Modal Rp16 juta, dijual Rp33 miliar: Video pabrik China bongkar harga asli tas branded, bisa dipercaya?
Dalam video bertajuk "Trade War TikTok", para produsen mengklaim bahwa berbagai merek ternama seperti Hermès, Prada, dan Chanel, dibuat di pabrik di China, kemudian dikirim ke Eropa untuk diberi label "Made in France" atau "Made in Italy" lalu dijual di butik-butik dengan harga selangit.
Media sosial TikTok tengah dihebohkan video pemilik dan pekerja pabrik di Tiongkok yang membongkar proses dan biaya asli produksi barang-barang mewah, di tengah memanasnya tensi dagang AS-China, akibat tarif impor yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan menaikkan tarif impor barang dari China sebesar 145 persen dalam waktu 90 hari. Sebagai respons, pemerintah Tiongkok juga menggandakan tarif untuk produk-produk asal Amerika hingga mencapai 125 persen.
Perang tarif ini kemudian memicu perang informasi di media sosial, terutama TikTok, yang dibanjiri berbagai video yang mengungkap harga asli barang-barang branded dan menyindir konsumen Barat yang dinilai terlalu membeli barang mewah hanya untuk gengsi.
Dalam video bertajuk "Trade War TikTok", para produsen mengklaim bahwa berbagai merek ternama seperti Hermès, Prada, dan Chanel, dibuat di pabrik di China, kemudian dikirim ke Eropa untuk diberi label "Made in France" atau "Made in Italy" lalu dijual di butik-butik dengan harga selangit.
"Modal membuat tas (Hermés) Birkin itu cuma 1.000 dollar AS. Di butik, harganya minimal 10.000 dollar AS. Ayo, sini, beli sama saya saja," ujar akun @NewsNexus yang diakses pada Kamis (17/4).
Postingan ini juga merinci biaya setiap komponen dari tas Birkin — mulai dari perangkat keras, kulit, hingga benang—yang disebut hanya menelan ongkos produksi sekitar US$1.000 (Rp16 jutaan), tapi bisa dijual dengan harga mencapai US$2 juta (Rp 3 miliar) tergantung edisinya.
Ada pula video seorang pria yang menunjukkan sepatu mirip model Boston dari Birkenstock, dan menyebut bahwa ongkos produksinya hanya sekitar US$10 (Rp 168 ribu) per pasang.
Bahkan, ada akun TikTok yang terhubung langsung dengan toko di AliExpress yang menjual produk serupa hanya seharga US$15.
Tak hanya fashion, produsen kosmetik juga mengklaim bahwa biaya produksi kosmetik Chanel hanya US$5 (Rp83 ribuan). "Siapa yang membuat kosmetik Chanel? 42 persen dibuat oleh perajin China. Kami tidak membuat 'barang murahan', kami membuat barang mewah yang bersahaja," kata perempuan dalam video itu.
Namun, klaim-klaim yang beredar di TikTok ini bukan tanpa kontroversi. Secara resmi, berbagai rumah mode besar seperti Hermès, Louis Vuitton, Chanel, dan lainnya memang memiliki basis produksi di Eropa dan Amerika Serikat.
Menurut laporan Kompas, induk dari puluhan jenama mewah termasuk Fendi dan Givenchy, LVMH, tercatat memiliki pabrik di Saint-Pourçain-sur-Sioule (Prancis) dan Firenze (Italia).
Bahkan, LVMH membuka pabrik di Texas, AS, yang sempat diresmikan langsung oleh Presiden Trump pada 2019 — meski kemudian diketahui sebagai pabrik dengan performa terburuk dalam portofolio mereka.
Hermès bahkan dikenal sangat ketat soal produksi, dengan proses pembuatan yang bisa memakan waktu hingga 40 jam per tas, dilakukan oleh perajin terlatih di kota-kota seperti Pantin, Lyon, dan Normandy, Prancis.
Label "Origine France Garantie" (OFG) pun hanya diberikan jika mayoritas bagian dan biaya produksi berasal dari Prancis, menurut laporan Kompas.
Hingga saat ini, baik pihak brand-brand ternama maupun TikTok belum merilis pernyataan resmi terkait video-video viral tersebut, menurut laporan Liputan6.
Belakangan, netizen pun menyimpulkan bahwa "pabrik" di China yang muncul dalam video TikTok kemungkinan besar merupakan produsen barang dupe atau tiruan, karena mengklaim biaya produksi yang sangat rendah dan menggunakan material yang berbeda jauh dari produk asli.
Sejak viralnya klaim dari para produsen di China, warganet pun mengajak konsumen untuk berhenti membeli barang branded dan mulai membeli langsung dari pabrik demi harga yang lebih masuk akal.
Tak sedikit pula yang menganggap unggahan-unggahan ini sebagai bentuk "trolling psikologis" terhadap kelas menengah global yang terobsesi pada merek terkenal.
Pasalnya, mengapa harga barang mewah bisa sedemikian tinggi jika bahan dasarnya bisa murah dan proses produksinya terkesan 'biasa?
Para produsen di China menyebutkan bahwa konsumen sejatinya membayar bukan untuk kualitas produk semata, tapi untuk gengsi dan logo.
"Kalian itu membeli karena logonya. Jika kalian mau produk dari bahan yang sama, dengan harga sepersepuluh, bahkan kurang, silakan ke kami," kata salah satu video yang diedarkan ulang di X oleh akun @realnorma_kay.
Pada akhirnya, video-video viral ini membuka kembali perdebatan lama: apakah nilai dari suatu barang mewah benar-benar terletak pada kualitasnya, atau semata pada branding dan persepsi sosial yang menyertainya?
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.