Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Sinopsis A Normal Woman, ketika Marissa Anita membuka 'topeng' perempuan sempurna

A Normal Woman meroket ke Top 3 Netflix Indonesia dengan kisah thriller psikologis tentang tekanan standar kecantikan perempuan.

Sinopsis A Normal Woman, ketika Marissa Anita membuka 'topeng' perempuan sempurna

Salah satu adegan dalam film A Normal Woman, dibintangi Marissa Anita dan Dion Wiyoko. (Foto: Dok. Netflix)

04 Aug 2025 02:05PM (Diperbarui: 04 Aug 2025 02:12PM)

Film Indonesia produksi Netflix, A Normal Woman, menjadi salah satu film yang tengah trending belakangan ini, bertengger di posisi ketiga dalam daftar Top 10 film Netflix di Indonesia, bahkan sempat berada di jajaran film top dunia, menurut FlixPatrol. 

Film karya sutradara Lucky Kuswandi ini mengandeng sejumlah aktris dan aktor papan atas Indonesia, termasuk pemenang Piala Citra Marissa Anita, Dion Wiyoko, Gisella Anastasia, dan Widyawati. 

Lucky Kuswandi, yang sebelumnya sudah bekerja sama dengan Netflix lewat drama komedi Ali & Ratu Ratu Queens (2021), bersama  Andri Cung turut menulis naskah film yang disebut-sebut bergenre thriller psikologis ini. 

Sebenarnya, film A Normal Woman bercerita tentang apa?

Salah satu adegan dalam film A Normal Woman, dibintangi Dion Wiyoko dan Widyawati. (Foto: Dok. Netflix)

Film ini mengisahkan Milla, seorang sosialita kaya, ibu rumah tangga dan istri dari pengusaha ternama Jonathan Gunawan (Dion Wiyoko). Semua berubah ketika Milla merasakan penyakit ruam misterius di leher yang menjangkau wajahnya. 

Milla kemudian ditekan oleh ibu mertuanya, Liliana (Widyawati), yang menudingnya sebagai pembawa sial, karena dianggap gagal menjalankan peran sebagai istri sempurna.

Cerita kemudian menggali isu-isu seperti standar kecantikan perempuan, obsesi pada penampilan, hingga bagaimana masyarakat sering mempertemukan perempuan dalam persaingan tidak sehat. 

Mengusung genre drama psikologis, film ini juga menyelipkan elemen body horror, sebuah sentuhan yang kian populer sejak The Substance sukses besar di berbagai ajang penghargaan belakangan ini.

Ide untuk membuat A Normal Woman muncul ketika beberapa tahun lalu Lucky Kuswandi membaca buku The Myth of Normal: Trauma, Illness and Healing in a Toxic Culture yang ditulis oleh dokter Gabor Maté bersama putranya, Daniel.

Buku tersebut mengulas tentang kesehatan mental dan bagaimana masyarakat mendefinisikan sosok yang dianggap "normal."

"Tubuh kita itu sangat cerdas, bisa memberi tahu kalau ada sesuatu yang salah dalam cara kita menjalani hidup, dan itu bisa muncul dalam bentuk peringatan apa pun, seperti penyakit," tuturnya dalam wawancara dengan The Jakarta Post akhir Juli lalu. 

Melalui film ini, Lucky pun berusaha mempertanyakan ulang makna kata "normal."

"Apakah ada sesuatu yang seharusnya kita periksa lagi agar kita bisa menjalani hidup yang benar-benar otentik? Karena sering kali, penyakit adalah konsekuensi dari ketidaksesuaian antara diri yang sebenarnya," ujar Lucky. 

Sementara, Marissa Anita mengaku perlu waktu untuk benar-benar masuk ke pergulatan karakter ini soal keotentikan diri. Terlebih, ia sendiri di kehidupan nyata harus menyeimbangkan banyak peran dan tanggung jawab.

"Milla mengajarkan aku bahwa semua peran itu akan sia-sia kalau kita nggak tahu siapa diri kita. Karena kalau kita terus berusaha menyenangkan orang lain, pada satu titik dalam hidup, kita akan hancur," ujarnya. 

Untuk saat ini, A Normal Woman belum punya cukup ulasan di Rotten Tomatoes, baik dari kritikus maupun penonton, untuk mendapatkan skor resmi. 

Namun, berbagai ulasan sejauh ini sebagian besar berisi penilaian positif. Kritikus menyebut film ini "riveting watch" alias tontonan yang memikat, meskipun dengan gaya penceritaan yang slow burn.

A Normal Woman tayang di Netflix sejak 24 Juli 2025.
 

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan