Overwork 10 jam sehari, jutaan pekerja RI dibayangi penyakit kronis
Dampak jam kerja yang panjang bagi pekerja di Indonesia dikhawatirkan menyebabkan gangguan pada tekanan darah, gula darah, hingga kesehatan mental.
Ilustrasi pekerja perempuan pusing dan lelah bekerja di depan laptop. (Foto: iStock/Doucefleur)
JAKARTA: Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin (BGS) menyoroti tingginya angka pekerja di Indonesia yang menghadapi jam kerja berlebihan atau overwork. Ia menekankan, pekerja harus menjaga kebutuhan dasar tubuh, karena jika tidak maka berbagai penyakit kronis dapat mengintai.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 40,43 persen pekerja tercatat bekerja melebihi jam normal, dengan rata-rata durasi hampir mencapai 10 jam dalam satu hari.
Angka tersebut diperkuat oleh Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang mencatat 25,47 persen penduduk bekerja lebih dari 49 jam per minggu. Artinya, satu dari empat pekerja di Indonesia masuk kategori bekerja secara berlebihan atau overwork.
Menanggapi kondisi ini, Menkes BGS menilai overtime tidak selalu menjadi masalah, selama kebutuhan dasar tubuh tetap terpenuhi, terutama waktu tidur dan pengelolaan stres.
"Harus tidur cukup, overtime nggak apa-apa, yang penting tidurnya 7-8 jam sehari dan jangan stres," ucap Budi, Rabu (28/1), dikutip dari Liputan6.
Ia juga menyinggung dampak kesehatan mental yang bisa muncul akibat beban kerja berlebih. Menurutnya, pekerja yang mulai merasakan tekanan psikologis dapat memanfaatkan program cek kesehatan gratis untuk melakukan skrining lebih lanjut.
"Kalau kesehatan mental itu mesti cek kesehatan gratis," imbaunya.
RISIKO TERSERANG PENYAKIT
Sementara itu, Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi mengingatkan bahwa overtime baru menjadi berisiko ketika tidak diimbangi dengan pola hidup sehat.
Tubuh yang terus dipaksa bekerja tanpa asupan gizi memadai, aktivitas fisik, dan waktu istirahat yang cukup akan mengalami gangguan metabolisme.
Dalam beberapa kasus, kelelahan berkepanjangan bisa memicu kenaikan tekanan darah. Jika dibiarkan, kondisi tersebut meningkatkan peluang munculnya penyakit tidak menular yang lebih serius.
"Yang pasti kan tubuh kita butuh mekanisme untuk menjaga metabolisme, jadi kalau misalnya asupan gizi kita baik, sebenarnya work life balance, olahraganya tetap ada, itu aman," ucapnya, dikutip dari Detik.
Selain itu, dr. Nadia menekankan pentingnya kepekaan terhadap sinyal yang dikirim tubuh. Setiap orang, menurutnya, perlu memahami batas adaptasi fisik masing-masing saat menghadapi jam kerja panjang.
"Jadi harus dipastikan kondisi-kondisinya overtime seperti apa, selama tubuh kita masih bisa adaptasi dengan kondisi tersebut, tidak apa-apa," kata dia.
Namun, ketika kelelahan sudah melewati ambang wajar, dampaknya bisa berantai. Gangguan metabolisme dapat menyebabkan lonjakan tekanan darah dan gula darah yang pada akhirnya berisiko berkembang menjadi penyakit serius.
"Tapi kalau overtime sudah berlebihan pasti misalnya tensi bisa naik gula darah bisa naik karena metabolisme kita terganggu, otomatis kalau tensi naik gula darah naik sering pusing itu lama-lama bisa berpotensi gula naik tensi naik, dan nanti menjadi penyakit jantung, stroke, karena semua berawal dari terlalu capek," pungkasnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.