Kebanyakan acara pas liburan Nataru malah bikin kamu galau? Ini kata psikolog
Memaksakan diri memenuhi ekspektasi sosial bisa bikin galau ketimbang sekadar mengikuti preferensi pribadi kita sendiri – baik untuk tinggal di rumah atau bepergian keluar.
Jika kamu tidak ingin merayakan Natal dan Tahun Baru dengan perayaan meriah, mengapa tidak memberi dirimu kesempatan untuk merayakannya dengan sederhana tahun ini? (Foto: iStock/10174593_258)
Bagi banyak orang (termasuk saya) perayaan akhir tahun biasanya dipenuhi dengan acara kumpul-kumpul bersama teman-teman dan keluarga, dengan bermacam-macam makanan dan minuman. Kumpul-kumpul pada masa liburan juga ditunggu-tunggu rekan-rekan media setiap tahunnya.
Namun, meskipun saya menikmati acara-acara tersebut, saya lebih memilih bergaul secara konsisten sepanjang tahun daripada memaksakan diri untuk menghadiri banyak reuni dalam sebulan. Pasalnya, saya malah akan jadi lelah sampai-sampai pada akhir musim liburan rasanya butuh libur tambahan hanya untuk mengisi ulang tenaga.
Sejujurnya, Natal dan Tahun Baru yang ideal bagi saya adalah melakukan apa yang akan saya lakukan pada tanggal merah lainnya, yaitu beristirahat dari pekerjaan.
Bangun siang. Beres-beres di rumah. Berolahraga. Baca buku. Nonton TV atau film yang belum sempat ditonton. Hindari keramaian hari libur di tempat-tempat wisata. Dan yang terpenting, saya tidak perlu memiliki jadwal yang tetap.
Namun, terlepas dari rasa percaya diri saya di waktu lain, saya jarang berhasil merayakan Natal dan Tahun Baru dengan cara yang diam-diam saya inginkan. Biasanya saya akhirnya ikut tekanan teman sebaya dan rasa FOMO (fear of missing out - takut ketinggalan) untuk merayakan momen-momen ini dengan meyakinkan diri sendiri bahwa bersenang-senang adalah solusi untuk mengatasi kegalauan pas liburan.
Makanya enggak heran, terkadang saya merasa lebih kesepian dengan jadwal yang padat ketimbang jadwal yang kosong.
EKSPEKTASI ORANG LAIN
Jangan salah paham, saya tetap terbuka untuk nongkrong pas liburan, tetapi hanya saat saya memang mau ikut, bukan karena terpaksa.
"Mengikuti praktik liburan konvensional" mungkin sepertinya mengurangi rasa kesepian, sama halnya dengan melibatkan diri dalam aktivitas yang "normatif secara sosial", sehingga memberikan "rasa kebersamaan yang sementara atau mengalihkan perhatian dari kesendirian", kata psikolog klinis utama di Annabelle Psychology.
Namun, Dr. Annabelle Chow memperingatkan bahwa ketika kesempatan untuk bersosialisasi terbatas, ekspektasi kita sendiri tentang bagaimana kita seharusnya menghabiskan waktu liburan dapat "memperburuk rasa kesepian lantaran semakin jelasnya kesenjangan antara pengalaman pribadi dan gambaran sosial yang ideal".
Ekspektasi sosial dan budaya yang meningkat seputar perayaan tersebut diperkuat oleh kecenderungan media sosial untuk menciptakan kesan semu bahwa setiap orang sedang bersenang-senang. Mudah untuk melupakan bahwa "cara yang benar" untuk merayakan liburan bukanlah bagaimana menciptakan kesan tersebut – melainkan tentang perasaan kita menjalani masa liburan itu sendiri.
"Masalah muncul ketika kita mencampuradukkan koneksi dengan tindakan atau acara tertentu, seperti makan malam keluarga besar atau pesta," jelas Dr. Ong Mianli, kepala psikolog klinis di Lightfull Psychology.
"Kita jatuh ke dalam 'perangkap ekspektasi'; kita mulai menyamakan bentuk koneksi dengan nilai koneksi tersebut, sehingga memicu tekanan yang sia-sia jikalau kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasi kita."
Hubungan yang didefinisikan secara sempit menjadi hal yang conditional (bersyarat), tambah Dr Ong.
"Orang mungkin merasa kecewa, terasing, atau kurang dihargai jika mereka tidak dapat meniru versi kebersamaan yang ideal … entah karena geografi, keuangan, hubungan yang tegang, atau pilihan pribadi."
Sejumlah orang bahkan mungkin menginternalisasi ekspektasi yang tidak terpenuhi ini sebagai "kegagalan pribadi", sehingga mengakibatkan perasaan tidak mampu, kesepian, atau dendam.
Jadi, kita mungkin secara intelektual tahu bahwa cuplikan video reel 30 detik rumah yang dihias meriah milik teman kita hanyalah sebagian kecil dari kehidupan mereka, akan tetapi perasaan kesepian memang jarang masuk akal.
Dan meskipun jawaban yang jelas mungkin adalah melakukan detoks media sosial selama masa liburan, menyingkirkan faktor eksternal yang memperkuat budaya perbandingan hanyalah salah satu cara.
PENGARUH KENANGAN MASA LALU
Penyebab yang lebih berbahaya dan jarang dibahas yang mendorong keyakinan adanya "cara yang benar" untuk menghabiskan waktu liburan bisa jadi adalah pengalaman kita sendiri merayakan musim liburan sebelumnya dengan sangat meriah.
Kenangan dan nostalgia dapat mendorong kita untuk "mengejar pengalaman masa lalu" meskipun sebetulnya "tidak lagi mungkin atau memuaskan" bagi kita, kata Dr. Ong.
"Kita mengaitkan harga diri dengan apakah kita dapat terus mengikuti tradisi liburan orang lain dan bahkan kebiasaan kita sendiri, sehingga lupa bahwa hubungan yang tulus tidak perlu bersifat performatif."
Sejumlah orang, khususnya wanita, mungkin juga merasakan tekanan untuk mengikuti ekspektasi sosial dan keluarga yang terinternalisasi, dan karenanya "mengambil bagian yang tidak proporsional dalam perencanaan dan pelaksanaan". Mereka mungkin merasa seperti mereka diharapkan untuk menjadi host (tuan rumah), entertain (menghibur), dan mendekorasi rumah, sambil tetap harus mengurus pekerjaan rutin dan tanggung jawab keluarga, kata Dr. Chow.
“Ketidakseimbangan ini (walau dapat dilihat orang lain) dapat menyebabkan perasaan frustrasi dan kelelahan, terutama ketika peran ini terasa tidak adil atau tidak selaras dengan preferensi atau nilai pribadi (yang dapat) membebani dinamika keluarga.”
MENGHORMATI NORMA – SERTA PERASAAN KITA
Namun, ingin merayakan Natal dan Tahun Baru seperti tanggal merah biasa tidak berarti harus melawan arus sepenuhnya.
Misalnya, sarankan untuk mengadakan kumpul keluarga tahunan sebelum atau sesudah Natal, alih-alih pada tanggal itu sendiri. Atau gabungkan perayaan Natal dan Tahun Baru menjadi satu hari.
Tanggapi ekspektasi sosial dengan kritis, saran Dr. Ong.
“Kita dapat menghormati tradisi dan ekspektasi sambil menciptakan ekspektasi kita sendiri dengan tenang. Siapa yang memutuskan cara yang ‘benar’, dan apakah itu sejalan dengan nilai-nilai Anda?”
Selain itu, kenyataannya setiap orang memiliki situasi keluarga dan sarana keuangan yang sama sekali berbeda dengan yang tersirat dari postingan Instagram yang sempurna.
Misalnya, ada orang yang tidak memiliki ikatan keluarga dekat atau sedang berduka karena kehilangan orang yang dicintai; sementara yang lainnya berjuang untuk berpartisipasi dalam kegiatan liburan yang mahal seperti tukar kado atau bepergian ke luar negeri untuk mengejar "white Christmas" (Natal bersalju), kata Dr. Chow.
Menyadari kenyataan ini bagi orang lain dapat secara tidak sengaja juga membantu kita memvalidasi perasaan kita sendiri. Jadi, tidak apa-apa untuk mengatakan 'tidak' terhadap rencana atau tradisi yang tidak sesuai dengan kita. Anda bisa mengatakan, "Saya akan merayakan dengan sederhana tahun ini", sarannya.
"Menolak dengan sopan undangan yang lebih terasa seperti kewajiban daripada kesenangan dapat melindungi waktu dan energi emosional kita ... Menetapkan batasan ini dapat membantu menghindari stres yang sia-sia dan fokus pada apa yang benar-benar penting selama musim liburan."
Pada akhirnya, tidak ada satu cara yang fix menentukan bagaimana hari libur harus dirayakan, Dr. Chow menekankan.
Cara pribadi setiap individu untuk menandai acara tersebut "sama validnya dengan cara orang lain". “Entah itu berarti menghabiskan hari sendirian, ikut dalam aktivitas yang tenang, atau merayakan dengan beberapa orang terkasih, kita harus memprioritaskan apa yang membuat kita merasa benar-benar bahagia dan puas. Merangkul preferensi pribadi kita memungkinkan kita untuk mengalami liburan dengan cara yang terasa autentik dan bermakna," katanya.
"Cara yang tepat" untuk merayakan adalah "apa pun yang membuat Anda merasa paling nyaman, meskipun itu tidak konvensional", tegas Dr. Ong.
"Hubungan sejatinya tidak datang dari memenuhi ekspektasi, namun dari menghargai apa yang membuat kita merasa benar-benar utuh."
Dan itu berlaku dua arah – bagi kamu yang ingin tinggal di rumah maupun yang ingin pergi keluar. Kegalauan masa liburan jarang disebabkan oleh kenyataan, tetapi karena kita tidak menyadari (atau tidak dapat menerima) ekspektasi kita yang sebaliknya.
Lagipula, kesepian bukanlah terputus dari orang lain, melainkan terputus dari diri sendiri.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.