Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Ketika para perempuan berhijab adu otot di ring gulat profesional Singapura

CNA berbincang dengan para perempuan Singapura yang berkiprah di olahraga fisik yang didominasi pria.

SINGAPURA: Di sebuah unit industri di kawasan Ubi, berdiri ring gulat berukuran enam kali enam meter yang mendominasi ruangan.

Dua lawan berdiri di sisi berseberangan, bersandar pada tali ring, saling menatap tajam dengan posisi siap menyerang.

Salah satu pegulat mengambil langkah pertama, melompat maju dengan hentakan kaki di atas kanvas, namun tiba-tiba berhenti.

Rambutnya sempat keluar dari balik hijab, mengganggu konsentrasinya. Ia pun membalikkan badan dari lawan laki-lakinya untuk merapikan dan memasukkannya kembali ke dalam tudung.

Nadirah Hirwandy, atau Amani, begitu ia dikenal oleh para penggemar, menatap sambil tersipu ke arah saudara kembarnya, Nadiah, yang berdiri di luar ring.

Dikenal dengan nama Alani di atas ring, Nadirah dan Nadiah bangga menjadi pasangan kembar pertama di Singapura yang tampil sebagai pegulat profesional berhijab.

Olahraga yang mereka tekuni menuntut kontak fisik intens, termasuk dengan lawan jenis, serta mengharuskan memperlihatkan mimik wajah yang ekspresif.

Meski penampilan fisik mereka yang berhijab seakan bertentangan dengan aksi mereka di atas ring, namun pasangan kembar berusia 23 tahun ini tak merasa terbebani.

Bagi mereka, ini soal mendobrak pandangan umum tentang bagaimana seharusnya sosok pegulat perempuan profesional tampil, sekaligus membuktikan bahwa “perempuan berhijab bisa melakukan apa saja.”

Nadirah dan Nadiah telah berlatih serta bertanding di akademi sekaligus promotor Grapplemax Pro Wrestling sejak Juli 2024.

Meski telah memiliki cukup banyak penggemar, namun pandangan miring masih berdatangan, termasuk dari kerabat yang lebih tua.

“Mereka bilang, ‘kamu kan perempuan, kamu Muslim, kamu tidak seharusnya melakukan hal seperti ini,’” ujar Nadiah. “Mereka berpikiran sangat tradisional.”

Saudaranya menimpali, “terserah mereka mau berkata apa, yang penting kami tidak melakukan hal yang salah."

"Saya menikmatinya dan orang tua mendukung, itu yang paling penting bagi saya.”

Mereka mulai tertarik pada olahraga ini sejak sering menonton pertandingan gulat profesional di televisi bersama sang ayah, kemudian menirukan aksinya di atas tempat tidur.

“Ayah kami juga penggemar gulat, beliau bangga pada kami. Ia yakin kami tidak melakukan hal buruk terhadap tubuh kami, ini bentuk aktivitas fisik, dan tidak perlu malu,” ujar Nadiah.

Namun, untuk meyakinkan sang ibu butuh waktu lebih lama. Pasalnya, ibu mereka lebih khawatir akan risiko cedera fisik.

“Kami berusaha meyakinkan beliau dengan menjelaskan sisi positifnya, bahwa ini memang passion dan pilihan kami,” kata Nadiah. “Kini, beliau justru suka bercerita kepada teman-temannya bahwa kami pegulat, dan tampak bangga menceritakannya.”

MENGUBAH CARA PANDANG

Ketika ditanya apa yang membuat mereka tertarik pada gulat dibanding olahraga lain, Nadirah menyebut bahwa gulat adalah “bentuk ekspresi diri yang bisa dituangkan dalam karakter dan interaksi dengan penggemar.”

Sementara Nadiah menambahkan singkat, “Ini kesempatan bagi saya untuk menjadi diri sendiri.”

Karakter pegulat profesional umumnya tampil penuh percaya diri dan teatrikal, namun keduanya mengakui masih sering bergulat dengan rasa ragu dan pertanyaan apakah mereka sudah “cukup baik” untuk berada di ring.

Kekuatan mereka datang dari keyakinan bahwa setiap latihan dan laga memiliki arti khusus, baik secara pribadi maupun terhadap hal yang mereka perjuangkan.

“Satu hal yang ingin saya capai adalah mengubah cara pandang orang terhadap perempuan Muslim. Saya berharap bisa menjangkau lebih banyak orang dan memengaruhi pandangan mereka terhadap perempuan berhijab,” ujar Nadirah.

“Itu membuat saya merasa bahwa saya menggunakan passion saya untuk melakukan sesuatu bagi komunitas Muslim.”

(Foto) Pegulat profesional Nadirah Amani Hirwandy (kanan) dan Maisarah Abu Samah saat berlatih di GrappleMax. (Foto: CNA/Faith Ho)

Greg Ho, salah satu pendiri GrappleMax Pro, menilai bahwa meningkatnya partisipasi perempuan dari beragam agama dan etnis di dunia gulat profesional harus diimbangi dengan penekanan lebih besar pada rasa saling menghormati dan memahami perbedaan.

Perusahaan tersebut masih mencari cara terbaik untuk mengakomodasi pegulat dari berbagai latar belakang, sembari tetap menjaga keselamatan dan keaslian dalam penampilan di ring.

“Ada beberapa gerakan yang melibatkan kecepatan tinggi, intensitas, dan kontak fisik. Hal itu bisa membuat posisi hijab bergeser, jadi kami bekerja sama dengan mereka untuk menyesuaikan gerakannya,” ujar Ho.

“Kami tahu bahwa kami sedang menembus batas dan mengubah pandangan tentang apa yang mungkin dilakukan dalam gulat profesional. Ini proses pembelajaran, dan satu-satunya cara untuk maju adalah bekerja sangat dekat dengan para pegulat perempuan.”

Pegulat profesional Nadirah Amani Hirwandy dan Maisarah Abu Samah berlatih di GrappleMax. (Foto: CNA/Faith Ho)

“BUAT RUANG UNTUK DIRI SENDIRI”

Nadirah dan Nadiah juga mendapat bimbingan dari sosok perintis di olahraga ini: Maisarah Abu Samah, yang dikenal para penggemar sebagai *Sarah Coldheart*, pegulat berhijab pertama di Singapura.

Menariknya, awalnya Maisarah sebenarnya tidak terlalu tertarik pada olahraga ini meski tumbuh dengan kebiasaan menonton gulat profesional di televisi bersama ayah dan kakeknya.

“Anak laki-laki di sekolah dulu menyebalkan kalau sedang membicarakan gulat profesional. Saya pikir, ‘itu bukan saya, saya ini elegan’,” ujar Maisarah yang juga berprofesi sebagai produser video kepada CNA.

Perempuan berusia 30-an ini mulai mencoba gulat profesional hanya sebagai tantangan pribadi untuk mencoba hal-hal baru, tapi ternyata membuatnya ketagihan.

Sejak benar-benar menekuninya pada 2019, ia kini menjadi sosok tetap di berbagai pertunjukan GrappleMax Pro, naik ring setidaknya sebulan sekali.

Maisarah juga melihat dirinya sebagai bukti bahwa perempuan berhijab bisa menempuh jalannya sendiri di dunia gulat profesional.

“Saya tidak perlu mengubah diri demi orang lain, jadi kenapa tidak jadi diri sendiri saja?” katanya. “Tidak ada pegulat perempuan yang sama; masing-masing punya gaya, sikap, dan kepribadian sendiri.”

Pegulat profesional Maisarah Abu Samah, Nadirah Amani Hirwandy, dan Nadiah Alani Hirwandy bersiap untuk pertandingan di Jurong Spring Community Club. (Foto: CNA/Faith Ho)

Saat ditanya apakah ia pernah mendapat kecaman karena terlibat dalam olahraga yang kadang melibatkan interaksi fisik dengan pria, Maisarah menjawab cepat tanpa ragu: “Justru saya yang lebih sering mengangkat pria.”

Bagi Maisarah, yang jauh lebih penting adalah menjaga martabat dan menjadi contoh bagi perempuan dan anak-anak.

“Kamu bisa menciptakan ruang untuk dirimu sendiri di atas ring. Kamu juga bisa melakukannya di mana saja... Kamu tidak perlu mengecilkan diri,” ujarnya.

“Apapun yang kamu lakukan, akan selalu ada orang yang mengkritik. Tapi akan ada juga yang menyukaimu — jadi sebaiknya nikmati saja.”
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan