Mitos atau fakta: berkeringat sama dengan detoks? Ini kata para ahli
Di tengah cuaca panas belakangan ini, berkeringat memang tidak dapat dihindari. Namun, apakah berkeringat itu baik? Para ahli menjabarkannya.
Cuaca yang sangat panas beberapa hari terakhir ini menyebabkan kita kerap kali keringat ketika beraktivitas di luar ruangan ataupun di ruangan yang tidak terpasang pendingin udara.
Meskipun berkeringat merupakan salah satu tanda tubuh sehat dan berfungsi dengan semestinya, pernahkah terbersit, sebenarnya seberapa banyak dan sering kita berkeringat? Apakah berkeringat itu baik? Apakah sama berkeringat sama dengan membuang toksin-toksin (mendetoks) tubuh? Apakah boleh mandi saat berkeringat?
Simak penjelasan para ahli terkait hal ini.
BERAPA BANYAK KITA BERKERINGAT?
Jumlah keringat yang kita hasilkan akan bergantung pada aktivitas yang kita lakukan dan lingkungan tempat kita berada.
Biasanya, seseorang yang sehat menghasilkan 500ml keringat setiap jam saat melakukan aktivitas dengan intensitas rendah (seperti yoga atau berjalan), kata dr. Kok Wai Leong, konsultan senior dan ahli dermatologi di StarMed Specialist Centre, Singapura.
Jumlah ini bisa bertambah hingga mencapai 1 liter per jam jika kita melakukan aktivitas dengan intensitas tinggi, yakni aktivitas yang akan membuat kita merasa terengah-engah jika dilakukan sambil berbicara.
"Atlet dan mereka yang memiliki berat badan di atas rata-rata dapat berkeringat mencapai 2 liter per jam. Dalam satu hari, total produksi keringat bisa mencapai 10 liter, terutama dalam kondisi panas dan lembab," kata dr. Kok.
KERINGAT MEMBUAT BAGIAN KETIAK BAJU BASAH
Itu karena setiap tetes keringat mengandung mineral yang mengering menjadi residu pada pakaian. Mineral-mineral ini termasuk kalium, kalsium, dan magnesium, kata dr. Wang, yang memperkirakan kuantitasnya masing-masing berkisar dari 2 hingga 8 mmol/L, 0,2 hingga 2 mmol/L, dan 0,02 hingga 0,4 mmol/L.
Terkadang, berkeringat juga dapat membuat noda kuning di pakaian, namun biasanya bukan hanya keringat yang menjadi penyebabnya. Menurut dr. Kok, bahan kimia dalam antiperspiran atau deodoran yang kita gunakan, bercampur dengan keringat, yang menjadi penyebabnya.
KAOS OLAHRAGA MALAH BIKIN TAMBAH GERAH?
Ketika cuaca panas, seharusnya tidak masalah jika kita menggunakann legging, bra olahraga, atau kaos olahraga yang cepat kering setelah berolahraga.
Namun demikian, sebenarnya "pakaian longgar dan bahan yang dapat membuat kulit bernapas lebih baik ketimbang pakaian ketat atau legging di cuaca hangat untuk mencegah terjadinya ruam panas," kata dr. Kok.
"Dalam kondisi yang sangat lembab, tingkat penguapan keringat lebih rendah, menyebabkan akumulasi keringat di kulit. Oleh karena itu, kamu bisa mengganti pakaian tersebut dengan pakaian longgar dan bersih setelah berolahraga," ujarnya.
MENGAPA KERINGAT TERASA LENGKET SETELAH KERING?
Selain mengandung air, mineral, dan berbagai zat ekskresi, keringat juga akan "bercampur dengan lipid atau minyak yang ada di permukaan kulit," kata dr. Wang.
"Setelah komponen air dari keringat menguap, zat lain yang tertinggal di permukaan kulit menyebabkan rasa lengket."
BOLEHKAH MANDI SAAT MASIH BERKERINGAT?
Mandi saat berkeringat, menurut dr. Wang, dapat "mendinginkan kulit untuk mencegah ruam panas".
Dr. Wang mengaku tidak ada studi yang menemukan efek buruk mandi saat masih berkeringat.
"Menurut saya itu boleh-boleh saja," katanya, sembari menyarankan agar kita menggunakan sabun yang lembut dan bebas deterjen.
Ia juga menyarankan agar mandi dua kali sehari dengan durasi 10 hingga 15 menit, dan sebaiknya menggunakan air hangat ketimbang air panas.
Sementara menurut dr. Kok, sebenarnya disarankan untuk mandi segera setelah kita selesai berolahraga, "karena garam di keringat yang tertinggal dapat mengiritasi kulit."
Atau, jika tidak ingin mandi, kita bisa mengeringkan keringat terlebih dahulu dengan handuk bersih, sehingga keringat tidak menumpuk di lipatan kulit.
APAKAH BENAR BERKERINGAT SAMA DENGAN DETOKS?
Tujuan utama tubuh berkeringat adalah untuk mendinginkan suhu tubuh, bukan untuk membantu detoksifikasi. Meskipun dalam keringat terdapat urea dan amonia, yang merupakan salah satu "limbah" tubuh, namun keduanya lebih banyak dikeluarkan melalui urin, ketimbang keringat.
Sebagai contoh, sekitar 99 persen dari satu tetes keringat terdiri dari air, sementara 1 persen sisanya mengandung urea, amonia, dan zat lainnya.
Sementara dalam urine ditemukan sebanyak 95 persen air, 2,5 persen urea, dan 2,5 persen lainnya terdiri dari zat ekskresi tubuh.
Menurut dr. Wang Ding Yuan, konsultan dari National Skin Centre Singapura, banyak orang salah paham akan hal ini karena menganggap keringat sebagai "cairan tubuh yang dapat dikeluarkan", mirip dengan urine.
Selain itu, dr. Wang menjelaskan bahwa keringat terasa asin karena terdiri dari natrium klorida dan air. "Beberapa studi menunjukkan konsentrasi natrium klorida dapat mencapai 10 hingga 90 mmol/L," ujarnya.
Lagi pula, toksin biasanya disaring oleh ginjal dan hati, bukan oleh kelenjar keringat, kata dr. Kok.