Mengintip desain super tipis iPhone Air, apakah worth it?
Ditenagai chip A19 Pro dan desain unibody aluminium yang ringan, iPhone Air tampil beda dari lini iPhone lainnya. Namun, tentu saja ada kompromi yang harus kamu tahu.
iPhone Air dipamerkan saat acara Apple di Steve Jobs Theater di Cupertino, California, AS, 9 September 2025. (Foto: REUTERS/Manuel Orbegozo)
Apple mengambil langkah berani di acara peluncuran iPhone terbarunya dengan memperkenalkan iPhone Air, model baru yang super tipis, ringan, dan langsung mencuri perhatian.
iPhone Air tampaknya hadir sebagai jawaban atas stagnasi desain iPhone dalam beberapa tahun terakhir, sementara para pesaing sudah lebih dulu berinovasi dengan ponsel lipat dan layar fleksibel.
Beberapa pengamat ponsel bahkan menyebut Air sebagai eksperimen awal untuk iPhone lipat Apple. Bayangkan dua iPhone Air disatukan dengan engsel dan layar tambahan, dan jadilah ponsel lipat buatan Apple.
Lalu, apa rasanya menggenggam ponsel yang sangat ramping ini? Apakah layak dibeli, atau ada cara lain yang lebih masuk akal buat upgrade ponselmu?
DESAIN TIPIS, CHIP KENCANG, TAPI....
Di sisi positif, iPhone Air dibekali layar 6,5 inci, sedikit lebih besar dari layar iPhone 17 yang 6,3 inci, tapi dengan bobot yang lebih ringan saat digenggam.
Chipset yang digunakan adalah A19 Pro, bukan A19 standar. Tapi anehnya, chip ini bukan versi Pro yang sama dengan yang dipakai iPhone 17 Pro.
Chipset pada iPhone Air membawa CPU 6-core dan GPU 5-core, yang sebenarnya mirip dengan A19 biasa. Sebagai pembanding, iPhone 17 Pro punya GPU 6-core.
Sementara dalam hal baterai, iPhone 17 biasa menang telak dibanding iPhone Air. Apple menjanjikan iPhone 17 bisa memutar video hingga 30 jam, sementara iPhone Air hanya 27 jam.
Kalau kamu mau baterai lebih tahan lama, kamu bisa beli battery pack seharga US$99 (sekitar Rp1,5 jutaan) yang bisa menambah waktu pakai hingga 40 jam.
Tapi tambahan aksesori ini seolah menghancurkan konsep ringan dan tipis yang ditawarkan iPhone Air sejak awal.
LENSA FUSION 48 MP
iPhone Air hadir dengan pendekatan baru di sisi kamera belakang, yakni dengan lensa fusion 48 MP.
Meskipun hanya satu, namun kamera belakang iPhone Air dibekali dengan teknologi computational photography, alias fitur kamera berbasis software. Dengan teknologi ini, satu lensa bisa meniru fungsi berbagai lensa sekaligus.
Salah satu fitur yang cukup seru adalah kemampuan untuk merekam menggunakan kamera depan dan belakang secara bersamaan, cocok banget buat kamu yang suka bikin video reaksi atau vlog dengan vibe dual view.
Tapi sayangnya, iPhone Air tidak dibekali lensa Fusion Ultra Wide 48 MP yang dimiliki oleh iPhone 17.
Salah satu keunggulan iPhone Air yang cukup menonjol ada di sisi penyimpanan. Ia menawarkan opsi hingga 1 TB, tapi tentu saja dengan harga.
Varian 1 TB iPhone Air dibanderol US$1.400 (Rp22.960.000), hanya selisih US$100 dari iPhone 17 Pro 1 TB yang dijual seharga US$1.500 (Rp24.600.000).
BODY RINGKIH?
Khawatir iPhone Air gampang patah karena terlalu tipis? Apple punya jawabannya.
"Apple membanggakan bahwa ini adalah iPhone paling tahan banting yang pernah mereka buat," ujar Jeff Fieldhack, Direktur Riset di Counterpoint, firma riset pasar teknologi, yang hadir langsung di acara peluncuran.
"Ponsel ini mengusung desain unibody, yang kemungkinan besar jadi fondasi awal untuk iPhone lipat mereka nanti," prediksinya, menurut laporan The Verge, Kamis (11/9).
Dan bagaimana rasanya menggenggam iPhone Air? "Impresif," jawab Fieldhack singkat.
Apple mengklaim bodi iPhone Air yang ramping ini adalah yang paling kuat dari semua iPhone yang pernah mereka buat, berkat desain aluminium unibody.
Material aluminium unibody pada iPhone Air berbeda dari iPhone 17 Pro dan Pro Max yang menggunakan bahan titanium, dan juga berbeda dari iPhone 17 standar yang memakai kaca dan aluminium biasa.
BATERAI TERBATAS?
Para analis tidak begitu yakin bahwa iPhone Air bakal jadi produk terlaris. Desainnya memang mencolok, tapi tetap ada kompromi besar: baterai yang lebih cepat habis dan kamera yang lebih terbatas.
Semua komponen utama ponsel ini dijejalkan ke dalam tonjolan kamera baru yang lebih panjang, atau yang disebut "plateau" oleh Apple. Sementara bagian lain dari bodi diisi oleh baterai.
Tetap saja, Apple menyebut bahwa iPhone Air seharga US$1.000 (Rp16,4 juta) memiliki daya tahan baterai 3 jam lebih pendek dari iPhone 17 standar yang harganya hanya US$800 (Rp13,1 juta), menurut pengamatan Tech Crunch.
Sementara itu, iPhone 17 Pro menawarkan 12 jam waktu pakai lebih lama dibanding Air dan harganya hanya US$100 (Rp1,6 juta) lebih mahal, yakni seharga Rp18 juta.
Semua harga ini berdasarkan harga jual dalam dolar Amerika di pasar AS, harganya akan meningkat ketika dijual resmi di Indonesia karena ada ditambah dengan pajak.
BAKAL JADI HITS?
Siapa tahu? Bisa saja iPhone Air justru meledak di pasaran.
Semua pemilik iPhone yang selama ini merasa bosan karena ponselnya selalu terlihat sama dengan milik orang lain, akhirnya bisa tampil beda lewat desain iPhone Air yang serba baru.
Kalau kamu orang yang suka tampil beda, suka desain tipis dan ringan, dan tidak terlalu mempermasalahkan baterai atau kamera ultra-wide, iPhone Air bisa jadi jawaban.
Namun, kalau kamu mencari performa maksimal, daya tahan panjang, dan kamera terbaik, kamu mungkin akan lebih cocok dengan iPhone 17 Pro.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.