Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Bukan cuma buat diet dan diabetes, obat hits Ozempic diduga bisa lawan kanker

Banyak penelitian menunjukkan Ozempic terkait dengan penurunan risiko kanker dan peningkatan angka kelangsungan hidup, meski diperlukan uji klinis lebih lanjut.

Bukan cuma buat diet dan diabetes, obat hits Ozempic diduga bisa lawan kanker

Satu kotak obat Ozempic produksi Novo Nordisk di sebuah apotek di London, Inggris, pada 8 Maret 2024. (REUTERS/Hollie Adams)

Beberapa studi ilmiah baru-baru ini menunjukkan bahwa obat GLP-1, atau dikenal juga dengan Ozempic, yang kerap digunakan untuk menurunkan berat badan dan mengelola diabetes mungkin juga dapat memberikan perlindungan terhadap berbagai jenis kanker.

Lebih dari 20 penelitian yang dipresentasikan dalam beberapa hari terakhir di pertemuan American Society of Clinical Oncology (ASCO) di Chicago menemukan bahwa pasien yang mengonsumsi obat-obatan tersebut memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami kanker maupun perkembangan penyakit yang lebih lanjut. 

Selain itu, mereka juga memiliki tingkat kelangsungan hidup yang lebih baik, serta respons yang lebih positif terhadap beberapa jenis pengobatan, dibandingkan dengan pasien yang tidak menggunakan GLP-1.

Berbagai studi itu mencakup analisis catatan klinis dan basis data yang melacak pasien yang menggunakan Wegovy atau Ozempic dari Novo Nordisk, Zepbound atau Mounjaro dari Eli Lilly, maupun terapi GLP-1 generasi lama.

Penelitian tersebut memang tidak dirancang untuk menunjukkan bagaimana atau mengapa penggunaan GLP-1 dapat memengaruhi pengobatan kanker. Namun, para peneliti meyakini bahwa dengan mengurangi peradangan, mengatur sinyal insulin, dan kemungkinan berinteraksi langsung dengan biologi tumor, obat-obatan ini dapat memberikan efek perlindungan bagi pasien kanker.

"Peradangan kronis merupakan jalur biologis mendasar yang terlibat dalam perkembangan dan progresi banyak jenis kanker," kata dr. Elizabeth Susan McDonald dari University of Pennsylvania, dikutip dari Reuters.

Pada Selasa (2/6), McDonald memaparkan hasil studi terhadap 110.000 perempuan yang menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan obat GLP-1 memiliki kemungkinan hingga 35 persen lebih rendah untuk mengembangkan kanker payudara dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya.

Meski obesitas sendiri telah lama diketahui sebagai faktor risiko untuk beberapa jenis kanker, McDonald mengatakan efek antiinflamasi dari GLP-1 kemungkinan besar juga berperan dalam pencegahan kanker.

Ilustrasi penggunaan Ozempic untuk diet. (Foto: iStock/aprott)

UNTUK BERBAGAI STADIUM KANKER PAYUDARA

Kelompok obat GLP-1 mencakup semaglutide, bahan aktif dalam Wegovy, Ozempic, dan Rybelsus; tirzepatide yang dipasarkan dengan nama Mounjaro dan Zepbound; serta Trulicity milik Lilly atau dulaglutide, dan liraglutide generasi lama dari Novo yang dijual dengan nama Saxenda dan Victoza.

Salah satu sinyal manfaat paling kuat berasal dari studi terhadap lebih dari 12.000 pasien yang menunjukkan bahwa penggunaan GLP-1 dikaitkan dengan kemungkinan yang jauh lebih rendah bagi kanker untuk berkembang menjadi penyakit metastatik, terutama pada kanker payudara, paru-paru, kolorektal, dan hati.

Pasien dengan jenis kanker tersebut yang menggunakan liraglutide, pramlintide, dulaglutide, tirzepatide, lixisenatide, atau semaglutide memiliki kemungkinan 38 persen hingga 50 persen lebih rendah mengalami penyebaran penyakit dibandingkan pasien yang menggunakan kelompok obat diabetes lain yang dikenal sebagai gliptin.

Sejumlah studi juga menemukan bahwa penggunaan GLP-1 dikaitkan dengan penurunan insiden kanker, tingkat kelangsungan hidup yang lebih panjang, serta lebih sedikit kasus metastasis pada pasien kanker endometrium, kandung kemih, dan prostat, serta pada pasien dengan neoplasma usus halus dan kanker darah.

Ilustrasi pasien kanker payudara. (Foto: iStock/spukkato)

PENURUNAN RISIKO KEMATIAN

Analisis terpisah terhadap pasien yang menjalani perawatan di praktik onkologi komunitas di Amerika Serikat menemukan bahwa penggunaan GLP-1 berkaitan dengan peningkatan tingkat kelangsungan hidup secara keseluruhan pada enam jenis tumor, yaitu kanker payudara, prostat, kolorektal, paru-paru, hati, dan ginjal. Risiko kematian pada kelompok pengguna GLP-1 juga turun sekitar sepertiga.

Para peneliti juga melaporkan bahwa pasien kanker yang menerima imunoterapi seperti Keytruda dari Merck serta Opdivo atau Yervoy dari Bristol Myers Squibb tampaknya memperoleh hasil yang lebih baik ketika mereka juga menggunakan obat GLP-1. Temuan ini menunjukkan kemungkinan adanya interaksi dengan sistem kekebalan tubuh.

Pengguna GLP-1 yang memiliki diabetes tipe 2 dan penyakit ginjal stadium 3 juga menunjukkan angka kematian yang jauh lebih rendah serta tingkat beberapa jenis kanker yang lebih rendah, khususnya kanker paru-paru, kolorektal, dan kanker hati, dibandingkan mereka yang tidak menggunakan obat tersebut.

Meski obat GLP-1 memiliki peringatan mengenai kemungkinan kaitannya dengan salah satu jenis kanker tiroid berdasarkan penelitian pada hewan pengerat, para peneliti mengatakan temuan terbaru ini justru mengarah pada kemungkinan adanya manfaat yang berlaku di berbagai jenis tumor, bukan hanya pada kelompok kanker tertentu.

Obat-obatan ini awalnya dikembangkan untuk mengobati diabetes dan kemudian diketahui dapat membantu menurunkan berat badan. Selain itu, GLP-1 juga telah menunjukkan manfaat untuk mengurangi risiko penyakit jantung, sleep apnea, serta penyalahgunaan alkohol dan zat adiktif.

"Obat-obatan ini tidak pernah hanya berfungsi sebagai agen penurun glukosa," kata Dr Marcin Chwistek dari Fox Chase Cancer Center di Philadelphia dalam sesi pengarahan ASCO.

Ilustrasi penggunaan Ozempic untuk diet. (Foto: iStock/Munro)

PERLU PENELITIAN LEBIH LANJUT

Para peneliti mengingatkan bahwa hampir seluruh data yang dipresentasikan berasal dari studi observasional, sehingga masih ada kemungkinan faktor-faktor lain memengaruhi hasil penelitian.

Pasien yang diresepkan obat GLP-1 mungkin memiliki karakteristik yang berbeda dalam berbagai aspek penting, termasuk kondisi kesehatan secara keseluruhan, akses terhadap layanan kesehatan, dan terapi lain yang dijalani. Semua faktor tersebut dapat memengaruhi hasil akhir.

Meski berbagai penelitian berupaya memperhitungkan sejumlah perbedaan tersebut, tak ada satu pun yang dapat membuktikan secara pasti bahwa obat GLP-1 bisa meningkatkan hasil pengobatan kanker.

Para pakar mengatakan, diperlukan uji klinis yang membandingkan pasien kanker yang menerima terapi standar ditambah GLP-1 dengan pasien yang hanya menerima terapi standar untuk memastikan manfaat antikanker secara jelas. Beberapa uji klinis saat ini sudah mulai direncanakan.

Manfaat terhadap kanker yang terlihat dalam berbagai penelitian juga tak tampak berkaitan secara langsung dengan efek penurunan berat badan dari obat-obatan tersebut. Hal ini mengindikasikan bahwa penurunan berat badan saja kemungkinan tak cukup untuk menjelaskan seluruh temuan yang ada.

Studi selama tujuh tahun yang melibatkan hampir 120.000 peserta menemukan bahwa GLP-1 dikaitkan dengan angka diagnosis baru kanker prostat yang lebih rendah pada laki-laki berisiko tinggi dibandingkan penggunaan obat seperti Propecia dari Merck dan Avodart dari GSK yang biasa digunakan untuk mengecilkan pembesaran kelenjar prostat.

Pengguna GLP-1 hanya mengalami penurunan berat badan yang "sangat kecil" setelah satu tahun, kata dr. Colton Jones dari University of Texas San Antonio Mays Cancer Center yang mempresentasikan studi tersebut di ASCO.

"Kami berhipotesis bahwa kombinasi antara penurunan berat badan, efek antikanker langsung, dan efek antiinflamasi mungkin menjadi faktor yang mendorong hubungan yang kami amati dalam studi ini," kata Jones.

Pakar ASCO, Chwistek, mengatakan bahwa sifat antiinflamasi dan kemampuan memodulasi sistem imun dari GLP-1 sudah lama mengisyaratkan bahwa obat ini mungkin memiliki manfaat yang lebih luas.

Merujuk pada salah satu studi terbesar yang dipresentasikan, Chwistek mengatakan, "Yang baru di sini adalah konsistensi hasilnya di berbagai jenis tumor. Data sebesar dan sekonsisten ini layak ditindaklanjuti dengan uji klinis acak prospektif."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan