijing dan Shanghai. Pada tahap seleksi, peserta disebut membayar biaya Rp99.000 per cabang seleksi. Dari seluruh peserta, hanya tiga orang yang memperoleh status fully funded, sementara lainnya berstatus partially-funded atau self-funded.
Peserta yang dinyatakan lolos diarahkan mengikuti sesi Zoom dan diminta mengisi formulir konfirmasi. Namun, muncul klaim bahwa konfirmasi pembayaran tidak diproses sesuai janji 1x24 jam sehingga peserta harus melakukan follow up berulang kali.
Saat program berlangsung, peserta dibagi ke beberapa divisi seperti Travel & Itinerary, Perlengkapan, serta Bonding & Dokumentasi. Namun, sejumlah peserta mengaku tetap diminta menyusun sendiri itinerary perjalanan luar negeri tersebut. Ada pula keluhan terkait pembatalan kunjungan ke salah satu universitas ternama yang sebelumnya disebut akan dikunjungi.
Sorotan lain muncul soal pembagian penerbangan menjadi dua kelompok, kondisi hotel di Beijing yang dinilai kurang memadai, hingga konsumsi yang dianggap tidak jelas meski dalam surat komitmen tertulis adanya anggaran tiga kali makan per hari.
Perjalanan menggunakan kereta cepat dari Beijing ke Shanghai juga dipermasalahkan karena perubahan tiket mendadak membuat peserta harus berdiri sekitar empat jam.
DUGAAN PELECEHAN SEKSUAL
Isu paling serius berkaitan dengan sesi mentoring yang dipandu sang founder SFL, Andhika Sudarman. Sejumlah peserta mengaku menerima komentar yang dinilai tidak pantas, mulai dari pembahasan fisik, pilihan berpakaian, relasi romantis, hingga candaan bernuansa seksual.
Mentoring disebut berlangsung sampai larut malam dan dianggap tidak relevan dengan pengembangan akademik maupun karier sesuai harapan awal.
Peserta menyampaikan kekecewaan karena program yang diharapkan menjadi wadah pengembangan kepemimpinan dan wawasan global justru meninggalkan pengalaman yang dinilai tidak profesional serta menimbulkan rasa tidak nyaman.
SIAPA ANDHIKA SUDARMAN?
Andhika Sudarman dikenal sebagai figur muda dengan pencapaian akademik yang menonjol. Berdasarkan profil LinkedIn miliknya, Andhika menempuh pendidikan sarjana hukum di Universitas Indonesia sebelum melanjutkan Master of Laws (LL.M.) di Harvard Law School melalui beasiswa LPDP.
Selama berkuliah di Harvard, ia menerima Dean’s Award for Community Leadership serta terpilih sebagai Class Marshal Elect HLS Class of 2020.
Ia juga aktif di berbagai organisasi mahasiswa, termasuk komunitas mahasiswa Asia Pasifik dan Indonesia di Harvard.
Selain itu, Andhika pernah terlibat dalam forum kepemudaan internasional seperti One Young World dan berpartisipasi dalam Harvard National Model United Nations.
Sepulang dari Amerika Serikat, ia membangun sejumlah perusahaan rintisan. Ia tercatat sebagai Founder & CEO SejutaCita Future Leaders (SFL), Founder & CEO Dealls, serta Founder & CEO KantorKu HRIS.
Melalui entitas tersebut, Andhika dikenal sebagai entrepreneur di sektor education technology dan human resource technology yang menyasar generasi muda Indonesia.
Ia juga menulis buku pengembangan diri dan pendidikan, antara lain berjudul Kitab Suci Kuliah, dan Masuk PTN itu Gampang?, yang ditujukan untuk pelajar dan mahasiswa.
KLARIFIKASI ANDHIKA SUDARMAN
Menanggapi isu yang beredar, Andhika menyampaikan pernyataan resmi melalui akun Instagram @andhikarsudarman_. Ia mengakui bahwa persoalan tersebut merupakan isu serius yang memicu kekhawatiran banyak pihak.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada peserta, alumni, orang tua, dan pihak lain yang merasa tidak nyaman.
Terkait gaya komunikasinya, Andhika menyebut bahwa cara penyampaiannya bisa saja menimbulkan salah tafsir dan ketidaknyamanan bagi sebagian orang. Ia pun menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada mereka yang merasa terdampak.
Namun, ia membantah tudingan pelecehan seksual. Dalam klarifikasinya, ia menegaskan, "Saya tidak pernah melakukan, ataupun berniat melakukan pelecehan seksual terhadap siapa pun, apalagi terhadap anak di bawah umur."
Ia juga menyatakan siap menjalani proses klarifikasi dan membuka ruang verifikasi independen atas seluruh tuduhan yang beredar.
Untuk menjaga objektivitas, pengelolaan program SejutaCita Future Leaders disebut telah dialihkan kepada pimpinan lain, yakni Geraldine Abigail, sebagai bagian dari evaluasi tata kelola.
Andhika turut mengundang institusi pihak ketiga yang independen dan kredibel untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap tuduhan tersebut.
Selain itu, ia membuka ruang komunikasi bagi siapa pun yang ingin menyampaikan klarifikasi secara langsung dan menyatakan komitmen melakukan pembenahan agar program ke depan berjalan lebih aman dan profesional.
Hingga kini, isu tersebut masih berkembang di media sosial dan belum ada keterangan lebih lanjut mengenai proses hukum.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.