Puasa 16 jam per hari di Selandia Baru, Peggy Melati Sukma tetap semangat beternak dan berdakwah
Selain terjun langsung mengurus sapi, Peggy dan suaminya mengelola masjid yang mengadakan buka puasa bersama setiap pekan untuk sekitar 100 orang selama Ramadan. Baginya, dunia hiburan menjadi masa lalu.
Aktris dan pendakwah Peggy Melati Sukma Khadijah pada salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Instagram/@peggymelatisukma_khadijah)
Peggy Melati Sukma telah meninggalkan gemerlap dunia hiburan dan memilih jalan hidup baru di Selandia Baru bersama suaminya, Syekh Reza Abdul Jabbar. Kini, ia aktif berdakwah sekaligus mengelola peternakan besar yang mereka miliki.
Dalam kunjungannya ke Indonesia, tepatnya di Balai Kartini, Jakarta Selatan, pada Minggu (9/3), Peggy berbagi cerita tentang kehidupannya yang kini jauh berbeda.
Peggy mengaku merindukan teman-temannya di industri hiburan, namun tak ada keinginan untuk kembali ke sana.
"Kangen sama teman-teman. Jarang ketemu ya. Kalau dunia hiburannya sudah selesai. Sekarang mengabdi aja untuk umat dan kemanusiaan," kata Peggy, dikutip dari Detik.
Kehidupan di Selandia Baru menurut Peggy penuh tantangan, terutama karena ia dan keluarganya harus turun langsung mengurus peternakan.
Dengan lahan luas dan banyak sapi yang harus dirawat, tak ada istilah hanya duduk di belakang meja.
"Di New Zealand, nggak bisa cuma tunjuk-tunjuk. Walaupun Allah sudah memberikan amanah berupa kepemilikan sapi dan lahan yang luas, di sana semua harus terjun langsung. Nggak ada yang hanya duduk di belakang meja," jelasnya.
Suaminya, Syekh Reza, turut andil dalam setiap aspek peternakan.
Peggy menekankan bahwa seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak mereka, juga terlibat aktif dalam mengurus sapi, lahan, dan berbagai tugas lainnya.
"Apalagi Sheikh benar-benar menguasai semuanya dari A sampai Z. Jadi, istri dan anak-anak juga ikut terjun langsung. Kami mengurus sapi, lahan, dan banyak hal lainnya," ujar Peggy.
Selain mengelola peternakan, Peggy juga menjalankan aktivitas dakwah.
Di Selandia Baru, ia dan suaminya mengelola masjid yang secara rutin mengadakan buka puasa bersama untuk sekitar 100 orang setiap pekan selama Ramadan.
Meski jauh dari Indonesia, ia merasa memiliki tanggung jawab besar untuk melayani umat.
"Di sana kami tinggal di South, bagian paling selatan yang dekat dengan kutub selatan. Jadi walaupun musim panas, udaranya tetap dingin," terang Peggy.
"Subuh jam 5 pagi, buka puasa jam 9 malam. Ramadan tahun ini siangnya panjang," tambahnya, dikutip dari Kompas.
Meski demikian, Peggy bersyukur karena suhu di sana berkisar antara 18 hingga 21 derajat Celsius, membuatnya lebih mudah beradaptasi meski waktu puasa lebih lama.
Saat kembali ke Indonesia, Peggy mengaku senang bisa merasakan suasana yang lebih hangat, terutama bertemu dengan matahari terik.
"Jadi kangen sama mataharinya, walaupun tentu dengan keprihatinan mengirimkan doa kepada saudara-saudara kita yang sedang menghadapi banjir ya," ucapnya.
Peggy juga rindu suasana Ramadan di Indonesia, terutama kemudahan mendapatkan makanan untuk berbuka.
"Jadi kangennya sama Indonesia, makanan di mana-mana, yang masak banyak, yang jualan banyak. Jadi datang ke sini rasanya bisa menikmati, ya tentu di sana juga menikmati ya. Menikmati amal solehnya, memasak, menyiapkan makanan gitu ya," tambah Peggy.
Kunjungannya ke Indonesia kali ini bukan sekadar melepas rindu, tapi juga untuk berdakwah di sembilan kota hingga 16 Maret mendatang, seperti diberitakan Suara.
Meski hidup di lahan luas bersama sapi dan kuda, panggilan untuk menyebarkan kebaikan tak pernah padam.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.