Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Masih perlukah menyusun resolusi tahun baru? Begini cara ubah resolusi jadi eksekusi

Banyak target ambisius justru hanya menjadi wacana awal tahun. Begini caranya agar kamu termotivasi menjalankan resolusi yang sudah direncanakan.

Masih perlukah menyusun resolusi tahun baru? Begini cara ubah resolusi jadi eksekusi

Ilustrasi memyusun resolusi Tahun Baru. (Foto: iStock/Carlos Pascual)

31 Dec 2025 11:35AM (Diperbarui: 31 Dec 2025 11:38AM)

Setiap pergantian tahun, banyak orang kembali menyusun resolusi tahun baru dengan semangat baru. Target-target yang ditulis pun beragam, mulai dari hidup lebih sehat, memperbaiki karier, mengejar hobi, hingga menciptakan keseimbangan hidup.

Namun, pengalaman berulang menunjukkan bahwa resolusi tahun baru sering kali hanya bertahan di awal tahun, lalu perlahan menguap sebelum benar-benar diwujudkan.

Fenomena ini bukan hal baru. Sejak ribuan tahun lalu, resolusi sudah menjadi bagian dari tradisi manusia.

Menurut History, bangsa Babilonia sekitar 4.000 tahun silam membuat janji kepada para dewa, terutama untuk melunasi utang dan mengembalikan barang pinjaman. Jika janji itu ditepati, mereka percaya akan mendapat berkah berupa panen melimpah.

Meskipun konteksnya berbeda dengan masa kini, esensinya sama: harapan akan perubahan ke arah yang lebih baik.

Lalu, bagaimana agar resolusi tahun baru dapat benar-benar tercapai? Simak caranya.

Ilustrasi membuat resolusi Tahun Baru. (Foto: iStock/solidcolours)

JADIKAN RESOLUSI SEBAGAI MOMENTUM

Psikolog klinis dari Annabelle Psychology, Annabelle Chow, menilai resolusi memberi ruang bagi seseorang untuk memulai kembali. Resolusi menjadi "kesempatan untuk memaafkan kesalahan atau kegagalan tahun lalu dan memulai yang baru," tulisnya dalam website klinik itu.

Chow juga menambahkan bahwa proses ini meningkatkan self-efficacy, yakni keyakinan bahwa seseorang punya kendali atas hidupnya melalui tindakan nyata. "Ini seringkali terwujud dalam kebutuhan untuk membuat resolusi dan bertekad mencapainya."

Pandangan serupa disampaikan psikolog klinis, Cecilia Chu, pada website Raffles Counselling Centre. Menurutnya, momentum awal tahun membantu seseorang "fokus pada energi untuk hal-hal yang memberikan makna dalam hidup sehari-hari."

Ilustrasi memyusun resolusi Tahun Baru. (Foto: iStock/Happy Kikky)

KENAPA RESOLUSI SERING GAGAL?

Namun, niat baik tidak selalu berujung pada keberhasilan. Chief Wellbeing Officer dari Singapore Counselling Centre, John Shepherd Lim, mengungkapkan bahwa banyak orang tidak berhasil menjalankan resolusi tahun baru karena tak paham tujuan dari resolusi yang direncanakan.

"Karena mereka tidak siap untuk disiplin diri dan tujuan itu tidak berasal dari tekad pribadi, mereka sering kehilangan semangat dengan cepat," tulisnya dalam website klinik konseling itu. 

Masalah lain yang kerap muncul adalah resolusi yang terlalu ambisius, tidak realistis, serta tidak disertai tenggat waktu dan langkah konkret. Banyak resolusi hanya menjadi daftar keinginan, bukan peta perubahan.

Alih-alih menetapkan target besar yang sulit dicapai, sejumlah ahli menyarankan pendekatan yang lebih membumi. Resolusi bisa diubah menjadi motivasi atau tema pengembangan diri. 

Fokuslah bukan pada hasil instan, melainkan pada penyesuaian kecil yang konsisten dan relevan dengan kondisi hidup masing-masing.
 

BAGAIMANA AGAR RESOLUSI TERCAPAI?

Resolusi tahun baru biasanya terkait dengan aspek kesehatan, financial, dan membangun hubungan yang lebih baik. Namun, resolusi semacam ini sebaiknya tidak ditulis secara umum.

Daripada menuliskan keinginan seperti ingin hidup lebih sehat, tuliskan komitmen yang lebih spesifik, misalnya mengikuti program pemusatan kesadaran (mindfulness), membatasi penggunaan media sosial, atau menghapus akses kartu kredit dari aplikasi belanja daring.

Profesor bidang studi sosial di University of Stavanger, Norwegia, Olga V Lehmann, dalam tulisannya di Psychology Today, menekankan pentingnya resolusi yang bersifat pribadi dan konkret.

Lehmann juga mengingatkan pentingnya kembali membaca resolusi yang telah ditulis. "Baca ulang apa yang telah ditulis. Kembali pada apa yang telah ditulis memungkinkan kita untuk memahami hambatan ataupun merayakan kemajuan yang telah dilalui," ungkapnya.

Catatan resolusi sebaiknya diletakkan di tempat yang mudah diakses atau dibagikan kepada orang terdekat agar tetap teringat dan relevan.

Pendekatan serupa disampaikan asisten profesor psikiatri di Northeast Ohio Medical University, Dimitrios Tsatiris. Ia menyarankan agar seseorang menetapkan ekspektasi yang rendah dan tidak menuntut hasil instan.

"Ingat, butuh waktu berbulan-bulan agar perilaku baru menjadi kebiasaan. Kuncinya adalah konsisten hingga perilaku tersebut menjadi bagian yang otomatis dalam hidup Anda," ucapnya.

Ilustrasi membuat resolusi Tahun Baru. (Foto: iStock/may1985)

Tsatiris juga menyarankan mencari teman atau orang terdekat sebagai pengingat. "Selain itu, akan lebih sulit untuk bermalas-malasan ketika ada yang mengawasi," ujarnya.

Selain itu, membuat rencana harian, mingguan, hingga bulanan akan membantu memantau progres dan menjaga konsistensi perubahan yang ingin kita dapatkan.

Tak lupa, sikap positif, komitmen, serta apresiasi atas capaian kecil turut berperan dalam menjaga motivasi jangka panjang.

Di luar pendekatan teknis, refleksi diri juga menjadi fondasi penting dalam menyusun resolusi. Resolusi tidak selalu harus berbentuk target material atau pencapaian kuantitatif. Tema seperti keseimbangan hidup, pengendalian diri, perhatian pada keluarga, atau kematangan emosional justru dinilai lebih relevan bagi banyak orang.

Pada akhirnya, resolusi bukan soal kesempurnaan atau perubahan drastis dalam waktu singkat. Resolusi adalah proses menerima kondisi saat ini, menjalani kehidupan sebaik mungkin, serta melakukan penyesuaian yang masuk akal.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan