Makan daging terlalu banyak saat Idul Adha bikin sulit BAB? Ini solusinya
Kandungan lemak, protein, dan zat besi pada daging merah membuat sistem pencernaan bekerja lebih keras.
Ilustrasi kari kambing sebagai salah satu kuliner khas Indonesia yang biasa tersaji saat Hari Raya Idul Adha. (Foto: iStock/Ika Rahma)
JAKARTA: Perayaan Idul Adha identik dengan berbagai olahan daging kambing dan sapi yang disantap bersama keluarga. Namun, tidak sedikit orang yang mengeluhkan perut terasa penuh, kembung, hingga susah buang air besar (BAB) setelah mengonsumsi daging dalam jumlah banyak.
Kondisi ini terjadi karena tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk mencerna daging dibandingkan sejumlah jenis makanan lainnya.
Spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi dan hepatologi di Mayapada Hospital, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menjelaskan bahwa daging memang membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna dibandingkan jenis makanan lain.
"Kalau orang bilang bahwa makan daging itu kemudian lebih cepat (dicerna), enggak. Dari beberapa penelitian memperlihatkan butuh waktu sampai lima jam untuk bisa daging itu dicerna di pencernaan," kata dr. Aru, dikutip dari Detik.
Menurut dr. Aru, proses pencernaan yang lebih lama tersebut dapat membuat seseorang mengalami konstipasi, perut terasa penuh, hingga begah. Pasalnya, tubuh membutuhkan usaha lebih besar untuk mengolah daging dibandingkan makanan lain seperti karbohidrat.
"Mau enggak mau, bila kita makan daging lebih banyak, (timbul) rasa begah, rasa kembung, pencernaan akan lebih berat dalam mengolah daging," ujarnya.
"Jadi usahakan kalau mau makan daging, jangan over, makan seperti biasa," tambahnya.
Senada dengan itu, Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya Ira Purnamasari mengatakan, konsumsi daging merah berlebihan memang dapat memicu sembelit. Kondisi ini ditandai dengan kesulitan buang air besar, feses yang keras, hingga kebutuhan mengejan lebih kuat saat BAB.
Menurut Ira, selain memerlukan waktu lebih lama untuk diproses di pencernaan, daging merah juga mengandung serat protein yang keras dan zat besi dalam jumlah tinggi yang dapat menyebabkan feses menjadi lebih keras dan menggumpal.
"Kondisi tersebut mengakibatkan usus harus bekerja lebih ekstra dalam mengeluarkan feses," ujar Ira, dikutip dari laporan Tempo.
Gejala sembelit yang dapat muncul, antara lain, perut terasa penuh, lebih sering kentut, frekuensi BAB berkurang, feses keras dan kering, harus mengejan berlebihan saat BAB, hingga BAB berdarah.
Untuk membantu mencegah keluhan tersebut, Ira menyarankan agar kebutuhan cairan harian tetap terpenuhi. Menurutnya, konsumsi air putih minimal 2 liter per hari dapat membantu menjaga kesehatan sistem pencernaan sekaligus mengurangi risiko susah buang air besar.
Selain itu, konsumsi buah dan sayur juga penting karena kandungan seratnya dapat membantu melunakkan feses sehingga lebih mudah dikeluarkan.
Saran ini juga sejalan dengan penjelasan dr. Aru yang menekankan pentingnya asupan serat untuk membantu proses pencernaan daging berjalan lebih baik.
"Rasa begah, kembung pun lebih mudah hilang atau mungkin akan teratasi dengan kita makan banyak serat," kata dr. Aru.
Ira pun merekomendasikan beberapa sumber serat yang dapat dikonsumsi setelah menikmati hidangan daging kurban.
"Buah pepaya dapat melancarkan BAB. Sayuran hijau juga mengandung tinggi serat yang baik dikonsumsi untuk melancarkan BAB," ujarnya.
Selain serat, Ira juga menyarankan konsumsi makanan yang mengandung probiotik. Tempe yang merupakan hasil fermentasi kedelai mengandung bakteri baik yang dapat membantu menjaga kesehatan saluran cerna dan membuat frekuensi BAB lebih teratur.
"Sama seperti tempe, yogurt juga mengandung probiotik yang dapat membantu melancarkan proses pencernaan," pungkasnya.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.