Cedera tulang belakang dorong perempuan Singapura ini bangun jenama sepatu regional
Setelah cedera tulang belakang membuatnya hidup dengan nyeri kronis hingga tak mampu duduk atau berjalan, Mao Ting merancang sepasang sepatu demi merasa nyaman. Dari situ, lahirlah Sunnystep yang kini memiliki 17 gerai di Singapura, Malaysia, dan Indonesia.
CEO Sunnystep, Mao Ting, tidak pernah berencana membangun jenama (brand) sepatu – cedera tulang belakanglah yang membawanya pada perjalanan hebat ini. (Foto: Sunnystep)
Tak lama setelah melahirkan anak pertama pada 2018, Mao Ting merasa dunianya runtuh. Saat itu usianya baru 28 tahun.
Cedera tulang belakang yang dialaminya sebulan setelah melahirkan membuat otot punggungnya kaku dan sulit digerakkan. Ting menduga kondisi tersebut dipicu oleh beban fisik saat merawat bayi yang baru lahir, ketika tubuhnya sendiri masih dalam masa pemulihan.
Ia sempat berobat ke dokter dan kondisinya berangsur membaik. Beberapa pekan kemudian, ia mengikuti dua sesi pilates privat setelah menjelaskan kondisinya kepada instruktur.
Namun setelah itu, keadaannya memburuk. Otot-ototnya mulai kejang, dan ia merasa sakit tiap kali berdiri.
Dalam dua tahun setelah melahirkan, perempuan Singapura ini menemui lebih dari 20 tenaga medis – mulai dari dokter umum, fisioterapis, dokter ortopedi, hingga praktisi pengobatan tradisional China. Tak satu pun mampu membantunya.
Tubuhnya seolah beku akibat rasa sakit. Ting tidak bisa duduk. Ia berbaring di matras bayi untuk menemani putrinya, dan ia makan sambil berdiri.
Ia juga tidak mampu berjalan lama. Bahkan menuangkan air dari teko pun menimbulkan nyeri. Suatu kali, saat mengenakan celana, tubuhnya tiba-tiba terkunci. Ia tidak bisa bergerak dan harus dilarikan ke rumah sakit dengan ambulans.
“Saya merasa seperti kehilangan hidup. Saya menangis tiap malam selama lebih dari setahun,” kenang Ting, kini 36 tahun.
Ketika mobilitasnya berada pada titik terendah, Ting merancang sepatu untuk mendukung proses pemulihannya. Hasil desainnya berkembang menjadi perusahaan bernama Sunnystep – “nama pembawa semangat yang lahir di masa paling gelap dalam hidup saya,” ujarnya.
Kini, jenama (brand) tersebut memiliki 12 gerai di Singapura, tiga di Malaysia, dan dua di Indonesia.
TAK ADA SEPATU YANG PAS
Bagaimana Ting bisa terpikir membangun brand sepatu saat tengah bergulat dengan rasa sakit hebat dan mobilitas terbatas?
“Setelah cedera, saya tidak bisa menggerakkan badan,” ujarnya. “Saya kebanyakan berbaring saja. Yang saya punya cuma pikiran saya. Ada banyak waktu untuk berpikir dan merenungkan apa yang ingin saya lakukan dan alasannya. Berpikir memberi saya hal bermakna untuk dijadikan fokus selama masa pemulihan.”
Pikirannya kerap kembali pada sepatu. Saat ia mempelajari masalah muskuloskeletal, topik tentang jenis sepatu yang tepat untuk penderita cedera sering muncul.
“Saya dulu punya sepasang sneakers yang sangat nyaman. Tapi setelah cedera, sepatu itu terasa begitu berat dan tidak nyaman lagi,” kenangnya. Menurutnya, bobot sepatu tersebut justru menambah tekanan pada tubuhnya kala itu.
Ia membutuhkan sepatu yang ringan, stabil, dan menopang secara memadai. Namun, tak satu pun dari 20 hingga 30 pasang sepatu di lemarinya memenuhi kebutuhan itu.
Ia pun mulai mencari alternatif. Ia mencoba sepatu lari yang tebal, dengan dorongan ke depan yang tidak cocok untuk penggunaan sehari-hari. Ia juga mencoba sepatu ortopedi yang tak kalah besar dan berat, serta tidak sesuai dengan seleranya. Sandal jepit pun langsung ia singkirkan karena mudah bergeser ketika dikenakan.
Sebelum mengalami cedera, mantan ilmuwan data tersebut telah meninggalkan pekerjaannya pada 2017 dan menghadiri pameran dagang fesyen di Jepang dengan gagasan membangun jenama konsumen. Di antara para pemasok yang ditemuinya, terdapat produsen sepatu skala kecil dari China. Pada 2019, ia kembali menghubungi mereka untuk menciptakan sepatu yang dapat membantunya melalui masa pemulihan.
“Karena bukan pabrik besar, mereka tidak menetapkan pesanan minimum. Mereka bersedia bereksperimen bersama saya. Saya cuma perlu bayar biaya sampel,” kata Ting kepada CNA Women.
Melalui percakapan panjang di WeChat dan pengembangan sampel selama enam bulan, Ting akhirnya menciptakan sepasang sepatu yang membantu meredakan rasa sakitnya – sepatu putih minimalis tanpa tali maupun ornamen.
Sepatu tersebut memberikan topangan yang baik saat berjalan, terutama pada lengkungan kaki, sekaligus cukup ringan sehingga tidak menambah beban pada punggungnya. Meski saat itu ia masih belum dapat duduk atau berjalan dalam waktu lama, sepatu tersebut membuatnya jauh lebih mudah bergerak.
Pada Mei 2019, ia memesan 20 hingga 30 pasang untuk keluarga dan teman-teman. Seorang kenalan bibinya melihat sepatu itu dan memesan sepasang. Seminggu kemudian, ia memesan delapan pasang lagi untuk keluarganya.
“Dari situlah semuanya benar-benar dimulai,” kata Ting tergelak.
DARI SATU SEPATU HINGGA SATU KAWASAN
Kepercayaan dari satu pelanggan yang tidak dikenalnya itu mendorong Ting untuk mengikuti bazar dadakan pertamanya di Square 2, Singapura, pada Juli 2019. Saat itu, ia hanya punya dua desain dan memesan beberapa ratus pasang sepatu.
Kala itu, ia belum bisa duduk. Menuju mal, ia berbaring di kursi depan mobil ayahnya yang direbahkan total. Sang ayah membantu menyiapkan stan kecil di sudut area bazar. Ia juga tidak mampu berdiri lama, sehingga penjagaan stan diserahkan kepada seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu.
Pada hari pertama, Sunnystep hanya menjual satu pasang sepatu. Pada hari ketiga, terjual delapan pasang. Menjelang akhir bazar sekitar sepekan kemudian, daftar tunggu tersusun. Banyak pelanggan menyukai kenyamanan sepatu tersebut.
Stan Sunnystep lantas muncul di beberapa lokasi lain di Singapura. Menjelang akhir 2019, Ting membuka toko pertamanya di Square 2. Sekitar sebulan kemudian, pandemi COVID-19 melanda.
Gerai-gerai ritel sempat tutup selama masa pemutusan rantai penularan. Namun, masyarakat yang bekerja dari rumah ingin mengenakan pakaian dan alas kaki nyaman. Saat Sunnystep kembali beroperasi, permintaan pun melonjak.
Menurut Ting, para pelanggan menyukai kombinasi topangan dan desain ringan sepatunya, memungkinkan mereka berjalan dan berdiri lebih lama, serta mengakhiri hari dengan rasa lelah yang lebih ringan. Mereka juga mengapresiasi tampilannya yang tidak menyerupai sepatu ortopedi pada umumnya.
Seiring meningkatnya pesanan, penyimpanan stok yang awalnya berada di halaman belakang rumah keluarganya dipindahkan ke ruang loker, lalu akhirnya ke satu gudang.
Di saat yang sama, kondisi kesehatan Ting juga menunjukkan kemajuan signifikan. Pada 2021, ia bertemu fisioterapis yang juga pernah mengalami slipped disc (saraf terjepit) tetapi tetap mampu berlari maraton. Kisah pemulihan tersebut memberinya harapan sekaligus mendorongnya untuk melanjutkan rencana memiliki anak kedua.
Saat hamil, lonjakan hormon kehamilan justru membantu meredakan nyeri punggungnya, kata Ting. Ia pun mengikuti kelas pilates khusus kehamilan bersama instruktur spesialis yang membantunya memulihkan mobilitas dan kekuatan tubuh.
Secara bertahap, ia terus mengembangkan merek sepatu nyamannya dan memperluas bisnis dari Singapura ke Malaysia dan Indonesia.
MERAWAT DIRI LEWAT SEPATU
Bagi Ting, Sunnystep tidak pernah sekadar tentang sepatu, melainkan perjalanan yang sangat personal untuk merebut kembali mobilitas dan hidupnya.
“Sepatu bukan sekadar produk fesyen. Semua sendi di tubuh saling terhubung. Jika Anda memakai sepatu tanpa topangan yang tepat, tekanan pada kaki bisa menjalar ke lutut, tulang belakang, hingga leher.”
“Sepatu memiliki peran mendasar dalam menopang sendi, seluruh tubuh, dan kesehatan Anda,” ujarnya.
Ting menjelaskan, Sunnystep memiliki peneliti internal yang berbasis di Eropa, yang menelaah berbagai studi klinis serta berkonsultasi dengan profesor dari Massachusetts Institute of Technology dan Boston Children's Hospital, serta podiatris, untuk memahami bagaimana desain sepatu dapat meminimalkan tekanan pada kaki dan tubuh.
Menurutnya, sepatu seharusnya menyesuaikan bentuk kaki – bukan sebaliknya.
“Secara alami, jari-jari kaki kita melebar. Ini bisa dilihat pada jari kaki bayi. Tapi banyak sepatu modern yang ruang jari kakinya justru sempit, sehingga perlahan-lahan bisa mengubah bentuk kaki,” jelasnya.
“Hal ini terutama sekali berlaku pada sepatu hak tinggi, sebab sebagian besar berat tubuh bertumpu pada bagian depan kaki. Jika dikenakan tiap hari, bentuk kaki bisa berubah,” ia menambahkan.
Ia menjelaskan, sepatu Sunnystep dirancang dengan ruang yang lebih lebar untuk jari-jari kaki agar dapat bergerak lebih bebas dan mengurangi tekanan saat berjalan. Ada pula penopang lengkungan kaki (arch support) yang membantu menstabilkan kaki, terutama bagi mereka yang memiliki tapak kaki datar.
Ting terus bereksperimen untuk menemukan titik keseimbangan antara desain sepatu yang ringan, tahan lama, menopang, antiselip, tidak menyebabkan lecet, sekaligus tetap menarik.
“Saat mencoba sepatu, saya tidak cuma mencari kenyamanan sesaat. Saya ingin sepatu saya tetap terasa nyaman bahkan setelah dipakai jalan seharian penuh,” jelasnya.
Perjalanan kewirausahaan ini juga memberinya makna dan tujuan di masa paling gelap dalam hidupnya, ketika ia sempat terjebak dalam spiral pikiran negatif.
Kini lebih kuat dan lebih paham tentang cara merawat diri, Ting akhirnya dapat menjalani peran sebagai ibu seperti harapannya. Ia menikmati perjalanan berdua dengan masing-masing putrinya sebagai cara membangun kedekatan.
Cedera yang pernah dialaminya juga memberinya perspektif baru tentang hidup.
“Saya menyadari hidup ini sangat singkat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Saya masih bisa menggerakkan tubuh ini adalah anugerah. Saya tidak mau menyia-nyiakan hidup, karena entah apa yang akan terjadi besok,” ujarnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.