Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Kisah perempuan pelatih anjing pemandu, membuka jalan kemandirian bagi penyandang tunanetra

Satu-satunya pelatih anjing pemandu bersertifikasi di Singapura, Christina Teng membantu penyandang tunanetra bergerak lebih mandiri dan percaya diri.

Kisah perempuan pelatih anjing pemandu, membuka jalan kemandirian bagi penyandang tunanetra

Christina Teng melatih anjing pemandu untuk menuntun tunatera agar bebas berjalan di Singapura. (Foto: Dok. Christina Teng)

SINGAPURA: Christina Teng sangat suka bangun pagi. Kadang-kadang, dia jalan santai di pagi hari untuk melepas penat di kepalanya. Namun, sebagian besar waktunya dihabiskan di luar bersama anjing pemandunya, menuntun dirinya berjalan, melewati lalu-lintas dan stasiun MRT.

Perempuan berusia 45 tahun ini merupakan satu-satunya pelatih anjing pemandu yang bekerja penuh waktu di Singapura. Dia melatih anjing-anjing ini dengan harapan bisa menuntun penyandang tunanetra bepergian ke mana-mana dengan aman.

Salah satu contohnya adalah Manabu, yang kehilangan sebagian penglihatannya karena didiagnosis mengidap penyakit mata langka, disebut retinitis pigmentosa. Sebelum Manabu ditemani anjing pemandu, Momo, dia biasa menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk pulang ke rumahnya yang berada di Yishun dari tempat kerjanya di Jurong Timur.

Perjalanannya panjang bukan karena jauh, ungkap Teng. Tetapi karena dia hanya punya tongkat putih untuk memandu jalannya, sehingga melewati keramaian, eskalator dan rintangan yang tak terduga menjadi lambat dan melelahkan.

Dengan Momo, yang sudah dilatih oleh Teng, Manabu jadi bisa pulang-pergi kerja hanya satu jam saja. Dia mengandalkan anjingnya untuk memandu jalannya, sehingga mengurangi stres mental dan fisiknya. "Begitulah manfaat memiliki anjing pemandu," kata Teng.

Penyandang tunatetra, Manabu, dengan anjing pemandunya, Momo, yang sudah membantunya merasa percaya diri dan tidak sendiri. (Foto: Dok. Guide Dogs Singapore)

Warga Singapura ini sudah lama bergabung dengan Guide Dogs Singapore sejak tahun 2017. Tak lama setelah bergabung, dia pindah ke Melbourne, Australia, untuk menjalani pelatihan intensif selama dua setengah tahun dengan Guide Dogs Victoria untuk mendapat sertifikasi sebagai pelatih anjing pemandu.

Lalu, dia pulang ke Singapura dan melatih kedua anjingnya dan penggunanya, yang juga dikenal sebagai pawang.

Sebelumnya, Guide Dogs Singapore, yang berdiri pada tahun 2006, belum memiliki pelatih lokal. Yayasan itu mengandalkan pelatih paruh waktu dari luar negeri, sering kali dari Australia, dan mereka biasanya menetap enam bulan hingga setahun.

Sejak berdiri, Guide Dogs Singapore sudah melatih sebanyak 14 tim anjing pemandu. Masing-masing terdiri dari seekor anjing dan pawangnya. Sembilan di antaranya saat ini masih aktif. Teng melatih delapan darinya, termasuk perenang paralimpiade Singapura, Sophie Soon, dan anjingnya, Orinda.

Teng (kanan) dengan keluarganya, yang pindah ke Melbourne ketika dia mengikuti pelatihan untuk menjadi pelatih anjing pemandu. (Foto: Dok. Christina Teng)

DIMULAI DARI RASA SAYANG

Perjalanan Teng dimulai sejak beberapa dekade lalu, ketika dia menemukan buku perpustakaan di sekolah dasarnya tentang anjing pemandu di Amerika Serikat (AS) dan Inggris.

"Aku selalu sayang dengan anjing, dan selalu ingin membantu orang. Jadi saat tahu anjing dapat membantu orang tunanetra menjelajahi seisi dunia, aku seperti terkesima," terangnya meski tidak memiliki anjing sendiri.

Namun, kisah ini terjadi di tahun 1990-an dan pada saat itu, belum ada organisasi serupa di Singapura.

"Aku simpan sementara mimpi itu," ujarnya. "Dan memilih menjadi relawan pendamping remaja."

Setelah delapan tahun bekerja di bidang pendampingan remaja, dia mengundurkan diri untuk menjadi ibu rumah tangga bagi dua anaknya selama sepuluh tahun.

Akan tetapi, di tahun 2015, Teng melihat satu segmen berita di TV: Guide Dogs Singapore sedang mencari pelatih dan mereka ingin melakukan ekspansi dan merekrut lebih banyak warga lokal untuk mendukung program bagi tunanetra.

"Aku dan suami berpikir, ah, mungkin sudah saatnya kembali ke impian masa kecil," ucapnya.

Lamaran kerjanya diterima, dan keluarganya pindah ke Melbourne untuk mengikuti pelatihannya. Suaminya mengambil cuti tidak berbayar, dan kedua putrinya, yang saat itu masih berumur sembilan dan tujuh tahun, juga ikut bersamanya.

Salah satu bagian dari pelatihan yang diikuti Teng di Melbourne adalah berjalan dan bepergian dengan anjing pemandu sambil ditutup mata. (Foto: Dok. Christine Teng)

Programnya berjalan sangat intens. Materinya mencakup banyak hal, mulai dari menangani anjing, memahami perbedaan ras anjing, hingga mempelajari seperti apa mobilitas yang dijalani tunanetra dan merasakan apa yang dialami orang-orang dengan berbagai jenis gangguan penglihatan.

"Sebelum kita bisa belajar tentang bagaimana rasanya melatih anjing, kita pertama-tama harus paham dan mengerti perasaan orang-orang yang kita layani, yaitu penyandang tunanetra," jelasnya.

"Aku harus berjalan melewati rintangan dengan mata tertutup, dituntun anjing pemandu, supaya mengerti apa yang dialami klien kami nanti. Aku jadi banyak sadar diri."

Christina Teng sedang melatih Gary, salah satu klien Guide Dogs Singapore, dan anjing pemandunya Matt, di sekitar area yang sering dilaluinya. (Foto: Guide Dogs Singapore)

MENCARI KECOCOKAN

Namun, tidak semua penyandang tunanetra merasa tertolong dengan punya anjing pemandu. "Semua tergantung preferensi, lingkungan, dan bagaimana pergerakan mereka. Tata ruang di Singapura, yang jalurnya sempit dan sistem MRT yang rumit, bisa saja membingungkan," sebutnya.

Dia menjelaskan beberapa individu tunanetra lebih memilih untuk mengenali objek rintangan terlebih dahulu, baru kemudian mereka memutuskan cara untuk menghindarinya, sehingga menggunakan tongkat lebih sesuai untuk mereka.

Sementara, penyandang tunanetra lain mungkin lebih mengutamakan cara mereka menuju dari Titik A ke Titik B tanpa halangan atau gangguan. Bagi mereka, anjing pemandu akan lebih membantu.

"Tongkat itu alat bantu mendeteksi objek rintangan. Ketika kamu ketemu rintangan, kamu hindari. Sedangkan anjing pemandu penghindar rintangan. Mereka mengantisipasi dan mencari jalan putarnya," terangnya.

"Pilihan alat bantu mobilitas harus selalu memperhatikan bagaimana memberdayakan individu tersebut."

Semua anjing pemandu memakai tali khusus di tempat umum sebagai tanda bahwa mereka sedang bertugas. Tali ini punya pegangan guna membantu pengguna yang punya gangguan penglihatan untuk merasakan arah jalan dan pergerakan. (Foto: Dok. Guide Dogs Singapore)

Setiap bulan, Guide Dogs Singapore menerima sekitar dua atau tiga pertanyaan dari orang-orang yang tertarik untuk memiliki anjing pemandu.

"Kami lanjutkan dengan wawancara untuk mengetahui lebih banyak tentang kondisi penglihatannya, gaya hidup, rute yang dilalui sehari-hari, tempat tinggal, dan lain-lain," sebut Teng.

"Kami evaluasi semuanya untuk mengetahui apakah anjing pemandu dapat benar-benar membantu mereka, atau barangkali mereka lebih terbantu dengan alat bantu mobilitas lainnya."

Dia menambahkan, orang tua yang punya anak-anak barangkali merasa sulit untuk merawat anjing di saat mereka juga punya tanggung jawab lainnya. Sementara bagi mereka yang hidup sendiri, mungkin lebih tertolong dengan keberadaan anjing tersebut.

"Faktor-faktor gaya hidup seperti inilah yang kami pertimbangkan ketika mengevaluasi kecocokan orang yang ingin menjadi pemilik anjing pemandu," kata Teng.

Anjing pemandu tersebut datang dari Australia atau Jepang dan telah menjalani evaluasi berdasarkan kelayakan mereka untuk menjadi anjing pemandu.

Anjing pemandu biasanya dibawa ke Singapura ketika berusia 12 hingga 14 bulan dan akan dirawat dan dibesarkan oleh para relawan yang memberi sosialisasi dan melatih dasar kepatuhan.

Teng kemudian melatih lagi anjing-anjing tersebut selama enam bulan sebelum dipasangkan dengan pemiliknya.

Anjing yang dilatihnya sering kali berjenis labrador retriever atau golden retriever. Menurut Teng, keduanya menjadi pilihan ideal karena ukurannya, sikapnya yang bersahabat, dan mereka mudah diterima di muka umum.

Guide Dogs Singapore tidak punya kandang, jadi anjing-anjing yang dilatih tinggal di rumah relawan sampai mereka siap dibawa ke pawangnya. Teng saat ini sedang melatih seekor anjing seperti itu.

Setiap kali Teng mendapat anjing pemandu baru, dia kerap menyempatkan diri untuk berkenalan dengan hewan tersebut. "Sebagaimana manusia, anjing juga punya kepribadian," sebutnya.

"Beberapa anjing suka melewati stasiun kereta yang ramai. Yang lain lebih suka lingkungan yang lebih tenang. Ini bukan soal keterampilan, melainkan preferensi, kepribadian dan kecocokan."

Anjing pemandu yang sedang dilatih di Singapura memakai rompi berlogokan Guide Dogs Singapore sebagai tanda bagi masyarakat umum bahwa mereka masih belajar. (Foto: Dok. Guide Dogs Singapore)

PROSES PERJODOHAN ANJING

Lalu, proses penjodohan pun dimulai. Teng mengatur "sesi penjodohan" yang berlangsung sekitar dua jam, ketika calon pemilik bertemu dengan anjingnya, lalu jalan-jalan sebentar sekitar 30 menit, dan melihat apakah mereka merasa cocok bersama.

"Rasanya seperti kencan pertama," dia tertawa. "Dan saya makcomblangnya."

Jika anjing dan calon pemiliknya cocok, pelatihan formal pun dimulai. Teng mendampingi pasangan baru selama sekitar sebulan untuk membantu mereka belajar bergerak seirama. Mereka melewati jalan yang biasa dilewati pawangnya, termasuk jalan dari rumah ke supermarket, pusat jajanan, terminal bus atau stasiun MRT, atau tempat nongkrong di lingkungan perumahannya.

Meskipun anjing sudah "lulus" dan tim anjing pemandu telah terbentuk, Teng masih harus memantau untuk memeriksa bahwa anjing-anjingnya dijaga baik, pemiliknya senang dan bersahabat dengan anjingnya.

Rasanya seperti kencan pertama. Dan saya makcomblangnya."

Selain itu, juga untuk mencari tahu apakah mereka ingin anjingnya dilatih untuk memahami jalur baru supaya mereka bisa menjelajahi tempat baru bersama-sama.

"Dan kalau pawangnya pindah ke rumah baru atau butuh pertolongan untuk memberi arah ke rute baru, saya akan turun tangan dan melatih mereka kembali," ucap Teng.

Menyediakan satu ekor anjing pemandu menelan biaya sekitar S$45.000 (Rp572 juta) hingga S$50.000 (Rp636 juta), dan itu sudah termasuk biaya melatih anjing dan pawangnya. Semua ini sepenuhnya dibiayai oleh Guide Dogs Singapore, dan sebagian besar dananya berasal dari sumbangan dan hibah dari masyarakat.

Namun, klien masih harus membayarkan makanan dan perawatan anjingnya dengan tarif subsidi mitra Guide Dogs Singapore. Yayasan ini juga menawarkan perawatan gratis untuk anjing pemandu.

Di Singapura, setiap tim anjing pemandu membawa kartu tanda yang menyertakan informasi nama anjing dan pemiliknya. (Foto: Dok. Guide Dogs Singapore)

MEMBERDAYAKAN PENYANDANG TUNANETRA

"Meski hanya ada sembilan tim anjing pemandu yang aktif, dampak anjing-anjing ini pada kehidupan seseorang sangatlah luar biasa," tegas Teng.

Teng menceritakan kepada CNA tentang satu klien yang, usai mendapat anjing pemandu, pergi melakukan perjalanan solo panjang pertamanya sejak lima atau enam tahun yang lalu.

"Hanya agar dapat melewati dua jalan untuk membeli bahan makanan sendiri sudah merupakan suatu pencapaian luar biasa," ucapnya.

"Kebebasan kecil seperti ini sering dipandang sebelah mata, namun baginya seperti memperoleh kembali kemandirian yang hilang bersama penglihatannya.

Klien lain, yang masih memiliki penglihatan sedikit, kesulitan mengenal perubahan di permukaan tanah. Tangga dan jalur landai membuatnya sangat cemas, dan dia menggunakan tongkat supaya dia merasa aman. Eskalator sudah pasti tidak bisa.

"Dia tak mau mengambil jalan itu," kata Teng. "Tapi setelah enam bulan bersama dengan anjing pemandunya, dia minta saya untuk melatihnya menggunakan eskalator kembali. Ini kemajuan besar.

"Dia juga menjadi satu-satunya orang yang merawat ayahnya yang sudah lansia. Dengan anjing pemandu, dia kini jadi percaya diri untuk pergi keluar dari rumahnya dengan sendiri."

Terlepas dari dampak positifnya, anjing pemandu dan pawangnya masih sering miskomunikasi.

Sebagaimana pemilik anjing pemandu lainnya, Gary merasakan perubahan positif pada kesehatan mental dan emosionalnya setelah bertemu dengan anjingnya, Matt. (Foto: Dok. Guide Dogs Singapore)

"Beberapa orang mengira anjing itu kotor dan tidak pantas berada di tempat umum, atau suka menggigit," Teng memaparkan.

"Tapi mereka bukan hewan peliharaan, bukan juga agresif. Mereka sudah dilatih sebagai anjing pekerja yang siap dibawa ke ruang publik, sebab kalau tidak, mereka tidak akan cocok untuk menjadi anjing pemandu.

"Seperti halnya anjing polisi, mereka punya tugas penting."

Dia ingat dengan kejadian baru-baru ini di MRT. Salah satu kliennya menyuruh anjing pemandunya untuk "stop" sebelum menaiki kereta. Namun, seorang penumpang yang bermaksud baik membungkuk dan memberi anjing itu isyarat untuk masuk.

"Anjing itu bingung dan masuk ke kereta tepat saat pintu mulai tutup," kata Teng. "Karena pawangnya buta sepenuhnya, dia mengikuti anjingnya. Tapi waktunya tidak tepat, dan dia tersandung dan akhirnya kakinya terluka."

Pekerja yang tadi mengalihkan perhatian anjing itu, tidak meminta maaf maupun berhenti sejenak untuk membantu perempuan tersebut setelah terjatuh.

"Ini mengapa sangat penting untuk kasih ruang bagi anjing pemandu dan pemiliknya," Teng menekankan. "Mereka harus fokus, atau ini bisa berbahaya."

Bessie, salah satu klien Guide Dogs Singapore, dengan anjing pemandunya, Jade, tengah menikmati keseruan di Sentosa. (Foto: Dok. Guide Dogs Singapore)

Menurut Guide Dogs Singapore, tidak ada statistik yang menunjukkan jumlah orang tunanetra di Singapura.

Untuk perkiraan jumlah yang dapat menjadi acuan bagi kegiatan dan layanan mereka, mereka merujuk pada studi tahun 2019 dari klinik mata Lang Eye Centre. Studi tersebut menyatakan bahwa ada sekitar 40.000 tunanetra dan orang dengan gangguan penglihatan di Singapura.

"Jumlah orangnya sudah sangat banyak, dan kalau anjing pemandu bisa membuat mereka merasa lebih mandiri, lebih percaya diri dan tidak sendiri, kami ingin mengupayakan hal itu," Teng mengatakan.

Seiring pertumbuhan yayasan tersebut, dan setelah menerima pengakuan global sebagai anggota Federasi Anjing Pemandu Internasional baru-baru ini, Teng senang bahwa dia tidak akan lagi menjadi satu-satunya pelatih anjing pemandu bersertifikasi di Singapura.

Menjelang akhir tahun, peserta lain akan lulus dari kursus serupa di Melbourne dan bergabung dengannya untuk melatih tim anjing pemandu di Singapura.

"Sebisa mungkin, kami ingin setiap penyandang tunanetra merasa berdaya," ucapnya. "Dan kalau anjing pemandu menjadi pilihan tepat untuknya, kami akan lakukan yang terbaik untuk mewujudkannya."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps/da

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan