Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Inspirasi dari eks aktor Power Rangers: Mengejar mimpi hingga membangun startup di Singapura

Setelah dua puluh tahun meninggalkan perannya sebagai Ranger Hijau, Jason Chan kini menyalurkan energi dan semangatnya ke startup teknologi audio yang ingin memperluas akses menonton film bagi masyarakat global.

Inspirasi dari eks aktor Power Rangers: Mengejar mimpi hingga membangun startup di Singapura

Jason Chan, aktor Ranger Samurai Hijau dalam seri franchise televisi populer Power Ranger selama satu season, di kediamannya pada 12 Agu 2025. Dia masih menyimpan kostum aslinya, meski tidak lagi muat di badannya. (Foto: CNA/Ooi Boon Keong)

Lebih dari dua dekade setelah Jason Chan pertama kali mengenakan baju Power Ranger yang legendaris tersebut, pria 54 tahun ini masih sering dihampiri di jalan oleh penggemar yang mengenalinya.

Bulan lalu saja, Chan terpotret di dalam bus saat meninjau lokasi untuk proyek kerjanya.

"Satu orang yang duduk di bus menoleh-noleh, lalu berbisik-bisik ke orang sebelahnya. Dia bilang: 'Kalian pernah nonton Power Rangers, 'kan?'" Chan mengingatnya sambil tertawa.

"Terus aku bilang: 'Orangnya ada di sini. Suara kalian sampai ke sini, tahu.' Terus dia kayak: 'Senang banget bisa jumpa Anda, Anda itu sosok yang sangat berarti dalam hidupku waktu kecil'."

Peran Chan sebagai Cameron Watanabe, Ranger Samurai Hijau, di Power Rangers Ninja Storm season ke-11 (2003), telah membuatnya menjadi sosok figur inspiratif bagi penggemarnya di seluruh dunia.

Melihat superhero Asia di layar, apalagi karakter yang "sarkas, tangguh dan keren" seperti Ranger Hijau, membuat penonton Asia bangga di saat representasi orang Asia di TV begitu langka, jelasnya.

Seri Power Rangers versi Amerika merupakan adaptasi dari seri Jepang.

Setelah membintangi satu season, pria Australia kelahiran Malaysia tersebut pindah ke Singapura pada tahun 2006, menjauh dari dunia Power Rangers selama dua puluh tahun lebih.

Akan tetapi, kehadirannya kembali di depan publik baru-baru ini, kali ini di TikTok, menghidupkan kembali kenangan lama orang-orang akan perannya di TV.

Saat sedang mempromosikan Cinewav, perusahaan teknologi audio yang didirikannya, Chan mulai aktif memposting video di media sosial dan tanpa disangka, menarik perhatian dari penggemar yang kenal dan pernah menontonnya saat kecil.

Ketika CNA menghampiri kediamannya untuk wawancara, dia mengenakan kaus hijau Power Ranger buatan penggemar dari AS yang dihadiahkan padanya.

Sebuah kotak mainan Power Rangers tampak di sudut ruang tamunya—hadiah dari Disney, studio yang memproduksi serial itu, pada hari terakhir pengambilan gambar.

Menurut Chan, Power Rangers lahir dari ide sebuah pabrikan mainan yang ingin memberi latar cerita pada produknya demi mendongkrak penjualan, yang kemudian menghasilkan puluhan juta dolar per tahun.

Dengan hati-hati, ia melepas helm dari figurin Ranger Hijau miliknya dan memperlihatkan bahwa sosok miniatur itu dibuat berdasarkan wajahnya. Ia menjelaskan, desainer mainan meneliti fotonya, memahat wajahnya dari tanah liat, lalu menyempurnakannya hingga siap diproduksi.

Bertebaran di dalam rumahnya berbagai memorabilia Power Rangers, yang dia kumpulkan dan tunjukkan pada kami saat wawancara. Dia masih menyimpan kostum aslinya, meski tidak lagi muat di badannya.

"(Power Rangers) itu semacam batu loncatan ke panggung dunia. Dan kemudian, 20 tahun berikutnya sejak saya melakukannya, saya menerima banyak cinta dari fans serial ini."

Jason Chan, aktor pemeran Ranger Samurai Hijau dalam season serial franchise populer Power Rangers, tengah memegang figurin yang dibentuk menyerupainya, di rumahnya pada 12 Agustus 2025. (Foto: CNA/Ooi Boon Keong)

BERHENTI JADI DOKTER, MENJADI POWER RANGER

Ketika Chan berumur lima tahun, dia, orang tuanya, dan kakak-adiknya meninggalkan Kuala Lumpur, Malaysia untuk menjalani hidup baru di Perth, Australia.

Saat remaja, dia menunjukkan minat yang kuat dengan seni seperti bermain piano, tari, dan akting. Kemudian saat di SMA, dia juga bermain peran dalam teater dan musikal, sambil mengikuti kelas pidato dan drama.

Film juga sangat mewarnai kehidupannya sejak kecil. Dia pernah meminjam sampai 10 kaset film setiap minggunya di perpustakaan video setempat untuk mendalami pesona film.

Namun ujung-ujungnya, Chan mengambil kuliah kedokteran yang menjadi salah satu dari tiga jalur yang biasa diambil keluarga imigran di Australia, selain hukum dan bisnis, terangnya.

Meski dia menghargai masa-masa kuliahnya, dia mengakui bahwa pada akhirnya, jurusan itu tidak sesuai dengan dirinya. Segalanya menjadi jelas baginya ketika magang, di mana dia bekerja 80 jam setiap minggunya di bawah tekanan berat.

“Saya masih ingat setiap malam menjalani sif selama 16 jam. Di saat paling sunyi, sekitar pukul 3 pagi, saya duduk sendirian di bangku dan bertanya pada diri sendiri: kenapa saya melakukan ini? Tak ada hal kreatif sama sekali di sini. Saya tak bisa menggunakan sisi kreatif yang sejak kecil saya kembangkan.”

Sebagai pelarian, dia mulai mengambil kelas akting malam dua kali seminggu sambil tetap mengikuti perkuliahan.

"Saya sampai tak bisa berhenti bercerita soal [kelas] itu dengan teman kelas akting saya," Chan mengingatnya. "Kami biasanya ke luar ke parkiran mobil, bincang-bincang soal kelas sampai 2 atau 3 pagi. Di saat itulah saya sadar: di sinilah minat saya, inilah yang benar-benar ingin saya lakukan."

Meskipun demikian, dia menyelesaikan kuliahnya dengan mendapat gelar kedokteran pada tahun 1994, dan bekerja sebagai dokter selama tiga tahun.

Karena merasa tidak menjadi dirinya sendiri, akhirnya dia mendaftar program sarjana tiga tahun di National Institute of Dramatic Art di Sydney. Kampus ini pernah melatih bintang seperti Cate Blanchett dan sutradara Baz Lurhmann. Dia terus bekerja sebagai dokter pengganti setiap akhir pekan untuk kebutuhan hidupnya.

Chan mengenang seorang penguji audisi di sekolah akting pernah berkata kepadanya bahwa mereka biasanya tak akan menyarankan siapa pun meninggalkan “pekerjaan mapan” seperti kedokteran demi terjun ke dunia akting yang dianggap “keras dan tidak menjanjikan.”

Namun, penguji itu menambahkan, selalu ada pengecualian. Beberapa orang memang terlahir untuk berakting, dan jika mereka tidak menyalurkan apa yang ingin mereka ungkapkan, hal itu akan terus menghantui mereka seumur hidup.

"[Percakapan] itu ‘ngena di hati saya, dan saya bilang, ya, orangnya adalah saya. Saya punya sesuatu yang ingin saya sampaikan,"

Melihat kembali ke belakang, dia mengatakan banyak orang bertanya apakah beralih ke akting itu sulit, atau apakah dia menyesalinya.

"Dan jawaban saya untuk itu adalah sangat mudah, karena saya sangat menderita di satu sisi dan sangat amat senang walau tidak ada uang, tinggal di rumah kumuh berjamur, hidup 50 dolar seminggu di sekolah akting, berguling merangkak berlatih akting sepanjang minggu," dia menguraikan.

Sekolah akting, kata Chan, juga menjadi cara bagi calon aktor seperti dirinya untuk dilihat dan mendapat peran pertamanya. Menjelang kelulusan, setiap pelajar tampil di depan agen casting.

Hasilnya, Chan berhasil mendapatkan kontrak pertamanya dengan Disney sebagai host dalam acara televisi anak-anak, Playhouse Disney. Setahun kemudian, dia mengikuti audisi untuk Power Rangers.

Saat tawaran itu datang, dia girang bukan kepalang. Akan tetapi, jadwal syutingnya bentrok dan dia terpaksa harus memilih salah satu.

"Saya bilang ke agen saya: tahu 'kan, setiap anak cowok ingin jadi superhero. Saya rasa saya takkan pernah dapat kesempatan ini lagi, apalagi main peran utama di acara TV di Amerika," ujar Chan.

Di saat agennya memastikan kembali apakah dia menginginkan peran ini, mengingatkan dia kalau dia kemungkinan akan terjebak dalam peran yang sama mengingat ini "acara anak-anak kelas teri", Chan teringat menonton film Power Rangers tahun 1995 menjelang akhir SMA dan tahu bahwa dia ingin sekali mengambil peran itu.

"[Filmnya] hanya tentang anak-anak yang pakai kostum spandeks, keliling kota, menghajar monster-monster, dan kebanyakan monsternya seperti pakai kostum plastik karet PVC. Terus saya pikir, luar biasa sekali ini. Saya suka dan saya benar-benar mau melakukannya."

Setelah mengambil peran itu, dia menghabiskan waktu setahun syuting di Selandia Baru.

Chan mengenang kembali pertama kalinya dia mengenakan kostum Power Rangers hijau terang itu. Rasanya gerah panas, terlebih saat syuting dalam gudang tanpa AC di saat negara itu sedang panas-panasnya, jelasnya.

Jason Chan (tengah), dengan pemeran lainnya di lokasi syuting Power Rangers Ninja Storm pada tahun 2003. (Foto: Jason Chan)

Untuk persiapan peran, para aktor menjalani latihan dengan tim pemeran pengganti dari Jepang yang pernah bekerja sama dengan Jackie Chan.

"Mereka mengikutkan kami dalam bootcamp selama dua minggu dan setelah hari pertama, beberapa dari kami benar-benar tak bisa jalan," dia menceritakan.

Saat syuting selesai, Chan bertanya apakah dia boleh menyimpan kostum Ranger Hijau sebagai kenang-kenangan. Meskipun itu bertentangan dengan protokol Disney dan departemen kostum awalnya tidak bersedia, hubungannya dengan tim membuahkan hasil.

Adapun orang tuanya, mereka awalnya keberatan dengan keputusannya menangguhkan karier di dunia kedokteran demi mengejar akting. Namun, hati mereka akhirnya luluh setelah melihat alumni ternama dari sekolah akting tersebut.

"Saya pikir saya bisa kapan saja kembali (ke dunia kedokteran). Tapi jujur, setelah Power Rangers, saya tidak berminat lagi. Saya merasa: ini yang saya mau lakukan. Ini seru," ucap Chan.

Selama bertahun-tahun, dia menganggap dirinya tidak terkenal. Saat acara tersebut ditayangkan di AS dan surat dari penggemar datang, dia saat itu masih syuting di Auckland, Selandia Baru, di mana tidak ada yang mengenalnya.

Baru setelah menghadiri konvensi Power Rangers resmi di Los Angeles tahun lalu, dia menyadari bahwa acara tersebut sudah ditonton di mana-mana. Ribuan orang mengantre untuk bertemu dengannya dan lawan mainnya.

Beberapa orang bahkan meneteskan air mata saat mereka menceritakan bagaimana keluarga mereka jadi sering kumpul untuk menonton acara tersebut setiap minggunya.

Namun, pada saat itu, peran tersebut tidak membuka banyak kesempatan baginya di Australia. Acara tersebut tidak ditayangkan bebas di TV di sana. Dia curiga keputusan ini disebabkan oleh kekhawatiran akan kontennya yang bisa dibilang mengandung kekerasan.

Chan juga mengalami kesulitan dengan peran stereotip yang ditawarkan pada aktor-aktor Asia, termasuk peran yang mengharuskan mereka berbicara dalam bahasa Inggris terbata-bata. Menurutnya, hal ini sungguh mengecewakan.

Kemudian, teman keluarga di Singapura yang berprofesi sebagai agen casting menawarkannya untuk mewakili dirinya di sana, yang pada akhirnya mendorong dia untuk pindah ke Singapura pada tahun 2006.

Jason Chan di kediamannya pada 12 Agustus 2025. (Foto: CNA/Ooi Boon Keong)

KEHIDUPAN DI SINGAPURA

Di Singapura, karier Chan langsung melejit. Bukan karena terkenal dari Power Rangers, namun karena berada di negara Asia membuka pintu peluang baginya untuk mendapatkan peran utama.

Setelah mengikuti banyak audisi untuk peran kecil di Australia, dia tiba-tiba dilirik untuk peran dan tokoh utama film roman, mendapat peran "cukup besar" dalam sitkom lokal My Sassy Romance, film roman tahun 2008 The Leap Years, dan musikal panggung.

Waktu tinggal satu apartemen dengan aktor lainnya, Chan bertemu dengan Christian Lee, sesama aktor dari Amerika.

Karena keduanya sama-sama cinta akan seni peran dan kesal dengan keterbatasan yang mereka hadapi sebagai aktor, mereka mendirikan perusahaan produksi video BananaMana Films pada tahun 2009, meninggalkan dunia akting untuk memproduksi film pendek di internet.

"[Kami] tak selalu puas menjadi aktor di acara yang kami bintangi. Kami selalu berpikir, 'oh, kita bisa lebih bagus dari ini'. Dan tentu saja, ketika kami mulai merasa kami tak bisa lebih bagus lagi, kami tampil buruk," kata Chan sambil tertawa.

Meski begitu, keduanya tetap bertahan. Mereka belajar secara otodidak tentang cara mengoperasikan kamera, mengatur audio, menulis adegan, serta menguasai seluruh aspek produksi lainnya.

"Kami banyak buat sketsa dan film pendek yang buruk sekali, bahkan sampai saat ini. Tapi kami tetap biarkan di internet, sekadar pengingat kami dan orang lain kalau semua harus dimulai dari bawah."

Karya mereka akhirnya menarik perhatian sineas dan editor komisi Mediacorp saat itu Lionel Chok.

Berawal dari inilah lahir What Do Men Want, drama komedi 13 episode yang tayang di Toggle, platform digital Mediacorp baru pada saat itu. Produksi dilakukan dengan anggaran terbatas dan jadwal yang ketat.

Ketika mereka mulai mempertimbangkan proyek-proyek lain, mereka mengubah cara pandang yang semula bertanya: "Maukah kita lakukan ini secara cuma-cuma?" menjadi "Maukah kita keluar uang agar kita bisa lakukan ini?"

Mantra ini membuat mereka lebih selektif terhadap proyek yang mereka ambil. Pada tahun 2014, mereka mengerjakan proyek impian mereka, yaitu serial web pendek berjudul Perfect Girl, dan ini dibuat dengan anggaran S$5.000 (Rp63 juta) saja.

Acara tersebut memenangkan berbagai penghargaan, termasuk pada Los Angeles Web Series Festival, bersaing dengan produksi yang anggarannya jauh lebih besar darinya.

Serial ini juga ditayangkan di platform streaming regional Viki. Lalu beberapa bulan kemudian, Netflix mengakuisisi hak tayangnya, sehingga Perfect Girl menjadi drama Singapura pertama di platform raksasa streaming global tersebut.

Berangkat dari keberhasilan itu, duo ini memproduksi Jimami Tofu pada 2017, film panjang yang mempromosikan Okinawa pada orang Singapura. Alih-alih membuat karya pariwisata yang standar, mereka menulisnya sebagai kisah romansa yang dipadukan dengan masakan tradisional Okinawa dan budaya Ryukyu.

Film ini menjadi rilisan independen terlama di jaringan bioskop Golden Village, yakni tayang selama dua setengah tahun hingga pandemi COVID-19, sebut Chan.

Bahkan, dia mengeklaim bahwa filmnya menginspirasi Jetstar Asia untuk membuka penerbangan langsung pertama dari Okinawa ke Singapura, usai kepala pengembangan bisnis maskapai tersebut menghadiri pemutaran eksklusif film tersebut.

Sebelum film ini tayang di bioskop, Chan dan Lee mengadakan pemutaran film di ruang terbuka di Singapore Botanic Gardens, sebuah acara yang kemudian memberikan mereka ide besar berikutnya.

Mereka mendapati satu masalah yang kerap terjadi dengan bioskop di ruang terbuka. Banyak di antaranya masih memakai speaker eksternal, sehingga menyebabkan penurunan kualitas suara dan menurut mereka, itu membuat pengalaman menonton menjadi buyar.

"Kami memecah rekor jumlah orang yang datang ke Botanic Gardens untuk pemutaran filmnya, dan itu mengagumkan sekali. Semua luar biasa, kecuali suaranya, yang menurut kami, buruk sekali," terangnya.

"Kita tak bisa tingkatkan kualitas suara surround yang bagus ke 2.000 orang. Nanti jadinya berdengung, bergema, tidak seimbang."

Kedua rekan ini bekerja sama dengan developer untuk menciptakan sebuah solusi.

Hasilnya ada Cinewav, startup teknologi audio yang memungkinkan audiens memakai earphone sendiri untuk mendengar audio berkualitas tinggi dan tersinkronisasi dari smartphone mereka. Teknologi ini mengubah pengalaman menonton di ruang terbuka tanpa perlu pengeras suara serta mengurangi keluhan kebisingan dari penduduk sekitar.

Jason Chan (kanan), dengan rekan pendiri Cinewav Christian Lee, di acara pemutaran film mereka Jimami Tofu pada 2022. (Foto: Shawn Q)

Seiring waktu mereka terus menyempurnakan teknologinya, hingga akhirnya mengamankan hak paten di lima negara, yaitu Singapura, AS, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan.

Mereka berencana untuk terus berkarya di berbagai medium, bahkan kini sudah mulai menayangkan proyeksi visual ke pepohonan.

Yang lebih penting, mereka memandang Cinewav sebagai sarana untuk membangun dan mengubah komunitas. Mereka bahkan telah menyumbangkan layar tancap ke kawasan berpenghasilan rendah di luar negeri.

Di Singapura, mereka mendukung pemutaran film gratis di Enabling Village, Somerset Youth Park, asrama pekerja migran, dan kawasan perumahan umum.

Soal langkah ke depan, Chan berkata: “Kami sering melihat ke belakang dan bilang: ‘lihat di mana kita lima tahun lalu, lihat di mana kita sepuluh tahun lalu. Saat itu kita hanya membuat video online seadanya.’ Dan sekarang kita sudah sejauh ini—semuanya berawal dari terus melangkah satu langkah demi satu langkah.”

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan