Perjuangan berat dokter di Singapura tangani infeksi mematikan dan lawan stigma HIV
Dari tuberkulosis hingga HIV, dokter perempuan ini sudah hampir 20 tahun menangani pasien dengan penyakit mematikan, sekaligus melawan stigma yang dapat membuat pemeriksaan dan pengobatan tertunda.
Associate Professor Sophia Archuleta di National University Hospital, Singapura, saat wabah COVID-19 pada 2020. Spesialis penyakit infeksi ini menangani pasien dengan infeksi kompleks dan, dalam banyak kasus, mematikan. (Foto: Dr. Nares Smitasin)
Pasien perempuan itu datang dengan infeksi paru-paru berat: batuknya tak henti dan napasnya terengah-engah. Kadar oksigennya merosot drastis, hingga ia harus segera dibawa ke unit perawatan intensif dan dipasangi ventilator penunjang hidup.
Diagnosis kemudian menunjukkan pneumocystis pneumonia, infeksi yang paling sering menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah, termasuk mereka yang hidup dengan human immunodeficiency virus (HIV). Tes lanjutan pun mengonfirmasi ia positif HIV.
Setelah kondisi paru-parunya berangsur stabil, dokternya, Associate Professor Sophia Archuleta, menyampaikan kabar tersebut. Baru berusia awal 30-an, telah menikah, namun belum memiliki anak, pasien perempuan tadi merasa harapannya untuk membangun keluarga runtuh seketika.
Menurut Assoc. Prof. Archuleta, masih banyak kesalahpahaman bahwa orang dengan HIV tidak mungkin melahirkan bayi sehat. “Dengan terapi antiretroviral (obat yang menekan virus HIV), penularan vertikal dapat dicegah, sehingga virus tidak ditularkan dari ibu ke bayi,” jelasnya.
Pasien itu kelak memiliki dua anak yang sehat.
Kisah tadi bagian dari keseharian perempuan 53 tahun yang tumbuh besar di Yunani dan kini merupakan residen permanen Singapura. Sebagai konsultan senior di Divisi Penyakit Menular di National University Hospital (NUH), ia telah menangani beragam infeksi kompleks selama hampir dua dekade, termasuk COVID-19, infeksi aliran darah, dan demam dengan penyebab yang belum diketahui, sembari terus melawan kesalahpahaman dan stigma yang mengiringi penyakit seperti HIV.
MENDIAGNOSIS INFEKSI BERBAHAYA
Bicara soal penyakit menular, pikiran kebanyakan orang mungkin langsung tertuju kepada pandemi COVID-19 yang mematikan. Namun, bidang ini mencakup ratusan penyakit yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, hingga parasit, dan dapat menyerang hampir setiap organ dalam tubuh.
Sebagian penyakit, seperti COVID-19, tuberkulosis, dan campak, menyebar melalui udara. Dalam situasi ini, dokter perlu mengenakan respirator serta perlengkapan pelindung lainnya saat merawat pasien.
Sementara itu, penyakit lain – seperti demam berdarah dengue, HIV, dan beberapa jenis hepatitis akibat virus – menular melalui nyamuk, darah, atau cairan tubuh. Dengan penerapan prosedur pencegahan standar, penyakit-penyakit ini relatif tidak mudah menular di lingkungan klinis.
Menariknya, sebagian bakteri justru hidup secara alami di tubuh manusia tanpa menimbulkan masalah. Salah satu kasus terbaru di NUH melibatkan Staphylococcus aureus, bakteri yang umum ditemukan pada kulit sehat.
Pada kasus tersebut, pasien mengalami folikulitis, yakni peradangan pada folikel rambut yang merusak lapisan pelindung kulit. Kondisi ini memungkinkan bakteri masuk ke aliran darah dan memicu sepsis, yakni kondisi serius ketika respons tubuh terhadap infeksi menyebabkan demam tinggi dan penurunan tekanan darah secara drastis, sehingga mengancam fungsi organ-organ vital.
Infeksi itu juga telah menyebar ke paru-paru dan tulang belakang, menempatkan pasien pada risiko kelumpuhan jika tidak segera ditangani.
Dalam beberapa kasus, Staphylococcus aureus bahkan dapat menempel pada katup jantung atau menginfeksi perangkat prostetik seperti alat pacu jantung, defibrilator, hingga implan pengganti lutut dan pinggul, membuat penanganannya jauh lebih kompleks, ujar Assoc. Prof. Archuleta kepada CNA.
Tiap hari, ia menangani satu hingga dua pasien penyakit menular dalam kondisi kritis. Dalam situasi semacam itu, diagnosis tepat dan penanganan cepat menjadi perlombaan melawan waktu.
Belum lama ini, seorang pasien asal Bangladesh datang dengan keluhan nyeri perut. Hasil CT scan menunjukkan adanya abses hati, yakni kantong berisi nanah di organ tersebut. Pemeriksaan lebih lanjut mengungkap bahwa ia terinfeksi parasit yang jarang ditemukan di Singapura.
Selain itu, Assoc. Prof. Archuleta juga menangani berbagai penyakit menular lain di Singapura, termasuk malaria yang disebabkan oleh parasit dari gigitan nyamuk terinfeksi, serta Mpox, penyakit akibat virus yang menyebar melalui kontak erat dan ditandai dengan demam serta ruam kulit.
Dalam menegakkan diagnosis, ia mengandalkan kombinasi pemeriksaan fisik, tes darah, urin, dan dahak. Pada kasus tertentu, ia juga menggunakan pencitraan diagnostik serta biopsi, sembari mempertimbangkan faktor lain seperti riwayat perjalanan pasien.
Pada pasien dengan HIV, serta pasien kanker atau penerima transplantasi dengan sistem kekebalan tubuh lemah, ia harus mempertimbangkan spektrum infeksi yang lebih luas, termasuk yang jarang ditemui, dalam menentukan diagnosis dan pengobatan.
MENGHADAPI STIGMA HIV
Karena penyakit menular kerap memicu rasa takut, termasuk HIV, pekerjaan Assoc. Prof. Archuleta tidak berhenti pada pengobatan; ia turut melawan stigma yang masih melekat.
Pada awal kariernya, orang yang hidup dengan HIV sering menghadapi diskriminasi, bahkan dari tenaga kesehatan yang khawatir virus tersebut dapat menular ke staf maupun pasien lain, ujarnya. Padahal, HIV “hanya ditularkan melalui hubungan seksual, darah, dan cairan tubuh – bukan kontak biasa”.
“Stigma terhadap penyakit menular itu derajatnya berbeda-beda. Untuk HIV, stigma itu cenderung lebih kuat, sebagian karena penyakit ini dikaitkan dengan penularan seksual,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat juga kerap melontarkan komentar spontan atau penilaian terhadap orang yang hidup dengan HIV, misalnya dengan mengaitkannya pada perilaku seksual tertentu seperti homoseksualitas atau berganti-ganti pasangan.
“Saya juga pernah menangani pasien yang baru didiagnosis dan mengatakan bahwa keluarga mereka sendiri meminta mereka menggunakan piring terpisah, alat makan sekali pakai, atau mencuci pakaian secara terpisah karena takut tertular,” katanya. Padahal, HIV tidak menular melalui cara-cara tersebut.
Stigma ini, lanjutnya, membuat sebagian orang enggan menjalani tes HIV meskipun mereka mencurigai dirinya terinfeksi, sehingga pengobatan pun kerap tertunda.
“Saya merawat beberapa pasien yang baru terdiagnosis ketika kondisinya sudah sangat lanjut – mereka sudah sakit parah akibat AIDS dan mengalami berbagai infeksi oportunistik. Kasus-kasus seperti itu sangat memilukan. Padahal, jika tes dilakukan lebih awal, mereka bisa segera memulai pengobatan dan menjalani hidup yang panjang serta sehat,” ujar Assoc Prof Archuleta.
Untuk menurunkan hambatan pemeriksaan, Assoc. Prof. Archuleta bersama timnya turut memperkenalkan alat tes mandiri HIV yang dapat digunakan secara privat, cukup dengan usapan pada rongga mulut. Pertama kali diuji coba di Singapura pada 2022, alat ini telah tersedia di sejumlah apotek ritel terpilih di negara tersebut sejak 2025.
MENDORONG PERUBAHAN
Menurut Assoc. Prof. Archuleta, untuk menciptakan perubahan nyata, kerja advokasi sama pentingnya dengan merawat pasien.
Pada 2016, ia bersama sejumlah rekan menggagas berbagai inisiatif pelatihan, termasuk Asia Pacific HIV Practice Course, untuk meningkatkan pemahaman para nakes di Singapura dan kawasan Asia Pasifik tentang HIV dan stigmanya. Tujuannya jelas: memastikan pasien mendapatkan layanan yang tepat dan berempati, bahkan saat mereka berobat ke dokter umum, dokter gigi, dokter kandungan, maupun spesialis lainnya.
Sebagai direktur National HIV Programme di National Centre for Infectious Diseases pada 2017 hingga 2024, ia juga bekerja sama dengan organisasi masyarakat seperti Action for AIDS serta lembaga kesehatan publik untuk memperluas edukasi dan program penjangkauan – mendorong lebih banyak orang menjalani tes sekaligus mengurangi stigma terkait HIV.
Satu kesalahpahaman umum adalah anggapan HIV pasti menular melalui aktivitas seksual. Karena itu, salah satu pesan kunci yang terus ia gaungkan adalah “U = U”, singkatan dari undetectable equals untransmittable – tidak terdeteksi berarti tidak menular.
Assoc. Prof. Archuleta menjelaskan bahwa terapi antiretroviral mampu menekan jumlah virus HIV dalam darah hingga ke tingkat yang tidak terdeteksi. Pada titik tersebut, virus tidak dapat ditularkan kepada pasangan seksual.
“Meski belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan HIV, (dengan pengobatan tepat), hidup dengan kondisi ini bisa sangat mirip dengan hidup dengan diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit kronis lainnya,” ujarnya.
Ia berharap masyarakat dapat memandang penyakit menular, terutama HIV, dengan lebih bijak, serta mendekati setiap individu tanpa prasangka.
“Empati sangat berarti. Tiap orang, tiap manusia, punya jalan hidupnya sendiri. Mereka tidak ditentukan oleh kondisi medisnya,” katanya.
Menengok perjalanannya, ketertarikan Assoc. Prof. Archuleta pada dunia mikroba sudah tumbuh sejak usia tujuh atau delapan tahun. Saat itu, ibunya, seorang ahli mikrobiologi, memberinya buku cerita tentang kisah “cinta” antara Proteus dan Klebsiella, dua bakteri yang hidup berdampingan di usus manusia, tetapi dapat menyebabkan infeksi di bagian tubuh lain.
Bersyukur atas karier yang dinamis di bidang yang ia tekuni, ia juga berkomitmen membuka jalan bagi perempuan-perempuan lain untuk memperoleh kesempatan yang setara di dunia medis dan akademik.
Pada 2017, ia mendirikan National University Health System Women in Science and Healthcare, dan saat ini menjabat sebagai Wakil Dekan Urusan Kesetaraan Kesempatan dan Pengembangan Karier di NUS Medicine. Melalui peran tersebut, ia mendorong upaya mengatasi ketimpangan gender lewat program mentoring, pengembangan kepemimpinan, serta peningkatan kesadaran akan bias gender yang kerap tidak dimafhumi.
“Salah satu titik balik bagi saya adalah ketika berada dalam rapat komite dan menjadi satu-satunya perempuan di ruangan itu. Pengalaman yang membuatku terasa asing, meskipun tidak ada yang secara sengaja mendiskriminasi. Pengalaman menjadi minoritas membuatku terasa terasingkan, dan bisa mengurangi kekuatan dari keberagaman suara,” ujarnya.
Setelah menapaki berbagai tantangan hingga menjadi salah satu spesialis penyakit menular terkemuka di Singapura, pesannya kepada perempuan muda cukup sederhana: kejarlah apa yang menarik hati, dan jangan ragu untuk melompat lebih tinggi.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.