Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Dari 'scroll' ke serial, mikrodrama China mendunia berkat AI

Mikrodrama China kian mendunia dengan dukungan AI. Namun, di balik pertumbuhannya yang pesat, muncul pula tantangan baru terkait pekerjaan kreator hingga isu hak cipta.

Dari 'scroll' ke serial, mikrodrama China mendunia berkat AI

Cuplikan dari episode pertama mikrodrama yang dihasilkan kecerdasan buatan (AI) berjudul Master of Fengshui, yang diproduksi perusahaan SocialTok yang berbasis di Jiangxi, China. (Gambar: Douyin/SocialTok Playlet)

Industri hiburan China sedang mengalami perubahan besar—dan semuanya bergerak cepat, singkat, serta makin canggih berkat kecerdasan buatan (AI). Dari layar ponsel di Asia Tenggara hingga Amerika Serikat, mikrodrama alias serial pendek vertikal kini jadi tontonan baru yang sulit dihindari.

Formatnya sederhana: episode berdurasi hanya satu hingga dua menit, penuh drama, dan biasanya diakhiri dengan cliffhanger yang bikin penonton terus lanjut scroll. Tapi di balik kesederhanaannya, ada revolusi besar yang sedang terjadi.

Popularitas mikrodrama tak lepas dari perubahan kebiasaan menonton. Di era TikTok dan konten cepat, penonton ingin cerita yang ringkas tapi tetap berkelanjutan. Mikro-drama mengisi celah itu—lebih “niat” dari video pendek, tapi jauh lebih cepat dari serial konvensional.

Hasilnya? Ledakan global. Dalam delapan bulan pertama 2025 saja, pendapatan luar negeri dari mikrodrama China mencapai US$1,5 miliar (Rp26 triliun), melonjak hampir 195 persen dibanding tahun sebelumnya. Unduhan aplikasinya pun tembus sekitar 730 juta secara global.

Model bisnisnya juga berbeda. Alih-alih menjual hak siar seperti TV tradisional, mikrodrama didistribusikan langsung lewat aplikasi dan dimonetisasi dari pengguna. Ini membuat ekspansi ke pasar luar negeri jauh lebih cepat dan fleksibel.

“Apa yang dulu tampak seperti gelombang yang jauh kini telah menyapu setiap sudut industri film dan televisi,” ujar Feng Shengyong, direktur departemen drama televisi di National Radio and Television Administration China dikutip Xinhua pada 29 April.

 

Cuplikan dari sebuah mikrodrama buatan kecerdasan buatan (AI) dan diproduksi oleh Versatile Media yang berbasis di Hangzhou, China. (Gambar: Douyin/深帧幻剧)

Kini, banyak perusahaan China bahkan memproduksi konten lokal di luar negeri—menggunakan aktor dan tim produksi setempat agar lebih relevan secara budaya.

Seorang produser yang berbasis di Los Angeles bermarga Zhang mengatakan bahwa meskipun produksi lokal membutuhkan biaya lebih tinggi, pendekatan ini lebih menekankan kualitas dan relevansi budaya.

AI BIKIN PRODUKSI MAKIN "GILA"

Kalau dulu produksi drama butuh kru besar, lokasi syuting, dan waktu berminggu-minggu, sekarang semuanya bisa dipangkas drastis berkat AI.

Beberapa perusahaan bahkan bisa membuat mikro-drama tanpa kamera, tanpa aktor, dan tanpa kru manusia—dengan biaya sekitar US$30 (Rp521.000) per menit.

Lonjakannya luar biasa. Sepanjang Maret saja, hampir 50.000 mikro-drama berbasis AI diunggah ke Douyin, versi TikTok di China—nyaris menyamai total unggahan sepanjang tahun sebelumnya.

AI kini digunakan di hampir semua tahap produksi: mulai dari penulisan naskah, efek visual, hingga distribusi dan rekomendasi konten. Bahkan, tim kecil dengan latar belakang non-film pun bisa ikut produksi.

Contohnya, sebuah tim berisi tiga orang berhasil membuat film pendek sejarah hanya dalam 48 jam dengan biaya sangat minim, tapi tetap menarik perhatian global.

Perusahaan lain bahkan sudah menggunakan AI untuk menulis naskah yang kemudian disempurnakan manusia.

Model ini memungkinkan ekspansi dan replikasi yang lebih cepat di pasar luar negeri, kata Ouyang Rihui, wakil direktur China Center for Internet Economy Research di Central University of Finance and Economics.

Ma Hongbin, wakil presiden senior Kuaishou, menyebut, AI telah menurunkan hambatan teknis, sehingga memungkinkan partisipasi yang lebih luas dalam pembuatan konten. Alat AI perusahaan tersebut telah mendukung lebih dari 60 juta kreator di seluruh dunia dan berkontribusi pada produksi lebih dari 600 juta video sejak 2024.

Perubahan ini membuka industri bagi lebih banyak kreator. Gong Yu, pendiri dan CEO iQIYI, mengatakan, AI memudahkan—terutama bagi kreator muda—untuk memproduksi konten dan menjangkau audiens, sekaligus memperluas keragaman konten yang tersedia.

DUKUNGAN NEGARA DAN PERSAINGAN GLOBAL

Keunggulan China tak hanya soal teknologi, tapi juga skala dan dukungan ekosistem. Industri ini sudah menjangkau ratusan juta penonton domestik dan bernilai lebih dari US$14 miliar (Rp243 triliun).

Pemerintah daerah ikut mendorong lewat subsidi, pinjaman khusus, hingga dukungan komputasi. Di Shanghai, misalnya, perusahaan rintisan bisa mendapat bantuan hingga ratusan ribu yuan untuk pengembangan AI.

Tak heran jika pemain global mulai kewalahan mengejar. Model China yang mengandalkan produksi cepat, biaya rendah, dan volume tinggi dianggap sebagai alternatif dari strategi “satu blockbuster mahal” ala industri hiburan lain.

Vigloo, sebuah perusahaan produksi drama pendek asal Korea Selatan, telah sepenuhnya mengandalkan AI tahun ini, dengan keyakinan bahwa otomatisasi dapat mengubah secara mendasar cara pembuatan konten.

Perusahaan ini telah mulai mengalokasikan sekitar 30 persen dari anggarannya untuk alur kerja berbasis AI, dan perubahan ini sudah memberikan dampak yang signifikan. Kini, mereka mampu memproduksi sebuah acara hanya dalam waktu satu bulan, bukan tiga bulan seperti sebelumnya, tapi dengan biaya seperlima dari sebelumnya.

Hal ini tidak hanya memungkinkan Vigloo untuk merilis lebih banyak acara, tetapi juga bereksperimen dengan berbagai genre dan gaya yang lebih luas. Perusahaan ini bahkan mulai membiarkan agen AI menangani tugas-tugas inti seperti menulis naskah, yang kemudian ditinjau oleh produser manusia.

Namun, Vigloo masih merasa berada di bawah tekanan. Persaingan dari industri mikro-drama Tiongkok yang sangat besar semakin intens, karena negara tersebut mendukung konten berbasis AI, menurut Neil Choi, CEO perusahaan tersebut seperti diberitakan South China Morning Post pada 1 Mei 2026.

DI BALIK "HYPE": KONTROVERSI DAN KEKHAWATIRAN

Namun, di balik pertumbuhan pesat ini, muncul sejumlah masalah.

Para aktor mulai merasakan dampaknya. Beberapa mengaku kehilangan pekerjaan karena peran mereka digantikan AI.

Ada juga kontroversi soal penggunaan wajah tanpa izin dalam konten AI. Bahkan, beberapa platform terpaksa menarik konten setelah ketahuan menggunakan wajah orang tanpa persetujuan.

Perusahaan produksi yang berbasis di Shanghai, Youhug Media, memperkenalkan dua aktor—Lin Xiyan (kiri) dan Qin Lingyue (kanan)—pada 18 Maret 2026. Kedua aktor tersebut sepenuhnya diciptakan menggunakan kecerdasan buatan (AI). (Gambar: Weibo/Youhug Media)

Seorang aktor, Li Jiao'e mengatakan, ia tidak menentang penggunaan (AI) di industri hiburan, tetapi menurutnya industri telah menggunakannya dengan cara yang salah.

“Mereka masih sekadar meniru manusia atau berusaha membuat sesuatu agar lebih mirip manusia,” katanya kepada New York Times, Rabu (6/5). “Seharusnya mereka berusaha untuk lebih melepaskan imajinasi, dengan mengambil pendekatan yang lebih tidak konvensional.”

Ia melanjutkan: “Lagipula, nilai dasar kita sebagai manusia terletak pada kemampuan kita untuk berimajinasi.”

 

Regulator China kini mulai turun tangan, dengan aturan baru yang mewajibkan persetujuan sebelum wajah seseorang digunakan sebagai avatar digital.

Isu hak cipta dan kepemilikan konten juga menjadi tantangan besar ke depan, terutama jika industri ini ingin terus berkembang secara global.

MASA DEPAN: KOLABORASI MANUSIA DAN AI?

Meski penuh tantangan, banyak pelaku industri melihat AI bukan sebagai pengganti, melainkan alat baru.

Beberapa kreator mulai menggabungkan AI dengan aktor nyata untuk menghasilkan konten yang lebih emosional sekaligus spektakuler secara visual.

Ke depan, kunci keberhasilan tampaknya ada pada keseimbangan: memanfaatkan efisiensi AI tanpa kehilangan sentuhan manusia.

Satu hal yang pasti, mikrodrama bukan lagi sekadar tren. Dengan dorongan teknologi dan model bisnis yang adaptif, format ini sedang membentuk ulang cara dunia menikmati hiburan — cepat, ringkas, dan semakin cerdas.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan