Mengenal 'bed rotting', rebahan seharian sambil 'scrolling' medsos yang bisa jadi tanda depresi
Psikolog mengingatkan kebiasaan menghabiskan waktu terlalu lama di atas kasur dapat berdampak pada kesehatan mental hingga dan kualitas tidur.
Aktivitas melihat ponsel di atas tempat tidur. (Foto: iStock/Denis Borisov)
JAKARTA: Fenomena bed rotting, atau kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur sambil scrolling media sosial, tengah ramai di kalangan remaja dan Gen Z.
Tren yang viral di TikTok ini bahkan dianggap sebagian orang sebagai bentuk self-care untuk melawan kelelahan mental akibat tuntutan di sekolah, pekerjaan, hingga kehidupan sosial.
Meski sering dicap sebagai perilaku malas, para pakar menilai fenomena ini memiliki sisi psikologis yang jauh lebih kompleks.
"Bed rotting" sendiri bukan berarti tidur sepanjang hari, melainkan menghabiskan waktu lama di atas kasur untuk melakukan aktivitas pasif seperti makan, menonton film, atau berselancar di media sosial tanpa henti.
Pakar pendidikan anak dan remaja dari IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, mengatakan, fenomena tersebut tidak bisa dipandang secara sederhana. Menurutnya, dari sudut pandang psikologi perkembangan, bed rotting berkaitan erat dengan fase pencarian identitas atau identity vs role confusion yang dialami remaja.
"Fenomena ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dunia digital bagi mereka menjadi ruang eksplorasi baru sekaligus 'ruang jeda' di tengah tekanan sosial yang tinggi," ujar Yulina, dikutip dari Media Indonesia.
MENINGKATKAN KECEMASAN
Hal senada juga disampaikan Nicole Hollingshead, psikolog klinis dari Ohio State University Wexner Medical Center. Ia menyebut banyak orang menjadikan bed rotting sebagai tempat aman untuk berhenti sejenak tanpa merasa bersalah.
"Masyarakat kita cenderung memberikan penekanan yang terlalu besar dan mendewakan sikap untuk selalu sibuk atau produktif setiap saat," ujar Hollingshead kepada media kesehatan, Health.
Menurut psikolog Courtney DeAngelis dari NewYork-Presbyterian, dalam kadar tertentu, bed rotting memang dapat membantu tubuh lebih rileks dan meredakan stres maupun kelelahan fisik yang ekstrem.
Namun, Yulina menilai fenomena ini memiliki sisi ambivalen. Di satu sisi, bed rotting bisa menjadi "pause button" psikologis untuk mengisi ulang energi.
Di sisi lain, paparan terus-menerus terhadap standar hidup ideal di media sosial justru dapat memicu kecemasan dan perbandingan sosial yang tidak sehat.
Popularitas tren ini juga tercermin lewat survei American Academy of Sleep Medicine (AASM) pada 2024. Hasilnya menunjukkan sekitar 37 persen warga Amerika pernah mencoba tren tidur viral sepanjang tahun ini. Angka tersebut meningkat di kelompok Gen Z, dengan 55 persen responden mengaku pernah mencobanya.
Studi yang sama juga menemukan hampir seperempat Gen Z, atau sekitar 24 persen, secara terbuka mempraktikkan bed rotting. Selain itu, lebih dari separuh responden diketahui menghabiskan setidaknya 30 menit di tempat tidur sebelum benar-benar tidur, sementara 27 persen melakukan hal yang sama setelah bangun tidur.
Meski terdengar menenangkan, para ahli mengingatkan bahwa kebiasaan ini bisa berubah menjadi masalah serius bila dilakukan berlebihan. Dr. Ryan Sultan, profesor psikiatri klinis dari Columbia University, mengatakan bed rotting yang berlangsung lebih dari satu atau dua hari perlu menjadi perhatian.
"Jika bed rotting menjadi perilaku yang biasa atau habituasi, hal itu berpotensi menjadi tanda depresi atau masalah kesehatan mental lainnya," tegasnya.
SINYAL GANGGUAN MENTAL
Yulina juga mengingatkan masyarakat untuk mulai waspada jika kebiasaan tersebut berkembang menjadi penarikan diri ekstrem dari lingkungan sekitar. Dalam kondisi tertentu, bed rotting dapat menjadi indikasi "burnout", kecemasan berlebih, hingga depresi.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain kehilangan minat terhadap hobi atau aktivitas favorit, gangguan pola tidur yang signifikan, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga penurunan performa kerja atau studi.
Selain berdampak pada kesehatan mental, kebiasaan terlalu lama berada di atas kasur juga dinilai bisa mengganggu kualitas tidur. Juru bicara AASM, dr. Anne Marie Morse, menekankan bahwa fungsi utama tempat tidur seharusnya tetap untuk tidur.
Psikolog Courtney DeAngelis menjelaskan, otak manusia perlu mengaitkan tempat tidur hanya dengan tidur dan keintiman. Jika seseorang terlalu sering melakukan aktivitas lain di kasur dalam kondisi terjaga, otak bisa menjadi bingung dan memicu gangguan tidur hingga insomnia.
Hollingshead turut menyoroti risiko isolasi sosial akibat kebiasaan tersebut. Menurutnya, sesuatu yang awalnya dimulai sebagai bentuk "self-care" dapat berkembang menjadi lingkaran yang merugikan.
"Bed rotting bisa dimulai sebagai upaya perawatan diri untuk beristirahat, tetapi kemudian berubah menjadi berkurangnya aktivitas yang menyenangkan, lebih banyak waktu di media sosial, lebih banyak masalah tidur, isolasi sosial, dan akhirnya berujung pada depresi yang lebih berat," tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, Yulina menyarankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat dan tetap terkontrol. Ia menegaskan bahwa istirahat berkualitas bukan berarti diam tanpa batas waktu, melainkan melakukan aktivitas yang benar-benar membantu memulihkan energi.
Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan, antara lain, membatasi penggunaan gawai di tempat tidur dan mengganti waktu rebahan pasif dengan aktivitas fisik ringan seperti peregangan atau berjalan santai di sekitar rumah.
"Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita," pungkasnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.