Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Kemeja Oxford hingga tweed Chanel: Tren laki-laki pakai busana perempuan makin populer

Fashion perempuan sudah lama terinspirasi dari busana laki-laki, seperti boyfriend jeans dan kemeja oversized. Kini, tren itu mulai berbalik.

Kemeja Oxford hingga tweed Chanel: Tren laki-laki pakai busana perempuan makin populer

Seleb seperti G-Dragon, Win Metawin, Felix dari Stray Kids, dan Wang Yibo membuktikan bahwa mutiara, perhiasan, dan kain tweed bisa tampil sangat maskulin. (Foto: Instagram/Xxxibgdrgn, winmetawin, louisvuitton, zibo.w_85; Ilustrasi: CNA/Chern Ling)

Tahun lalu, satu kemeja Oxford sederhana hasil kolaborasi JW Anderson dengan Uniqlo mendadak viral. Meski bagian dari lini busana perempuan, dengan potongan cropped dan boxy, perpaduan katun-rayon yang rapi, serta siluet longgar yang jatuh sempurna, kemeja itu menuai pujian dari kreator fashion lintas gender.

Para pria mulai memburunya, membuktikan bahwa potongan yang tepat dapat membuat outfit apa pun dapat dikenakan lintas gender.

Uniqlo Singapore merupakan salah satu yang ikut menangkap tren tersebut, merilis video TikTok menampilkan pasangan yang mengenakan kemeja Oxford serasi dalam unggahan jenaka bertajuk "lebih keren dipakai siapa?".

Influencer fesyen asal Australia, Joe Fletcher, nimbrung melalui video dirinya mencoba kemeja itu dan menanggapi para pengkritik secara langsung: "Kalau kamu cowok yang protes dan bilang ini kemeja perempuan, jangan pakai kemeja cropped dan sebagainya – aku justru malu karena sikapmu, man."

Kesimpulannya? Ia suka potongan pakaian tersebut. "Kemeja ini stylish dan sangat versatile," tambahnya.

Momen itu terasa simbolis. Bahkan di era fesyen yang kian lintas-gender, perempuan yang mengenakan pakaian pria – seperti boyfriend jeans dan kemeja kedodoran – selalu lebih mudah diterima dibandingkan pria yang mengenakan pakaian perempuan.

Namun, batas ini kini mulai memudar. Semakin banyak pria yang memilih rajutan longgar, jaket cropped, dan perhiasan yang awalnya dirancang untuk perempuan.

Sebagian pergeseran ini berawal dari rasa frustrasi. Outfit pria, dengan segala presisinya, kadang terasa terlalu kaku. Sebaliknya, busana perempuan menawarkan ruang eksplorasi lebih luas terkait proporsi, tekstur, dan warna.

"Outfit pria memiliki pendekatan desain tertentu yang mungkin terasa membatasi bagi mereka yang lebih suka bereksperimen," kata Rio Furqan Saini, direktur kreatif Major Minor Agency dan BBTBC Studio yang memproduksi berbagai kampanye fesyen.

"Outfit perempuan cenderung lebih ekspresif, lebih berani mendobrak batas."

FAKTOR SELEB

Makin banyak seleb pria yang piawai menggabungkan busana perempuan ke dalam gaya berpakaian mereka.

Lihat saja G-Dragon, yang sudah lama menjadi brand ambassador Chanel, yang menjadikan tweed dan perhiasan khas rumah mode tersebut sebagai bagian dari gaya pribadi. Pencapaian itu tidak sederhana, mengingat Chanel tidak memiliki lini busana pria resmi.

Dalam tur dunia terbarunya, Ubermensch World Tour, ia tampil mengenakan setelan Chanel dengan bordir kristal, lengkap dengan bros perhiasan mewah.

Rekan G-Dragon sesama brand ambassador Chanel, Wang Yibo, mengambil pendekatan serupa dengan mengenakan koleksi busana perempuan dari merek tersebut dalam sesi editorial maupun penampilan televisi.

Pada peragaan Chanel Musim Gugur 2025, ia mencuri perhatian dengan jaket tweed hitam yang dipadukan dengan kalung perak dan mutiara – contoh sempurna dari gaya elegan yang melampaui batas gender.

 

Bintang K-pop Yeonjun dari TXT juga menarik perhatian karena secara terbuka berbicara tentang kecintaannya pada rok dan rutin mengunggah foto diri mengenakannya di Instagram.

Dalam salah satu unggahannya, ia menulis: "Nyaman banget. Pria juga bisa pakai rok."

Di luar Asia, musisi seperti A$AP Rocky dan Harry Styles terus memperluas batasan busana pria.

Rocky menjadikan mutiara dan tas tangan quilted sebagai ciri khas penampilannya di karpet merah, sementara sampul Vogue pada tahun 2020 menampilkan Styles mengenakan gaun Gucci, mengukuhkan statusnya sebagai ikon utama fesyen yang lintas-gender.

Koleksi Acne Studios SS26. (Foto: Dok. Acne Studios)

MENGAPA BUSANA PRIA SAJA TAK CUKUP?

Di luar deretan panjang kemeja boxy dan celana berpotongan lurus, busana pria menawarkan pilihan siluet terbatas bagi pria yang mencari sesuatu yang ekspresif atau memiliki struktur. Setelan klasik mungkin akan selalu relevan, tetapi jarang menghadirkan kejutan.

Sebaliknya, busana perempuan membuka lebih banyak kemungkinan. Celana panjang hadir dalam bentuk lebar, berlipit, flared, menggembung, atau meruncing.

Jaket perempuan tersedia dalam model cropped, gombroh, deconstructed, atau menonjolkan garis pinggang.

Bagi pria yang mencari outfit yang tidak membosankan – atau sekadar potongan busana yang sesuai dengan tubuhnya – rak busana perempuan kerap kali menawarkan berbagai pakaian menarik yang tak tersedia di bagian busana pria.

Itulah yang membuat Louis Zhang, seorang pemasar, tertarik kepada koleksi denim perempuan dari Levi’s dan Uniqlo. "Aku cenderung pendek, dan jeans perempuan lebih cocok buatku — terutama mom jeans yang potongannya lebih longgar," ujarnya.

"Pilihan warnanya juga lebih banyak, termasuk model berpinggang tinggi." Keluhannya hanya satu: "Kantongnya terlalu kecil."

Bagi pria yang mencari outfit yang tidak membosankan – atau sekadar potongan busana yang sesuai dengan tubuhnya – rak busana perempuan kerap kali menawarkan berbagai pakaian menarik yang tak tersedia di bagian busana pria."

Dua pakaian yang paling sering dikenakan Furqan secara teknis merupakan busana perempuan: jaket vintage Margiela 0 dari era Galliano yang ia sukai karena potongan boxy dan motif beraninya, serta celana pendek wol berlipit dari Ami Paris yang serupa rok.

Keduanya hadirkan lenggok dan daya tarik tersendiri dalam gaya berpakaiannya sehari-hari. "Keduanya pakaian yang dirancang untuk perempuan, tetapi lebih cocok buatku dibandingkan apa pun yang bisa kutemukan di lini busana pria," ujarnya.

Daya tarik lainnya terletak pada proporsi. Garis-garis lurus pada busana pria kerap dirancang untuk memenuhi gambaran sempit tubuh atletis, sementara busana perempuan mendorong eksperimen terkait garis pinggang, volume, dan jatuhnya kain. Hal ini memungkinkan pria bermain dengan keseimbangan tampilan tanpa terlihat seperti sedang mengenakan kostum.

Lalu urusan detail: bordir, lipit, sentuhan metalik, serta warna-warna yang lebih berani – semua lebih mudah ditemukan dalam busana perempuan, mengubah penampilan dari sekadar seragam menjadi lebih personal.

"Aku memperhatikan detail," kata Akmal Azilah, desainer grafis yang kerap berbelanja di bagian pria maupun perempuan.

"Ujung berlipit atau warna tidak terduga bisa mengubah keseluruhan penampilan. Kurasa banyak pria mulai menyadari bahwa simpel itu tak harus membosankan."

MULAI DARI AKSESORI

Bagi banyak pria, langkah pertama menuju busana perempuan bukanlah pakaian, melainkan aksesori – bros yang disematkan pada kerah jas, untaian mutiara yang mempermanis kaus, atau tas bahu kecil berpadu setelan dengan potongan gombroh yang selama ini terkenal maskulin. 

Aktor Singapura Nick Teo mengakui pengalaman pertamanya "meminjam" dari dunia busana perempuan datang melalui istrinya, aktris Hong Ling.

"Tadinya aku tidak punya banyak [aksesori], jadi aku colong terus punya dia," ujarnya kepada CNA.

"Bahkan bagi pria, kita bisa mengenakan sesuatu yang lebih feminin dalam hal aksesori. Barang pertama yang kupinjam dari dia adalah cincin bertabur kristal."

Bagi banyak pria, langkah pertama menuju busana perempuan bukanlah pakaian, melainkan aksesori."

Merek-merek mewah pun menyadari pergeseran ini. Pada 2024, Louis Vuitton meluncurkan lini perhiasan mewah pertamanya untuk pria, Les Gastons Vuitton.

Ditujukan terutama bagi konsumen pria, direktur artistik jam tangan dan perhiasan Francesca Amfitheatrof mengatakan koleksi tersebut "juga dibuat untuk perempuan" – menunjukkan semakin cairnya batas dalam pengkategorian busana.

Sementara itu, koleksi Lock dari Tiffany & Co yang terinspirasi dari perangkat keras industri, serta bros kristal dari Dior Men, mengaburkan batas antara perhiasan maskulin dan feminin. 

Bagaimanapun, aksesori yang keren tidak hanya soal gender semata – melainkan soal sikap.

MENUJU DESAIN INKLUSIF

Di panggung peragaan, semakin banyak merek yang lintas gender. Koleksi Musim Semi 2026 Ludovic de Saint Sernin memadukan renda dan korset khasnya dengan sutra yang luwes serta payet – dikenakan bergantian oleh model pria dan perempuan – menantang gagasan tentang pakaian yang bergender.

Acne Studios mengambil pendekatan lebih subtil melalui tailoring androgini bernuansa muram namun elegan: blazer suede dan jaket kulit dengan detail jahitan whipstitch yang terasa tegas sekaligus sensual.

Koleksi Ludovic de Saint Sernin SS26. (Foto: Dok. Ludovic de Saint Sernin)

Di tingkat komersial, gagasan yang sama meresap ke pasar luas. "Uniqlo U dan koleksi seperti JW Anderson serta Uniqlo C selalu punya banyak item non-gender yang menarik, dari celana sampai jaket," kata Furqan.

Bagi banyak orang, di sinilah eksperimen terasa tidak terlalu mengintimidasi: terjangkau, mudah diakses, dan tanpa tekanan risiko khas dunia fesyen kelas atas.

"Pakaian non-gender dan uniseks sepatutnya jadi norma budaya,” tambahnya. “Ini 2026 – mari berhenti membuat batasan."

Koleksi Musim Gugur Uniqlo C 2025. (Foto: Dok. Uniqlo)

3 ITEM BUSANA PEREMPUAN LAYAK JAJAL

CELANA BALON (BALLOON PANTS)
 

"Celana ini nyaman, memiliki struktur, dan menyeimbangkan proporsi tubuh dengan apik," kata Furqan, sembari menilai gaya ini cocok untuk hampir semua bentuk tubuh.

Pada tubuh lebih tinggi, volumenya jatuh secara elegan; sementara pada tubuh lebih pendek, potongan pinggang tinggi memberikan kesan kaki jenjang. 

Ia merekomendasikan atasan simpel, seperti jaket cropped atau kaus yang dimasukkan ke dalam celana, dan sneakers atau loafers melengkapi penampilan sederhana.

JAKET CROPPED BERSTRUKTUR

Gaya ini cocok untuk eksperimen dengan proporsi tubuh. "Modelnya menciptakan struktur tegas: kekuatan pada bahu, definisi pada pinggang," ujar Furqan. 

Padukan dengan celana berpinggang tinggi atau celana lebar agar tampak seimbang, atau kenakan bersama kemeja lebih panjang untuk menghadirkan sentuhan unik non-gender.

ANTING ATAU BROS YANG MENONJOL

Aksesori sering kali menjadi pintu masuk paling mudah ke ranah busana perempuan. Satu anting mutiara ala Harry Styles atau bros kristal dapat menambah karakter dan kesan rapi tanpa terlihat berlebihan. 

Coba sematkan bros pada kerah blazer atau kaus polos – detail sederhana ini dapat langsung mengangkat keseluruhan tampilan.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan