Nunung Srimulat rutin ke psikiater, mengapa penyintas kanker masih perlu perawatan mental?
Komedian Nunung dalam salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Tangkapan layar Instagram @nunung63.official)
JAKARTA: Pelawak Nunung Srimulat mengaku tidak berpuasa pada Ramadhan tahun ini karena masih harus menjalani berbagai pengobatan, termasuk rutin ke psikiater. Nunung diketahui adalah seorang penyintas kanker payudara.
"Kalau saya sebetulnya belum puasa di Ramadan kali ini karena harus konsumsi obat, kan, nggak boleh putus. Alhamdulillah keluarga besar saya kayak suami puasa. Jadi saya harus melayani kayak masak untuk suami buka, sahur," kata Nunung kepada Detik pada pekan ini.
Nunung dinyatakan telah sembuh dari kanker payudara yang dideritanya pada Maret 2024 setelah satu tahun menjalani pengobatan. Meski sudah bebas dari kanker, dia mesti menjalani berbagai perawatan kesehatan, terutama karena penyakit gula dan GERD yang dialaminya.
Selain itu, dia masih menjalani perawatan kesehatan mental dengan mengunjungi psikolog dan psikiater setiap bulannya.
Diwawancara Kapanlagi.com pada Februari lalu, Nunung mengatakan bahwa dia masih menghadapi ketakutan akan kanker yang pernah diidapnya sehingga harus menemui psikiater untuk meredam kegelisahan tersebut.
PENTINGNYA PSIKIATER BAGI PERAWATAN KANKER DAN PENYINTASNYA
Mengutip situs Cancer Center, kehadiran psikiater penting di dalam tim medis bagi pasien dengan kanker. Pasalnya, selain sakit pada fisik, kanker juga menyerang mental penderitanya dengan stres atau depresi.
"Kanker membuat pasien secara langsung berhadapan dengan kematiannya sendiri, sehingga hal ini bisa sangat menakutkan," kata Nancy Schell, psikiater di City of Hope, Cancer Center Chicago, dikutip dari Cancercenter.com.
Perasaan stres tersebut masih akan menggelayut meski kanker telah hilang dari tubuh pasien.
"Perasaan sedih dan marah yang berkepanjangan dapat mengganggu kehidupan sehari-hari penyintas kanker. Bagi banyak orang, perasaan ini menjadi berkurang seiring waktu. Namun bagi sebagian orang lainnya, bisa berkembang menjadi depresi," tulis sebuah artikel di Mayo Clinic.
Selain itu, penyintas kanker sangat rawan menderita Post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stres pasca-trauma. PTSD adalah gangguan kecemasan yang muncul ketika seseorang teringat pada kejadian yang traumatis.
Penelitian pada tahun 2019 yang dimuat di Canadian Oncology Nursing Journal menyebutkan bahwa 22 persen penyintas kanker mengalami PTSD.
Sebuah penelitian di Malaysia pada 2017 menyebutkan bahwa kejadian traumatis yang dialami penyintas kanker bisa berupa ketika di saat mereka didiagnosis menderita kanker, menjalani perawatan, atau ketika dinyatakan sembuh. Bagi penderita PTSD, bayangan traumatis ini kerap muncul dan mengganggu keseharian mereka.
Selain itu, kejiwaan penyintas kanker juga bisa terganggu akibat perubahan bentuk fisik, seperti warna kulit, naik atau turun berat badan, atau kehilangan anggota tubuh. Hal ini membuat mereka akhirnya menarik diri dari pergaulan yang pada akhirnya mengganggu hubungan sosial.
Beberapa penyintas kanker, tulis Mayo Clinic, juga merasa kesepian karena ditinggalkan oleh banyak orang. "Teman dan keluarga mungkin tidak yakin bagaimana cara membantu Anda. Beberapa orang bahkan mungkin takut pada Anda karena Anda pernah menderita kanker." tulis Mayo Clinic.
Untuk mengatasi ini, psikolog dan psikiater berusaha mengurai permasalahan kejiwaan yang dialami penyintas kanker untuk mencari cara penyembuhannya.
Selain terapi psikologis, psikiater juga akan memberikan obat-obat anti-depresan atau anti-anxiety untuk menekan stres dan meningkat mood pasien.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.