Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Imbas perang Iran vs Israel-AS, penjualan Louis Vuitton dan Dior ikut seret

Penjualan di beberapa mal di kawasan Timur Tengah anjlok hingga 70 persen pada awal Maret 2026.

Imbas perang Iran vs Israel-AS, penjualan Louis Vuitton dan Dior ikut seret

Tas kulit mewah Louis Vuitton di jendela toko di distrik mode Milan Via Monte Napoleone. (Foto: iStock/anzeletti)

Konflik di Timur Tengah turut menghantam penjualan LVMH di kuartal pertama 2026, karena para pembeli dan turis di kawasan tersebut menahan pengeluaran mereka. Fenomena ini juga meredupkan harapan atas pulihnya sektor luxury global tahun ini.

LVMH, atau Moët Hennessy Louis Vuitton, adalah grup luxury terbesar di dunia yang menaungi puluhan brand ternama mulai dari Louis Vuitton, Dior, hingga Tiffany & Co.

Perusahaan asal Prancis ini dikenal sebagai pemain utama di industri fesyen, leather goods, wine dan spirits, hingga jam tangan dan perhiasan, dengan pengaruh besar terhadap arah tren luxury global.

Menurut laporan Financial Times, grup luxury terbesar di dunia itu mencatat penjualan pada kuartal pertama 2026 hanya naik 1 persen secara like-for-like dibandingkan tahun lalu, lebih rendah dari ekspektasi analis sebesar €19,1 miliar (US$22,46 miliar; atau Rp384 triliun).

Like-for-like merupakan cara mengukur pertumbuhan bisnis dengan membandingkan performa yang "apple to apple", tanpa dipengaruhi hal-hal seperti fluktuasi mata uang, akuisisi, atau buka-tutup toko baru. Jadi, angka ini lebih menunjukkan kondisi asli bisnisnya, apakah benar-benar tumbuh atau sebenarnya sedang melambat.

Pihak perusahaan menyatakan bahwa perang antara AS-Israel melawan Iran telah berdampak langsung pada divisi fashion and leather goods yang menjadi andalan mereka, di mana penjualan turun 2 persen menjadi €9,24 miliar (Rp185 triliun), menandai penurunan selama tujuh kuartal berturut-turut.

Konflik tersebut memangkas pertumbuhan penjualan LVMH sebesar 3 poin persentase pada bulan Maret. Serangan rudal di kawasan Teluk, termasuk Dubai, membuat para shoppers enggan mengunjungi mal-mal di wilayah tersebut. 

Tampilan close up dari Speedy 35 yang dibuat oleh Louis Vuitton menampilkan monogram LV yang terkenal. (Foto: iStock/_laurent)

Hal tersebut menjadi pukulan telak bagi industri barang-barang mewah yang tengah berharap bahwa tahun 2026 akan menjadi titik balik setelah penurunan penjualan yang berkepanjangan. Selain itu, LVMH juga berharap penunjukkan sejumlah direktur kreatif baru di perusahaan ini mampu merevitalisasi produk di sejumlah jenama besar.

"Permintaan di Timur Tengah terus menurun hingga hari ini," ujar Chief Financial Officer Cecile Cabanis, yang mencatat bahwa penjualan di beberapa mal anjlok hingga 70 persen pada awal Maret.

"Kami belum melihat adanya pemulihan belanja di tempat lain, dan kami tahu kekayaan [para konsumen] ini tidak hilang begitu saja. Jadi, kami berharap bisa melihat sebagian dari [pemasukan bisnis] akan datang dari sumber lain," ujarnya.

Saham LVMH, yang dikendalikan oleh keluarga miliarder Prancis Bernard Arnault, merosot hampir 25 persen tahun ini. Surat berharga grup yang terdaftar di Amerika Serikat jatuh sekitar 4 persen pada Senin (13/4), ikut menyeret sejumlah pelaku bisnis lain di sektor barang mewah ke zona merah.

Dampak langsung terhadap keinginan pasar untuk berbelanja barang mewah akibat perang di Timur Tengah diperkirakan akan berada dalam skala menengah atau moderat, mengingat wilayah tersebut menyumbang sekitar 5 persen dari penjualan industri. 

Namun, para pakar menilai risiko yang lebih besar adalah konflik yang berkepanjangan yang dapat merusak kepercayaan konsumen di seluruh dunia.

HSBC bulan lalu memangkas perkiraan pertumbuhan penjualan industri barang mewah sebesar 1,1 poin persentase menjadi 5,9 persen pada tahun 2026. Selain di Timur Tengah, pasar di Eropa juga tengah melemah.

Penjualan kuartal pertama LVMH di Eropa dan Jepang turun 3 persen pada kuartal tersebut, imbas permintaan lokal yang gagal mengimbangi rendahnya minat belanja para turis.

Namun, Cabanis menekankan grup LVMG mencatat kuartal terbaiknya di Asia di luar Jepang sejak 2023, dengan penjualan naik 7 persen secara year-on-year, mengisyaratkan bahwa masa terburuk dari kemerosotan panjang barang mewah di China mungkin telah berakhir.

Sementara itu, penjualan barang mewah di AS tetap kuat, naik 3 persen pada kuartal pertama. Penjualan jam tangan dan perhiasan, terutama di toko perhiasan Tiffany dan Bvlgari, juga tidak mengalami tren penurunan, malah naik sebesar 7 persen.

Toko Louis Vuitton di Sha Tsui, Kowloon, Hong Kong. (Foto: iStock/winhorse)

Para pakar berharap LVMH akan mendapat keuntungan tahun ini dari kehadiran desainer-desainer baru seperti Jonathan Anderson di Dior dan Michael Rider di Celine.

"Kabarnya memang tidak terlihat cerah, tetapi kreativitas baru dan harga yang lebih menarik seharusnya bisa mendorong perbaikan," tulis Anne-Laure Bismuth, analis dari HSBC.

Sementara pada Senin (13/4), Cabanis menyatakan tetap optimistis dan menekankan bahwa perusahaan melihat "respon [pasar] yang baik" terhadap produk-produk dari para direktur kreatif baru, terutama di Dior.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan