Skip to main content
Iklan

Lifestyle

'Lebih seru dari terapi': Nyanyi bareng strangers jadi aktivitas pelepas penat di Singapura

Siapa sangka, bernyanyi bersama sekumpulan orang tak saling kenal dalam paduan suara dadakan ternyata bisa jadi bentuk healing yang menyenangkan.

'Lebih seru dari terapi': Nyanyi bareng strangers jadi aktivitas pelepas penat di Singapura

Suatu sesi kumpul Sing Song Social Club. (Foto: Nik Voon)

SINGAPURA: Pada suatu Senin malam di lobi bekas sekolah, sejumlah musisi terkenal di Singapura berkumpul dengan ratusan orang asing, termasuk penulis artikel ini. 

"Coba kelilingi ruangan dan ambil ruang sebanyak mungkin," perintah penyanyi sekaligus penulis lagu Benjamin Kheng. "Tarik nafas, dan saat kalian keluarkan, ucapkan 'ahh...'"

Kami pun mengikutinya, menciptakan suara yang sangat merdu yang bergema memenuhi ruangan yang luas. Itu baru pemanasan. 

Dua jam kemudian, kelompok kami yang semrawut menyanyikan lagu patah hati sejuta umat dari Jordin Sparks tahun 2009, No Air, dengan nada sempurna (setidaknya menurut telinga awam saya) dalam harmoni enam bagian.

Kamu mungkin pernah melihat klip tentang paduan suara dadakan yang beredar di media sosial. Biasanya, para peserta yang tidak saling kenal itu terlihat berjalan mengelilingi ruangan, sambil menyanyikan lagu populer dengan berbagai harmoni suara. 

Bagi kamu yang belum pernah mencobanya, rasanya persis seperti yang terlihat: tanpa beban dan melegakan.

Berkat info dari tetangga, saya berhasil mendapat tiket untuk dua sesi Sing Song Social Club, perkumpulan paduan suara yang diprakarsai oleh penyanyi multi-talenta Singapura, Aarika Lee.

Penyanyi Aarika Lee memimpin peserta dalam sesi Sing Song Social Club di New Bahru. (Foto: Nik Voon)

Ia juga sudah melihat potongan klip serupa di Instagram dan membagikannya ke teman-temannya, berharap ada seseorang yang mau mengadakan kegiatan serupa di Singapura. 

"Lalu, tiba-tiba saya pikir, kalau ingin buat kegiatan yang belum pernah ada, saya saja yang buat sendiri," celotehnya sembari menikmati kentang goreng dan jus hijau di suatu sore hari kerja.

Yang ia butuhkan hanyalah penyedia tempat dan pengajar musik lainnya yang dapat memandu kelompok soprano, tenor dan bass. "Jadi pada dasarnya, saya cuma butuh empat dukungan supaya ini berjalan," terangnya. 

Aarika langsung mendapat dukungan dari spot baru yang sedang hits di New Bahru dan teman-temannya: Benjamin Kheng, Nathan Hartono dan Sandra Riley Tang (alias RRILEY).

Dari kiri: Nathan Hartono, Aarika Lee dan Benjamin Kheng pada sesi kumpul Sing Song Social Club di New Bahru. (Foto: Nik Voon)

Langkah selanjutnya: Mengumpulkan orang-orang yang suka bernyanyi. "Nathan bikin aransemen lagu I Wanna Dance With Somebody-nya Whitney Houston, dan kami mengajak teman-teman dan keluarga kami untuk datang. Kami juga mengajak teman-teman yang kami jumpai (di New Bahru). Kami bilang, 'Hai, kami mau gelar acara di atas nanti. Mau ikut, enggak?'"

Tentu saja, mereka mau ikut. Siapa yang akan menolak undangan malam bersama dengan musisi ternama di Singapura? Saat malam itu berakhir November tahun lalu, semua orang tidak sabar untuk melakukannya lagi. 

Sebulan kemudian, Aarika mengadakan satu sesi paduan suara dadakan lagi hingga berhasil menarik total 56 peserta. Sejak itu, jumlahnya kian bertambah dua kali lipat. Sekarang, Sing Song Social Club menjadi salah satu kegiatan yang paling diminati di Singapura.

BISA MENAHAN NADA?

Kamu tak perlu punya pengalaman bernyanyi untuk mendaftar ke Sing Song Social Club. Syaratnya, hanyalah kamu berminat bernyanyi dengan orang lain dan bersedia tidak mengecek ponsel selama dua jam. 

Untuk pemanasan, kami membentuk lingkaran besar dan melakukan vokalisasi dengan menaikkan oktaf. Kalau oktafnya terlalu tinggi, kami turunkan, agar pembinanya dapat mengelompokkan penyanyi ke dalam grup bass, tenor, alto, dan soprano.

Penulis bersama tetangganya, Grace, mengenakan kaus LA Lakers pada sesi kumpul Sing Song Social Club. (Foto: Adam Tun A)

Tergantung aransemen musiknya, bagian kamu bisa jadi sesederhana menyanyikan melodi utamanya atau sesulit menahan kumpulan nada yang rumit. 

Namun begitu, keindahan paduan suara terletak pada perbedaan kemampuan setiap anggotanya. Kalau kamu ragu, cukup turunkan nadamu dan kembali bergabung kalau sudah kembali pada iramanya. 

Maka dari itu, bernyanyi dalam paduan suara adalah soal kebersamaan, saling mendengarkan dan bernafas bersama. Tanpa sadar, kamu sudah terbawa serta oleh musiknya.

Menguasai bagian suara akan terasa sulit jika kamu baru mencobanya, tapi ketika seluruh paduan suara mulai padu, hasilnya akan sangat memuaskan. 

Mendengar harmoni suara yang menenangkan dan menggetarkan langsung membuat suasana hati terangkat seketika, bagai obat penghibur di dunia yang terpecah belah ini.

Ada saat-saat ketika beberapa dari kami terbuai dalam permainan instrumen lagu Natasha Bedingfield, Unwritten. Pun demikian, kami tetap menyanyikannya dengan sepenuh hati, melirik satu sama lain dan tertawa geli sepanjang nada. 

Walau kami baru berjumpa dua jam yang lalu, hubungan kami begitu terasa dan murni, dan hanya musik yang dapat menyatukan kita semua.

Sesi paduan suara Sing Song Social Club di Singapura. (Foto: Nik Voon)

"Lebih seeru daripada terapi," komen satu peserta di Instagram.

"Ini akan jadi rutinitas bulanan yang tak bisa ditawar-tawar! Aku rela ninggalin suami dan anak tiap bulan cuma buat ikut ini lagi dan lagi! Orang-orangnya ramah dan seru banget!" tulis yang lain.

Komentar yang paling umum tentunya, "Cara gabungnya bagaimana?"

KAMU BEBAS MERASA BAHAGIA

Penyanyi Aarika Lee tengah mempersiapkan para peserta pada sesi kegiatan Sing Song Social Club. (Foto: Adam Tun A)

Beberapa pekan sebelum menggelar masing-masing acara, Aarika membagikan tautan pendaftaran ke Sing Song Social Club pada IG Stories-nya. 

Namun, peserta sebelumnya sudah mendapatkan tautannya lebih dulu di kanal Telegram yang dibuat privat agar jumlahnya tetap terkendali.

"Tujuan utamanya adalah menumbuhkan komunitas secara perlahan agar bisa mengatur budaya dan nadanya. Kami betul-betul ingin mengembangkan ruang aman dan juga kolaboratif. Tidak boleh ada ego yang menghalangi kegiatan malam itu, dan menurut saya, kami dapat mewujudkannya jika kami menumbuhkannya secara perlahan," jelas Aarika. 

"Semakin besar kelompoknya, semakin susah mendengar bagian-bagian [suara] dan semacamnya. Jika terlalu besar dan jumlah pembina tidak memadai, kegiatannya takkan berjalan seru."

Lee dan teman-temannya tidak mengambil satupun keuntungan dari aktivitas ini. Dan jangan salah, menyusun paduan suara dadakan ternyata sangat melelahkan. 

Musik harus diaransemen dan disusun. Kemudian, jadwal latihan harus selaras sebelum paduan suara bernyanyi bersama. 

Lalu, ada juga perihal logistiknya, media sosial, tiket, dan cetak lembar musik. Semua ditangani oleh Lee yang juga bekerja sebagai dosen honorer di LaSalle School of the Arts and mengurus tiga anak.

"Tapi yang paling diingat adalah orang-orang pada bilang, 'Waduh, jadi selama ini kamu buat ini tanpa bayaran?'" kata Aarika sambil tertawa. 

"Dan mereka merasa ingin menyumbang kontribusi kembali, itu luar biasa. Kami pernah menerima relawan untuk bertugas mengambil foto atau video. Ketika kami sedang butuh bantuan untuk menyusun musik, satu orang langsung bilang, aku saja. Dan kemudian ada orang-orang yang bilang, 'Hai, aku tak bisa bantu musiknya tapi aku bisa bantu urus registrasi, semacamnya. Saya kagum sekali."

"Saya suka dengan ide untuk membuang anggapan kalau mau menikmati sesuatu, harus selalu bayar," tambahnya. 

"Saya sangat berharap kegiatan ini selalu gratis supaya dapat diakses banyak orang. Selagi kita bisa mempertahankannya acaranya tetap gratis, saya sudah senang."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan