SBY rilis video klip Save Our World, gandeng 35 musisi lawan krisis iklim
"Ini bukan sekadar lagu, tapi suara nurani seniman Indonesia yang peduli pada masa depan bumi," kata SBY soal lagu ciptaannya yang digarap bersama Tohpati, almarhumah Titiek Puspa, Yuni Shara, Andy /Rif, dan lainnya.
Presiden SBY dalam salah satu penampilannya di atas panggung festival musik Pesta Pora pada September 2024. (Foto: Instagram/@presidenyudhoyonoalbum)
Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), meluncurkan video musik untuk lagu ciptaannya berjudul Save Our World yang menggambarkan keprihatinan dan harapan terhadap masa depan planet bumi.
Dirilis di Jakarta Theater XXI, Jakarta Pusat, Selasa (1/7), SBY bersama 35 musisi lintas genre dan generasi mengajak publik untuk lebih peduli pada krisis iklim yang makin mengkhawatirkan.
Dalam peluncuran tersebut, hadir pula para mantan menteri dari Kabinet Indonesia Bersatu I & II, seperti Chairul Tanjung, serta deretan seniman, musisi, dan tokoh budaya.
Kegiatan ini turut melibatkan The Yudhoyono Institute sebagai penyelenggara, dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) selaku Direktur Eksekutif sekaligus putra pertama SBY menyampaikan bahwa lagu ini menjadi seruan kolektif untuk aksi nyata.
"Lagu ini adalah ciptaan Pak SBY yang sarat akan pesan moral dan ajakan untuk do something. Sebuah call to action. Lagu Save Our World mengajak kita tidak sekadar untuk prihatin atau sekadar berempati, tetapi ini adalah sebuah panggilan untuk kita terlibat bersatu dalam aksi nyata," ujar AHY saat membuka acara, dikutip dari Kompas.
Saya seorang prajurit 30 tahun menjadi anggota militer, but I love peace."
SBY menjelaskan bahwa inspirasi awal penulisan lagu bermula pada tahun 2010 saat dirinya menghadiri Konferensi Iklim di Oslo, Norwegia. Ditemani almarhumah Ibu Ani Yudhoyono, SBY menuliskan lagu ini sebagai curahan hati dan refleksi kegelisahannya terhadap masa depan lingkungan.
"Pagi-pagi sebelum kembali ke Jakarta, ditemani almarhumah Ibu Ani, saya menulis lagu ini. Lagu ini adalah ekspresi hati, pikiran, dan juga sedikit rasa cemas saya terhadap masa depan bumi," tutur SBY.
Versi awal lagu ini berjudul Untuk Bumi Kita, kemudian diadaptasi menjadi Save Our World oleh musisi Amerika Jeff Lorber dan dinyanyikan oleh Jeffrey Pescetto.
Versi terbaru yang diluncurkan tahun ini merupakan gabungan dari dua versi sebelumnya, dengan aransemen baru garapan Tohpati dan kolaborasi 35 musisi Indonesia, termasuk almarhumah Titiek Puspa, Sandhy Sandoro, Yuni Shara, Andy /Rif, dan lainnya.
"Ini bukan sekadar lagu, tapi suara nurani seniman Indonesia yang peduli pada masa depan bumi," kata SBY.
Dalam dialog mendalam yang dipandu Gita Wirjawan, SBY menekankan bahwa karya seni seperti lagu, puisi, dan lukisan bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan pesan lintas batas sosial, budaya, hingga ideologi.
"Karena lagu dapat menembus sekat-sekat perbedaan identitas, suku, agama, bangsa, juga perbedaan ideologi dan pilihan politik. Kami yakini bahwa menyelamatkan bumi adalah tugas kita semua," ucap AHY.
SBY pun menambahkan:"Seni itu dari hati. Dan perubahan dimulai dari rasa. Kalau kita punya sense of purpose, kita tahu arah hidup kita, dan kita tidak akan tersesat," ujar SBY, dikutip dari CNBC Indonesia.
Penayangan video musik Save Our World diawali dengan narasi kuat dari SBY yang memaparkan alasan penciptaan lagu, lengkap dengan visual bumi yang memerah dan mengisyaratkan krisis.
Dilanjutkan dengan latar hutan tropis dan alat musik khas Suku Dayak, para musisi bergantian menyanyikan lagu penuh harapan akan bumi yang kembali hijau.
Sebagai penutup, ditampilkan simbol Batang Garing khas Dayak — yang dikenal sebagai Pohon Kehidupan — untuk menyuarakan filosofi ekologis nusantara yang menyatukan tradisi dan pelestarian lingkungan.
"Merefleksikan filosofi Indonesia tentang keseimbangan ekologi, memadukan tradisi dan alam. Menginspirasi pelestarian hutan yang berkelanjutan, dan ketahanan iklim melalui kearifan lokal, serta mendorong solusi modern yang berakar pada harmoni budaya dengan bumi."
PAMERKAN LUKISAN
Tak hanya bermusik, SBY juga memperlihatkan dua lukisan berukuran besar yang masing-masing membawa pesan kuat tentang kondisi dunia.
Lukisan pertama berjudul Stockbone menampilkan gambaran kehancuran akibat perang dan penderitaan manusia yang mendalam, lengkap dengan asap merah dan darah yang menggambarkan kekacauan.
"Saya dedikasikan untuk visi kemanusiaan dan meskipun saya seorang prajurit 30 tahun menjadi anggota militer, but I love peace. Stop war di manapun, terutama yang menimbulkan extreme human suffering dan juga innocent death banyak sekali. Mereka-mereka yang tidak berdosa. So, stop war," tegas SBY.
Sementara lukisan kedua, yang belum selesai, berjudul Peace with Nature, menampilkan lanskap alam yang damai, mulai dari hutan lebat, gunung menjulang, hingga burung yang bertengger di dahan.
"Nah lukisan yang kanan tadi sebetulnya peace with nature. Berdamailah dengan alam yang indah, ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa," ucap SBY.
SBY juga menyampaikan kegelisahannya terkait pemanasan global dan ketidaksiapan dunia menghadapi dampaknya.
"Kalau kita gagal mencegah 1,5 derajat tambahan panas bumi, termasuk tadi riset yang ada, menurut saya masa depan kita tidak aman. Masa depan anak cucu kita tidak aman," ucapnya.
"Ini menurut saya bukan menakut-nakuti tapi real. Semua pemimpin termasuk di Indonesia apapun stratanya tingkatannya memiliki tanggung jawab dan kewajiban moral untuk menyampaikan kepada semua untuk bekerja sama menyelamatkan bumi. Say something and do something. Dunia juga begitu. Kalau situasi masih seperti ini, saya khawatir makin away," sambungnya.
Seni itu dari hati. Dan perubahan dimulai dari rasa. Kalau kita punya sense of purpose, kita tahu arah hidup kita, dan kita tidak akan tersesat."
SBY juga menyayangkan masih banyak pemimpin dunia yang memandang isu lingkungan sebagai hoaks, padahal krisis iklim memerlukan dorongan besar dari semua pihak.
"Kalau kita gagal mencegah kenaikan suhu global, masa depan rakyat tidak aman. Business as usual itu tidak cukup. Harus ada big push dari semua negara," ujarnya.
Tak lupa, SBY mengenang peran penting almarhumah Ibu Ani dalam mendukung karya-karyanya, termasuk dalam perjalanan musikal dan seni lukisnya.
"Karena perjalanan hati ini luar biasa. Jangan dikira jadi presiden selalu enak. Selalu ada plus minus, up and down dan she was with me dalam suka dan duka. Termasuk dalam proses menciptakan lagu," kenang SBY.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.