Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Mengenang Marjane Satrapi, penulis Persepolis yang berani tolak penghargaan tertinggi Prancis

Satrapi dikenal sebagai aktivis hak-hak perempuan dan kreator Persepolis, novel grafis yang diadaptasi menjadi film animasi pemenang Cannes dan nominasi Oscar.

Mengenang Marjane Satrapi, penulis Persepolis yang berani tolak penghargaan tertinggi Prancis

Seniman Prancis-Iran Marjane Satrapi berpose di depan permadani Olimpiade di Paris, Prancis, pada 12 Maret 2024. (Foto: REUTERS/Benoit Tessier)

05 Jun 2026 03:53PM (Diperbarui: 05 Jun 2026 04:27PM)

Seniman, sineas, dan penulis Iran-Prancis, Marjane Satrapi, yang dikenal lewat novel grafis autobiografi Persepolis, meninggal dunia pada usia 56 tahun.

Penulis perempuan yang terkenal berani mengkritik ketidakadilan ini wafat "karena kesedihan yang mendalam usai kematian suaminya."

Kabar kepergian Satrapi diumumkan oleh kantor Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Kamis (4/6).

"Kepergiannya merupakan kehilangan sosok penting dalam budaya Prancis sekaligus seorang seniman yang mencintai kebebasan, yang karyanya membawa pesan universal dan memberinya pengakuan internasional yang luar biasa," demikian pernyataan Istana Elysee.

Satrapi merupakan salah satu penulis yang paling lantang dalam perjuangan hak-hak perempuan, terutama terhadap rezim di negara kelahirannya, Iran. Sepanjang hidupnya, Satrapi konsisten menggunakan karya dan platform publiknya untuk menentang represi rezim Teheran terhadap kelompok oposisi serta otoritas tubuh perempuan di bawah rezim Republik Islam Iran.

Dalam pernyataan yang dirilis keluarga kepada kantor berita AFP, disebutkan bahwa Satrapi meninggal karena "kesedihan" lebih dari setahun setelah kematian suaminya, aktor, produser, dan penulis skenario asal Swedia Mattias Ripa. Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai penyebab kematiannya.

Marjane Satrapi berpose di samping karya seninya dalam perayaan Hari Perempuan Internasional di Prancis pada 8 Maret 2023. (Foto: EPA/CHRISTOPHE PETIT TESSON)

Lahir pada 1969, Satrapi menghabiskan masa kecilnya di Teheran. Saat ia masih berusia 14 tahun, orangtuanya mengirimnya ke Wina, Austria, dan kemudian menetap di Prancis, tempat ia melanjutkan pendidikannya di Strasbourg. Satrapi sempat kembali ke Iran untuk mempelajari seni rupa.

Pengalaman hidup yang diwarnai revolusi dan pengasingan itu kemudian menjadi inspirasi bagi Persepolis, novel grafis autobiografi berwarna hitam-putih yang mengisahkan masa kecilnya selama dan setelah Revolusi Islam Iran pada 1979.

Buku tersebut meraih sukses di tingkat internasional, kemudian diadaptasi menjadi film animasi yang memenangkan Jury Prize di Festival Film Cannes serta mendapatkan nominasi Academy Award.

Karya-karya Satrapi memadukan perlawanan politik dengan humor gelap dan gaya visual yang sederhana, menjadikannya salah satu novelis grafis paling dikenal dari generasinya.

Ia kemudian menyutradarai sejumlah film, termasuk Chicken With Plums, The Voices, dan Radioactive yang mengangkat kisah ilmuwan perempuan, Marie Curie, yang dibintangi aktris Rosamund Pike.

Satrapi juga merancang triptych wol sepanjang sembilan meter untuk Olimpiade Paris 2024 yang menampilkan para atlet bertanding di sekitar Menara Eiffel.

Sutradara Prancis kelahiran Iran, Marjane Satrapi, ikut serta dalam aksi unjuk rasa untuk mendukung perempuan Iran di Paris, Prancis, pada 2 Oktober 2022. (Foto: EPA/YOAN VALAT)

Selain berkarya di dunia seni, Satrapi juga dikenal sebagai suara penting dalam isu pengasingan, emansipasi perempuan, dan otoritarianisme. Ia kerap menggunakan platform publiknya untuk mengecam tindakan represif pemerintah Iran.

Pada Oktober 2022, Satrapi menghadiri aksi solidaritas untuk perempuan Iran di Paris, Prancis, untuk mengenang kematian Mahsa Amini, yang tewas dalam tahanan polisi usai diduga melanggar aturan penggunaan hijab.

Pada 2025, ia menolak Legion of Honour, penghargaan kehormatan tertinggi Prancis, dengan alasan negara itu "bersikap munafik" terhadap Iran, menurut laporan media Prancis.

"Aku tidak bisa terus melihat anak-anak para oligarki Iran datang menghabiskan liburan mereka di Prancis, bahkan memperoleh kewarganegaraan, sementara pada saat yang sama para aktivis muda kesulitan mendapatkan visa turis untuk datang dan melihat seperti apa negara Pencerahan dan hak asasi manusia itu," tulisnya saat itu.

Selamat jalan, Marjane Satrapi. Rest in power

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(ar)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan