Lula Lahfah punya riwayat GERD, benarkah penyakit ini bisa berujung kematian?
Banyak warganet salah paham soal penyakit GERD, khususnya ketika menanggapi kematian Lula Lahfah. Sejumlah dokter memberikan penjelasan tentang penyakit ini.
Selebgram dan influencer Lula Lahfah dalam salah satu unggahannya di media sosial. (Foto: Instagram/@lulalahfah)
JAKARTA: Kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah yang ditemukan tak bernyawa di apartemennya di kawasan Jakarta Selatan pada Jumat (23/1) mengejutkan publik. Lula meninggal dunia di usia 26 tahun, membuat banyak orang mempertanyakan kondisi kesehatannya sebelum wafat, terutama terkait riwayat penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) yang sempat ia ungkapkan sebelum berpulang.
Benarkah GERD dapat menyebabkan kematian jika sudah dalam kondisi parah dan tidak tertangani dengan baik?
Informasi mengenai meninggalnya Lula pertama kali diisyaratkan oleh sahabatnya, Hassan Alaydrus, yang mengunggah foto berlatar hitam di akun media sosial pribadinya pada Jumat (23/1) malam.
Tak lama kemudian, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto membenarkan adanya seorang selebgram berinisial LL yang meninggal dunia di kawasan Dharmawangsa, Jakarta Selatan.
Jenazah Lula Lahfah dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Rawa Terate, Cakung, Jakarta Timur, pada Sabtu (24/1).
Sebelum meninggal, Lula sempat menjalani perawatan di rumah sakit akibat sejumlah masalah kesehatan. Ia bahkan harus melewatkan momen tahun baru di rumah sakit dan sempat menyebutkan adanya gangguan pada kondisi tubuhnya.
Publik mengetahui Lula memiliki riwayat GERD dari unggahan di media sosial saat kekasih selebgram Reza Arap itu tengah menjalani perawatan medis. "Borongan, ISK [Infeksi Saluran Kemih], usus bengkak radang, batu ginjal, GERD," tulis Lula di kolom komentar akun media sosialnya.
Di sisi lain, influencer dengan 2,7 juta followers di Instagram ini diketahui baru saja mengunggah video dirinya bersama Reza Arap pada Rabu (21/1). Dalam video tersebut, Lula tampak sehat. Unggahan itu meraih lebih dari 1 juta likes saat dilihat CNA Indonesia pada Senin (26/1) pagi.
Pengakuan Lula mengenai riwayat GERD inilah yang kemudian memicu perbincangan warganet soal seberapa serius penyakit tersebut, serta apakah GERD dapat berujung pada kematian mendadak.
MENGENAL GERD DAN GEJALANYA
GERD merupakan gangguan pada sistem pencernaan yang terjadi ketika isi lambung, termasuk asam lambung, naik ke kerongkongan. Kondisi ini muncul akibat melemahnya katup sfingter esofagus bagian bawah sehingga tidak dapat menutup dengan optimal.
Penderita GERD umumnya merasakan keluhan berupa sensasi panas atau terbakar di dada (heartburn), nyeri ulu hati, hingga rasa asam atau pahit di mulut.
Meskipun sering disamakan, GERD berbeda dengan maag. Maag merujuk pada peradangan dinding lambung, sedangkan GERD berkaitan dengan naiknya asam lambung ke esofagus.
Gejala GERD dapat dipicu atau diperparah oleh berbagai faktor, mulai dari kebiasaan makan dalam porsi besar, makan terlalu larut, konsumsi alkohol, kafein, dan minuman berkarbonasi, hingga kebiasaan merokok serta gangguan kecemasan.
GERD MENYEBABKAN KEMATIAN?
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH menegaskan bahwa GERD tidak dapat menyebabkan kematian secara langsung.
"GERD sebenarnya termasuk penyakit kronis jika penyakit berlanjut memang bisa menyebabkan gangguan pada paru-paru. Tetapi GERD sendiri tidak bisa menyebabkan langsung terjadinya kematian," tulis Ari, dikutip dari Liputan6.
Ia menjelaskan, dua gejala utama GERD yang paling sering dirasakan adalah nyeri dada dan sensasi panas seperti terbakar di dada.
"Biasanya nyeri dada ini diikuti juga dengan mulut pahit karena ada asam yang naik (regurgitasi)," tulis Ari.
Meskipun tidak memicu kematian secara langsung, GERD yang tidak tertangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi. Asam lambung yang terus naik ke kerongkongan dapat menyebabkan luka pada dinding esofagus.
"Luka yang terjadi bisa makin luas dan bisa menyebabkan penyempitan dari kerongkongan bawah," kata Ari.
Dalam jangka panjang, kondisi ini juga bisa memicu perubahan struktur dinding kerongkongan yang dikenal sebagai Barrett’s esophagus, yaitu lesi pra kanker yang meningkatkan risiko kanker esofagus.
GERD juga dapat memengaruhi organ lain di luar sistem pencernaan. Menurut Ari, dampaknya bisa menjalar hingga ke gigi berupa erosi dental, tenggorokan dalam bentuk faringitis kronis, sinusitis, laringitis pada pita suara, saluran pernapasan bawah seperti asma, hingga paru-paru berupa Fibrosis paru Idiopatik.
Ia menegaskan bahwa GERD bisa dikendalikan bahkan disembuhkan dengan pengobatan dan perubahan gaya hidup yang konsisten.
"Prinsip utama mengobati pasien GERD adalah menghilangkan gejala dan mencegah komplikasi. Tatalaksana penyakit GERD berupa tatalaksana non obat/perubahan gaya hidup dan tatalaksana obat-obatan. Tatalaksana non obat yaitu perubahan gaya hidup," katanya.
MEMICU INFEKSI
Dalam konteks kasus Lula Lahfah, Prof Ari juga menjelaskan bahwa GERD dapat memperburuk kondisi pasien bila disertai penyakit lain atau infeksi.
"Yang paling dekat bisa menyebabkan kondisi infeksi, kemudian terjadi infeksi sistemik atau sepsis. Itu memang bisa berujung kepada kematian. Nah, kondisi-kondisi lain itu bisa saja memperburuk keadaan," jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pengobatan GERD secara teratur agar kondisi tetap terkontrol dan tidak memperparah masalah medis lain.
Selain GERD, Lula juga diketahui mengalami pembengkakan usus sebelum meninggal dunia. Kondisi tersebut sempat ia ceritakan kepada sahabatnya, Keanu, termasuk rencana menjalani pemeriksaan kolonoskopi.
"Usus gw masih bengkak penebalan, terus gw harus colonoscopy," tulis Lula pada Keanu, dalam tangkapan layar perbincangan mereka yang tersebar di media sosial.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Rudy Kurniawan, SpPD menjelaskan bahwa sebagian besar gangguan usus sebenarnya bisa ditangani dengan baik jika terdeteksi sejak dini. Namun, bila peradangan tidak ditangani secara optimal, risikonya bisa meningkat.
"Pada kondisi berat atau parah, pembengkakan usus dapat menimbulkan komplikasi serius seperti sumbatan total, perdarahan, perforasi (lubang) usus, infeksi berat hingga sepsis," ungkap dr. Rudy, dikutip dari Detik.
Ia menambahkan, pembengkakan usus dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari radang usus kronis seperti Crohn atau kolitis ulseratif, infeksi, sumbatan usus, hingga gangguan aliran darah ke usus.
Secara medis, GERD tidak memicu kematian secara langsung, tetapi tetap memerlukan penanganan medis yang tepat.
Tanpa pengobatan dan perubahan gaya hidup, kondisi ini dapat berkembang menjadi komplikasi yang berbahaya bagi kesehatan, dan memperburuk penyakit lain, yang dalam situasi tertentu berpotensi menyebabkan kematian.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.