Skip to main content
Iklan

Lifestyle

NASA kirim 4 astronaut dalam misi Artemis II ke bulan, cetak rekor jarak terjauh dalam sejarah

Misi Artemis II akan membawa empat astronaut menempuh jarak sekitar 406.000 km ke luar angkasa, menjadikannya perjalanan terjauh yang pernah dilakukan manusia.

NASA kirim 4 astronaut dalam misi Artemis II ke bulan, cetak rekor jarak terjauh dalam sejarah

Misi Artemis II NASA untuk terbang melintasi Bulan, yang terdiri dari roket Space Launch System (SLS) beserta kapsul awak Orion, diluncurkan dari Pusat Antariksa Kennedy di Cape Canaveral, Florida, AS, pada 1 April 2026. (Foto: REUTERS/Joe Skipper)

CAPE CANAVERAL, Florida: Empat astronaut lepas landas dari Florida dalam misi Artemis II milik NASA pada Rabu (1/4). Ini merupakan perjalanan berisiko tinggi mengelilingi bulan yang menandakan langkah paling berani Amerika Serikat untuk membawa kembali manusia ke permukaan bulan pada dekade ini, dalam persaingannya dengan China.

Roket Space Launch System (SLS) milik NASA, yang dipasangi kapsul awak Orion di puncaknya, mulai menyala tepat sebelum matahari terbenam di Kennedy Space Center, Cape Canaveral, Florida, AS. Roket ini membawa kru perdananya, terdiri dari tiga astronaut Amerika Serikat dan satu astronaut Kanada, menuju orbit Bumi. 

Kendaraan luar angkasa setinggi 32 lantai itu melesat ke langit cerah dengan jejak kolom uap putih tebal yang menjulang tinggi, menurut laporan Reuters.

Administrator NASA Jared Isaacman menyatakan peluncuran ini merupakan pembuka untuk sejumlah misi berikutnya yang akan mencakup pembangunan pangkalan di bulan guna mendukung "kehadiran jangka panjang yang ingin kami ciptakan di permukaan [bulan]".

Jika misi berjalan sesuai rencana, kru yang terdiri dari astronaut NASA Reid Wiseman, Victor Glover, dan Christina Koch, serta astronaut Canadian Space Agency Jeremy Hansen, akan terbang mengelilingi bulan dan kembali dalam ekspedisi hampir 10 hari. Misi ini akan menguji kemampuan pesawat luar angkasa sambil membawa manusia menjelajah lebih jauh ke luar angkasa dibandingkan sebelumnya.

Misi ini merupakan uji terbang berawak perdana dalam program Artemis, penerus proyek Apollo era Perang Dingin milik NASA, sekaligus menjadi misi pertama di dunia yang mengirim astronaut ke sekitar bulan, keluar dari orbit Bumi, dalam 53 tahun terakhir.

Misi ini juga menjadi latihan penting bagi ambisi NASA untuk mendaratkan manusia di permukaan bulan pada dekade ini, setelah satu misi berawak lagi mengelilingi bulan. NASA menargetkan tahun 2028 untuk Artemis IV, yang akan menjadi pendaratan pertama di Kutub Selatan bulan, dengan tujuan mengungguli rencana China yang menargetkan misi serupa paling cepat pada 2030.

Terakhir kali astronaut berjalan di bulan, sebuah pencapaian yang sejauh ini hanya diraih oleh Amerika Serikat, terjadi pada misi Apollo terakhir pada 1972.

Misi Artemis II NASA untuk terbang melintasi Bulan, yang terdiri dari roket Space Launch System (SLS) beserta kapsul awak Orion, diluncurkan dari Pusat Antariksa Kennedy di Cape Canaveral, Florida, AS, pada 1 April 2026. (Foto: REUTERS/Steve Nesius)

'UNTUK SELURUH UMAT MANUSIA'

Setelah hampir tiga tahun menjalani pelatihan, kru ini menjadi yang pertama terbang dalam program Artemis milik NASA. Program Artemis merupakan proyek bernilai miliaran dolar yang diluncurkan pada 2017 untuk membangun kehadiran AS di bulan mulai dekade ini dan seterusnya, sebagai batu loncatan menuju misi ke Mars.

Beberapa menit sebelum lepas landas, astronaut Hansen asal Kanada, yang berada di dalam kapsul Orion berbentuk seperti permen gumdrop, mengatakan kepada pusat kendali misi di Houston: "Ini Jeremy, kami pergi demi seluruh umat manusia."

Direktur peluncuran Charlie Blackwell-Thompson mengatakan: "Reid, Victor, Christina, dan Jeremy, dalam misi bersejarah ini kalian membawa hati tim Artemis, membawa semangat keberanian rakyat Amerika dan mitra kami di seluruh dunia, serta harapan dan impian generasi baru."

"Semoga berhasil, selamat bertugas, Artemis II. Ayo, kita mulai," tambahnya.

Bulan pada fase gibbous di atas Ronda, Spanyol, setelah peluncuran misi terbang melintasi Bulan Artemis II milik NASA, yang menggunakan roket Bulan generasi terbaru, Space Launch System (SLS), dan kapsul awak Orion, pada 2 April 2026. (Foto: REUTERS/Jon Nazca)

Beberapa jam setelah lepas landas, tahap atas roket SLS berhasil terpisah dari kapsul Orion buatan Lockheed Martin dan modul propulsinya. Kru kemudian memulai salah satu uji awal: mengendalikan pesawat secara manual mengelilingi tahap atas roket untuk menunjukkan kemampuan manuvernya jika sistem otomatis utama mengalami kegagalan.

Peluncuran pada Rabu ini menjadi tonggak penting setelah lebih dari satu dekade pengembangan roket SLS milik NASA, sekaligus memberikan validasi yang selama ini ditunggu oleh kontraktor utama Boeing dan Northrop Grumman bahwa sistem peluncuran ini siap membawa manusia ke luar angkasa dengan aman.

NASA juga semakin mengandalkan roket yang lebih baru dan murah dari SpaceX milik Elon Musk dan pihak lain untuk mengirim astronaut ke orbit rendah Bumi.

Keberhasilan awal penerbangan Artemis II ini memberikan sentimen positif bagi NASA yang kehilangan sekitar 20 persen tenaga kerjanya akibat kebijakan pengurangan pegawai federal di era pemerintahan Trump tahun lalu.

"Sangat luar biasa," kata Presiden AS Donald Trump tentang peluncuran tersebut dalam pidato nasional terkait perang Iran.

"Mereka sedang dalam perjalanan dan Tuhan memberkati mereka, mereka adalah orang-orang pemberani. Tuhan memberkati empat astronaut luar biasa ini."

Kapsul Orion dari misi Artemis II meninggalkan Bumi dalam perjalanannya untuk melintas di dekat Bulan, setelah diluncurkan dari Pusat Antariksa Kennedy di Cape Canaveral, Florida, AS, pada 1 April 2026, seperti terlihat dalam cuplikan video. (Foto: NASA TV via REUTERS)

PERJALANAN TERJAUH DALAM SEJARAH

Misi Artemis II akan membawa empat astronaut menempuh jarak sekitar 406.000 km ke luar angkasa, menjadikannya perjalanan terjauh yang pernah dilakukan manusia.

Rekor perjalanan luar angkasa terjauh saat ini, sekitar 248.000 mil (399.000 km), dipegang oleh tiga astronaut dalam misi Apollo 13 pada 1970, yang mengalami masalah teknis setelah tangki oksigen meledak sehingga tidak dapat mendarat di bulan sesuai rencana.

NASA sebelumnya telah meluncurkan misi Artemis pertama tanpa awak pada 2022, mengirim pesawat Orion dalam jalur serupa mengelilingi bulan dan kembali ke Bumi.

Artemis II akan menjadi pengujian yang lebih besar bagi Orion dan roket SLS, sebuah program yang juga dikenal karena biaya yang membengkak dengan estimasi US$2 miliar (sekitar Rp34 triliun) hingga US$4 miliar (Rp68 triliun) per peluncuran.

SpaceX milik Elon Musk dan Blue Origin milik Jeff Bezos saat ini berlomba mengembangkan pendarat yang akan digunakan NASA untuk membawa astronaut ke permukaan bulan.

Artemis III sebelumnya direncanakan sebagai pendaratan astronaut pertama dalam program ini, tetapi Administrator NASA yang baru, Jared Isaacman, pada Februari 2026 menambahkan satu misi uji tambahan sebelum pendaratan tersebut dilakukan.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan