Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Makna tersembunyi batik andalan Menkeu Purbaya yang sering dipakai ulang

Sejak awal menjabat, Menkeu Purbaya kerap tampil dengan beberapa batik andalannya, yang bukan sekadar gaya, tapi juga sarat makna.

Makna tersembunyi batik andalan Menkeu Purbaya yang sering dipakai ulang

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengenakan batik motif dedaunan dan sulur saat memaparkan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Tahun 2026 dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Rabu (10/9). (Foto: Instagram/@menkeuri)

02 Oct 2025 04:09PM (Diperbarui: 02 Oct 2025 04:17PM)

JAKARTA: Baru beberapa pekan dilantik sebagai Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa sudah memperlihatkan ciri khasnya lewat pilihan kemeja batik yang kerap dipakai ulang di beberapa kesempatan. Ternyata, beberapa batik itu sarat makna filosofis.

Melalui akun resmi @menkeuri, sederet potret Purbaya kerap dibagikan, memperlihatkan konsistensinya mengenakan batik dalam berbagai kesempatan, hingga menjadi bahan obrolan warganet.

"Outfit pak Menkeu Purbaya dalam beberapa kesempatan. 1. Saat di wawancara Dahlan Iskan sekitar 10 bulan yang laku. 2. Saat presentasi di depan Pak Presiden dalam Saresehan Ekonomi 8 April 2025. 3. Beberapa hari setelah dilantik jadi menteri. Fix, ini batik favorit beliau," tulis akun @tis****ydh di Threads, merujuk pada salah satu batik yang kerap dipakai Purbaya.

Namun, dalam berbagai agenda resmi lainnya, Menkeu Purbaya terlihat tampil dengan sejumlah batik berbeda.

Apa saja batik andalan Menkeu Purbaya dan apa simbol di balik motif batik tersebut? Bertepatan dengan Hari Batik Nasional pada Kamis (2/10), CNA merangkum makna motif batik Menkeu Purbaya: 

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengenakan batik motif bunga Ganggong dan Teruntum saat bertemu dengan Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi Makro (FORKEM). (Foto: Instagram/@menkeuri)

MOTIF GANGGUNG DAN TERUNTUM

Menkeu Purbaya terlihat mengenakan batik motif bunga Ganggong dan Teruntum saat bertemu dengan Forum Komunikasi Wartawan Ekonomi Makro (FORKEM) untuk berdiskusi sekaligus menjawab pertanyaan insan media mengenai isu-isu terkini, pada Jumat (26/9).

Batik yang didominasi warna biru tua dengan sentuhan cokelat emas itu juga dikenakan Menkeu Purbaya saat menghadiri Rapat Dewan Pertahanan Nasional yang dipimpin langsung Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin pada Kamis (11/9).

Menurut Guru Besar Bidang Tekstil Tradisi Prodi Desain Mode Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Sarwono, M.Sn, batik yang kerap dikenakan ulang oleh Purbaya merupakan hasil modifikasi dari motif Ganggong dan Teruntum.

"Kalau saya melihat motif batiknya sudah modifikasi, antara motif Ganggong (tumbuhan air) biasanya berupa motif bunga teratai dalam masyarakat Tionghoa sebagai simbol bahwa masyarakat tersebut diharapkan seperti bunga teratai," terang Sarwono kepada Kompas pada pertengahan September lalu.

"Yaitu baik dalam keadaan air surut maupun pasang airnya tetap di atas dan berbunga," sambungnya.

Selain itu, motif Teruntum juga memiliki makna berkesinambungan. "Tapi dalam baju tersebut juga ada motif Teruntum artinya memiliki simbol bahwa orang yang memakai sudah tumaruntun oleh pendahulunya," jelas Sarwono.

Lebih lanjut, Sarwono menyoroti warna dasar batik Purbaya yang dominan hitam. "Dan juga dapat diartikan latar belakang yang hitam (gelap) memberi tanda kegelapan," ungkapnya.

Namun, ada detail berbentuk cahaya bintang yang dimaknai sebagai simbol harapan. "Tetapi dalam motif tersebut ada cahaya bintang sebagai sebuah harapan perekonomian akan terang dikarenakan banyak bintang," jelasnya.

"Artinya banyak bantuan dari tim bapak menteri dalam menangani perekonomian dalam kegelapan tersebut," tambahnya.

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengenakan batik motif dedaunan dan sulur saat memaparkan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Tahun 2026 dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Rabu (10/9). (Foto: Instagram/@menkeuri)

MOTIF DEDAUNAN DAN SULUR

Saat menghadiri Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Rabu (10/9) dengan agenda memaparkan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Tahun 2026, Menkeu Purbaya mengenakan batik motif dedaunan dan sulur.

Motif flora bernuansa cokelat dan biru ini menonjolkan dedaunan dan sulur, dengan perpaduan warna kontras namun tetap elegan.

Motif dedaunan dan sulur sering dimaknai sebagai simbol pertumbuhan, kehidupan, serta kesejahteraan, menurut laporan Liputan6. 

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) mengenakan batik motif parang lereng saat memberikan keterangan bersama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (kanan) dalam konferensi pers mengenai berbagai paket kebijakan ekonomi baru pada Jumat (12/9). (Foto: Instagram/@menkeuri)

MOTIF PARANG LERENG

Pada pertemuan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (12/9), Menkeu Purbaya memilih batik bermotif parang lereng klasik.

Batik tersebut memadukan warna biru tua, putih gading, dan cokelat sogan, menghadirkan kesan elegan sekaligus formal.

Batik parang lereng adalah salah satu motif batik khas yang berasal dari Jawa, khususnya Daerah Istimewa Yogyakarta dan Solo. Melansir situs Kemdikbud, parang artinya lereng. Itulah mengapa motif batik ini disebut batik parang atau lereng.

Ciri khas motif batik parang atau lereng memiliki bentuk diagonal yang tegas dengan susunan motif menyerupai huruf S yang saling bersambung atau seperti ombak laut yang saling berkaitan tidak terputus.

Namun, menurut situs resmi Puro Mangkunegaran, batik motif parang lereng tidak dapat dikenakan ketika berada di lingkungan karena motif tersebut hanya boleh dipakai oleh keluarga kerajaan. Hal itu tidak lepas dari sejarah berdirinya Dinasti Mataram.

Dalam tradisi Jawa, motif parang melambangkan keteguhan, kesinambungan, dan semangat pantang menyerah.

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: Others/ps

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan