Skip to main content
Iklan

Lifestyle

'Aku harus lindungi keluarga': Momen mencekam sutradara peraih Oscar diserang dan ditahan Israel

Hamdan Ballal, sutradara film dokumenter No Other Land, mengungkapkan dirinya dikeroyok pemukim Israel setelah merekam aksi mereka menyerang rumah tetangganya yang tengah berbuka puasa. 

'Aku harus lindungi keluarga': Momen mencekam sutradara peraih Oscar diserang dan ditahan Israel

Hamdan Ballal, sutradara asal Palestina untuk film dokumenter pemenang Oscar, No Other Land, setelah diserang oleh pemukim Israel dan ditahan militer Israel pada 25 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Yosri Aljamal, Nuha Sharaf)

26 Mar 2025 02:34PM (Diperbarui: 26 Mar 2025 02:38PM)

Hamdan Ballal, sutradara pemenang Oscar untuk film dokumenter pemenang Oscar, No Other Land, akhirnya dibebaskan pada Selasa (26/3), sehari setelah ia diserang segerombolan pemukim Israel mengenakan topeng lalu ditahan militer Israel. Ia pun membeberkan momen menjekam penyerangan tersebut. 

Hamdan merupakan salah satu dari empat sutradara film dokumenter No Other Land, yang mendokumentasikan penghancuran desa-desa di Tepi Barat dalam konflik Israel-Palestina. 

Kepada Reuters, Hamdan mengungkapkan dirinya dikeroyok segerombolan pemukim setelah merekam aksi mereka menyerang rumah tetangganya yang tengah berbuka puasa (iftar) di Desa Susiya, dekat Hebron.

Ia kemudian kembali ke rumah untuk memastikan tempat tinggalnya sendiri tidak menjadi sasaran serangan.

"Aku hanya berjaga di luar, kalau-kalau ada pemukim atau tentara yang menyerang rumahku," kata Ballal setelah dibebaskan dari tahanan.

Ia menceritakan bentrokan kemudian tak terhindarkan. Hamdan terjerembab jatuh ke tanah, sementara tentara Israel berteriak menyuruhnya berdiri dan mengarahkan senjata ke arahnya. 

"Ini gila. Bayangkan keluargamu, anak-anakmu ada di dalam rumah. Aku harus melindungi mereka," ujarnya.

Salah satu sutradara film dokumenter peraih Oscar No Other Land asal Palestina, Basel Adra, memeriksa mobil yang rusak setelah pemukim Israel menyerang Susiya, Tepi Barat yang diduduki Israel, 25 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Mussa Qawasma)

Kepala dewan desa Susiya, Jihad Nawajaa, mengkonfirmasi penyerangan tersebut terjadi di desanya saat berlangsung acara berbuka puasa bersama. 

"Puluhan pemukim menyerang acara iftar. Para pemuda keluar untuk menghalau mereka, dan di pihak kami ada sekitar delapan orang yang terluka," katanya melalui sambungan telepon kepada Reuters. 

Polisi Israel kemudian menangkap tiga orang, termasuk Ballal yang mengalami luka dalam insiden tersebut.

"Ini bukan kali pertama pemukim menyerang acara kami, tetapi akhir-akhir ini serangan semakin sering terjadi," ujar Nawajaa. Ia juga menyebutkan bahwa dalam serangan kali ini, para pemukim mencuri sekitar 10 ekor domba milik warga desa.

Salah satu sutradara film dokumenter peraih Oscar No Other Land asal Palestina, Basel Adra, memeriksa mobil yang rusak setelah pemukim Israel menyerang Susiya, Tepi Barat yang diduduki Israel, 25 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Mussa Qawasma)

SERANGAN KIAN BRUTAL 

Insiden pada Senin (25/3) merupakan satu dari serangkaian serangan yang kerap dilancarkan oleh pemukim Israel di desa-desa Palestina dan komunitas Badui di Tepi Barat. 

Menurut laporan Reuters, mereka bahkan kerap mencuri ternak warga. 

Warga Palestina dan aktivis yang memantau berbagai serangan ini mengklaim polisi dan tentara Israel membiarkan aksi kekerasan semacam itu terjadi tanpa berusaha menghentikannya. 

Sementara itu, istri Hamdan Ballal, Lamia Ballal, mengungkapkan para pemukim sempat mengerumuni rumah mereka, sehingga suaminya keluar untuk mencegah mereka masuk secara paksa.

"Para pemukim menyerangnya dan mulai memukulinya, lalu dia ditangkap," katanya.

Selain itu, seorang warga Amerika-Kanada dari kelompok Center for Jewish Nonviolence, Anna Lippman, mengaku kelompoknya diserang oleh pemukim tak lama setelah mereka tiba di desa, sekitar 15 menit setelah kekerasan dimulai.

Ibu dari sutradara Palestina pemenang Oscar, Hamdan Ballal, berbicara kepada para aktivis dan media di Susiya, Tepi Barat yang diduduki Israel, 25 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Mussa Qawasma)

LEMPARAN BATU 

Di lain pihak, militer Israel (IDF) mengklaim telah terjadi konfrontasi kekerasan antara warga Palestina dan pemukim Israel setelah "teroris" melempar batu ke arah warga Israel.

"Pasukan IDF dan Polisi Israel tiba untuk membubarkan konfrontasi. Pada saat itu, beberapa teroris mulai melempar batu ke arah pasukan keamanan," demikian bunyi pernyataan IDF.

"Sebagai respons, pasukan menangkap tiga warga Palestina yang dicurigai melempar batu, serta satu warga Israel yang terlibat dalam konfrontasi," tulis IDF. 

Militer juga membantah laporan bahwa salah satu warga Palestina ditangkap saat berada di dalam ambulans.

Salah satu sutradara film dokumenter peraih Oscar No Other Land asal Palestina, Basel Adra, memeriksa mobil yang rusak setelah pemukim Israel menyerang Susiya, Tepi Barat yang diduduki Israel, 25 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Mussa Qawasma)

BALAS DENDAM KARENA MENANG OSCAR?

Film No Other Land yang disutradarai bersama oleh empat sineas asal Palestina dan Israel mendokumentasikan kisah penggusuran komunitas Palestina oleh Israel. Dokumenter ini berhasil memenangkan Piala Oscar untuk kategori Film Dokumenter Terbaik pada Academy Awards tahun 2025.

Ballal mengatakan bahwa ia mengenali salah satu pemukim yang menyerangnya.

"Ini bukan pertama kalinya," ujarnya. "Dia sudah sering menyerang rumahku dan bahkan pernah menggembalakan sapinya di kebun rumahku."

Rekannya sesama sutradara film No Other Land, Basel Adra, meyakini bahwa serangan terhadap Ballal bukan kebetulan. 

Kepada The Guardian, ia menyatakan peningkatan kekerasan oleh pemukim mungkin merupakan reaksi atas penghargaan yang diterima film dokumenter No Other Land di ajang Oscar.

Dari kiri: Basel Adra, Rachel Szor, Hamdan Ballal dan Yuval Abraham berpose dengan Piala Oscar untuk No Other Land sebagai Film Dokumenter Terbaik di Academy Awards ke-97 di Hollywood, Los Angeles, California, A.S., 2 Maret 2025. (Foto: REUTERS/Daniel Cole)

Menurutnya, para pemukim sengaja membawa tentara ke rumah keluarga Ballal sebagai aksi balas dendam atas film yang mereka buat, yang menggambarkan situasi di daerah Masafer Yatta — dekat lokasi serangan pada Senin (24/3). 

"Karena dia membawa kamera dan mendokumentasikan apa yang terjadi, aku yakin dia sengaja dijadikan target dan ini adalah bentuk balas dendam terhadapnya," ujar Adra.

Adra, yang menyaksikan serangan di Susya, menggambarkan kejadian itu sebagai sesuatu yang "mengerikan". 

"Ada puluhan pemukim bersama tentara Israel dan mereka mengancam kami dengan senjata," katanya. 

"Polisi ada di lokasi sejak awal tetapi tidak bertindak. Saat tentara menodongkan senjata ke arah kami, para pemukim mulai menyerang rumah-rumah warga Palestina."

"Hamdan berusaha melindungi keluarganya dan para pemukim menyerangnya. Tentara mulai menembak ke udara agar tidak ada yang bisa membantu Hamdan. Dia berteriak minta tolong. Mereka membiarkan para pemukim menyerangnya, lalu tentara menculiknya," tambahnya.

Sementara itu, Menteri Kebudayaan Israel menyebut kemenangan Oscar untuk film dokumenter kolaborasi Palestina-Israel ini sebagai "momen menyedihkan bagi dunia perfilman."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan