Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Kisah mantan preman yang berhasil membuka 'gym' dari nol dan punya banyak pelanggan

Karena kerap dirundung saat remaja, Luke Yeo membesarkan ototnya agar kuat saat tawuran. Sekarang, mantan preman tersebut membuka gym dan menyediakan tempat dukungan bagi mereka yang membutuhkan.

Kisah mantan preman yang berhasil membuka 'gym' dari nol dan punya banyak pelanggan

Potret Luke Yeo di perumahan Toa Payoh, tempat ia dibesarkan pada 28 April 2026. (Foto: CNA/Mak Jia Kee)

Peringatan: Artikel ini memuat pembahasan tentang bunuh diri.

Kalau kamu pernah melihat Luke Yeo langsung, kamu pasti akan segan mendekatinya.

Sekilas, pria berusia 33 tahun ini tampak garang. Tubuhnya yang besar dipenuhi tato, sementara bahunya yang lebar tampak kekar dengan otot yang menyembul.

Dia sudah membentuk badannya sejak remaja hingga dikenal sebagai "monster" dalam gengnya.

"Kalau diajak berkelahi, badanmu harus lebih besar atau setidaknya tahu cara melawannya. Atau kamu punya cukup keberanian untuk menyerang lawan dengan senjata," kata Yeo.

"Cara terbaiknya adalah membesarkan badan agar orang takut untuk berkelahi denganmu."

Dua puluh tahun yang lalu, dia ingin membangun reputasi sebagai preman yang disegani. Kini, dia menjelma menjadi seorang atlet binaraga dan pendiri Unstoppable Fitness, gym di daerah Shenton Way yang sudah berjalan empat tahun. 

Biasanya, saya tidak menilai orang lain dari penampilannya. Akan tetapi, ketika pertama kali berjumpa dengan Yeo melalui panggilan video, saya bingung karena saya tidak memiliki kesamaan dengannya, seorang pemilik gym dan bertubuh besar. Harus saya akui, saya tumbuh besar sebagai anak yang suka baca buku dan baru terjun di dunia fitness saat sudah dewasa, itu pun setengah hati. 

Namun, Yeo langsung berbagi cerita bahwa dirinya pun mulai saat masih remaja tanggung dan kurus. Di usia 13, dia menjadi korban perundungan karena penampilannya yang "kerempeng". Saat itu, tingginya 1,68m dan beratnya 42kg, sekitar setengah dari berat tubuhnya sekarang.

Kemudian, dia bergabung ke dalam geng, putus sekolah saat SMP, dan paling nahasnya, dia mendekam di penjara, sebelum akhirnya menemukan rasa kebersamaan yang dicarinya di tempat yang tidak semestinya.

Di pertemuan kedua, kali ini tatap muka di tempat gym miliknya, saya sakit dan merasa canggung karena mayoritas laki-laki di sekeliling saya tengah berlatih. Sesekali dentuman beban dan erangan mereka yang berolahraga memecah suara musik dari pengeras suara. 

Ketika saya membahas tentang budaya "laki-laki alfa" atau "gym bro" yang kerap diasosiasikan dengan tempat fitness, Yeo menjawab bahwa dia mengerti bagaimana stereotipe itu muncul dan bagaimana gym tampak menyeramkan, bahkan bagi orang sepertinya. 

Namun, menurut pengalamannya, justru "orang-orang besar" dan bertatolah yang kerap bersedia untuk mengulurkan tangan bagi orang-orang di gym.

Dia menambahkan bahwa dirinya menamai tempat gymnya sebagai "Unstoppable" bukan karena ingin berpihak ke orang yang kuat, melainkan memberi semangat kepada siapa saja yang datang agar berani mencoba, bahkan di saat mereka tidak memiliki dukungan.

"Saya memulai segalanya dari nol. Tanpa orangtua. Tanpa rekan bisnis. Tanpa investor. Hingga akhirnya saya mendirikan sesuatu. Bukan berarti sekarang saya sudah menjadi orang hebat, tetapi dengan minat dan kerja keras, saya berhasil bangun jalan untuk saya sendiri."

GENG DAN TATO PERTAMA DI USIA 13 

Yeo tumbuh dari keluarga bercerai di saat usianya masih belia. Sejak kecil, ayahnya gemar mabuk-mabukan dan berjudi, sehingga dia dan kakak laki-lakinya lebih banyak diasuh oleh kakek-neneknya.

Ibunya juga sering tidak hadir. Dia ingat bahwa dia hanya melihat ibunya tiga kali sepanjang hidupnya: pertama di pengadilan saat kakaknya dikirim ke penjara dan kedua saat neneknya meninggal.

"Ketiga, saya melihatnya sebelum ia bunuh diri," ujar Yeo.

Kakak beradik tersebut hidup berhimpitan di apartemen tiga kamar kakek-neneknya bersama dengan empat saudara lainnya. Walau demikian, Yeo mengenang bahwa dia 'sangat bahagia' hidup bersama kakek-neneknya meski terpaut usia yang jauh dan hanya bisa berkomunikasi lewat bahasa Teochew, yang akhirnya turut dipelajari oleh Yeo dan kakaknya.

"Nenek selalu bilang: 'Apa yang kita punya, misal S$1 (sekitar Rp13.800) – S$1 itu hak kita'."

Namun, ketika masuk SMP, dia diliputi berbagai masalah. Pada hari pertama, beberapa siswa senior menyuruhnya untuk membelikan mereka hot dog dan susu kedelai dengan uang sakunya yang S$2 dan terus menindasnya setiap hari.

"Saya dibawa ke parkiran mobil. Saya masih ingat di pojok parkiran, mereka menindih tangan saya, membuka mulut saya, menyumpal rumput ke mulut saya dan menyuruh saya untuk mengunyahnya."

Karena tidak ingin merepotkan neneknya yang sudah lanjut usia, dia mencari perlindungan dengan bergabung ke dalam geng.

Geng pertamanya terdiri dari lima siswa yang menato badannya di Peninsula Plaza sebagai bentuk solidaritas mereka. Di usia 13, tato pertama Yeo berupa dewa petir Jepang di tengah punggungnya. Itu adalah salah satu dari sedikit desain yang sanggup dia bayar dengan S$30.

"Saat saya muda, semakin banyak tato yang kita punya, semakin garang kita terlihat. Jadi kami terus menambah tato sebanyak mungkin," terangnya.

Saat SMP kelas 3, ketika beralih ke celana sekolah yang panjang, dia mulai menato kakinya juga, "mulai dari kaki hingga ke arah bokong".

Kiri: Foto lama Luke Yeo saat berusia 17 tahun. Kanan: Foto sekarang Yeo di tempat gym-nya. (Foto: Luke Yeo)

Sekarang, di lengan kanan Yeo juga terdapat tato hutan Amazon yang dipenuhi dengan jaguar, gorila, dan burung kakatua, sedangkan bagian kirinya dipersembahkan untuk karakter-karakter komik Batman.

Pada saat yang bersamaan, dia juga meninggalkan kelas agar dapat bermain gim komputer bersama teman-temannya hingga akhirnya dia dikeluarkan dan berteman dengan anggota geng.

"Mayoritas berasal dari keluarga yang sudah pisah, dan kami semua (saling) memahami," terangnya. 

Untuk pertama kali dalam hidupnya, Yeo menemukan dukungan dengan cara yang tidak diketahuinya bisa, meskipun itu tidak benar. 

"Pertama kali saya kena masalah, saya panggil ketua geng, lalu 60 orang datang," ujarnya. "Jadi kamu merasa kuat. Sebab, ada yang mendukung kita."

Beberapa tahun kemudian, Yeo berulang kali terjerat masalah hukum, termasuk kasus perkelahian dalam klub.

Puncaknya terjadi pada tahun 2015 ketika polisi datang ke apartemen neneknya di Toa Payoh untuk menangkap Yeo atas kegiatan perjudian ilegal.

Ketika suasana memanas, nenek Yeo, yang saat itu berusia 86 tahun, berlutut dan memohon kepada polisi agar tidak menangkapnya. 

"Saya bilang ke nenek saya untuk berdiri, jangan seperti ini. Saya bilang ke petugas polisi: 'Kalau mau ringkus saya, bawa saya keluar dari rumah dan borgol saya. Jangan lakukan di depannya'."

Di usia 22 tahun, Yeo dijatuhi hukuman 12 bulan karena melanggar Undang-Undang Perjudian Jarak Jauh Singapura. Dia ditempatkan secara terpisah di bawah perintah pengawasan kepolisian selama tiga tahun berdasarkan Undang-Undang Hukum Pidana (Ketentuan Sementara) atau hukum lama yang memberikan kewenangan untuk menahan orang yang terkait dengan kegiatan kriminal tertentu, seperti organisasi rahasia, tanpa persidangan.

KOMUNITAS BARU DI TEMPAT GYM 

Penjara membuat Yeo sadar.

"Kamu diasingkan dari dunia. Tidak seorang pun tahu kalau kamu ada. Seakan-akan, kamu lenyap," ungkapnya. Dia ingat pertama kali dia berhasil meninggalkan kebiasaan lamanya: "Rasanya langit sangat cerah dan udara terasa segar."

Selama mendekam dipenjara, ponsel terbaru rilis, stasiun kereta baru dibangun di dekat tempat tinggalnya, dan yang lebih menyakitkan, neneknya sudah meninggal. 

Bertahun-tahun budaya geng mengajarkan untuk tidak sekalipun menunjukkan kelemahan, termasuk menangis. 

Tetapi ketika dia menerima kabar kematian neneknya, seketika menangis. "Itu salah satu momen terberat dalam hidup saya," ungkap Yeo. 

Dia juga mendapat kabar bahwa apartemen neneknya sudah dijual dan dia tidak lagi memiliki tempat tinggal. Akhirnya, dia pindah ke apartemen sewa milik pemerintah yang ditempati ayahnya.

Dengan uang sisa S$200 di kantongnya, tanpa ijazah pendidikan di atas tingkat Sekolah Dasar (SD), dan tidak ada tujuan hidup yang jelas, dia merasa putus asa. Dia bahkan sempat mencoba mendaftar akademi kemiliteran usai menyelesaikan Pelatihan Militer Dasar, namun ditolak karena rekam jejak hukumnya.

Dia merasa hanya tubuhnya yang dia miliki. 

Karena selama ini berlatih sendiri dan pernah melatih orang secara lepas di gym milik teman, Yeo mulai mengambil klien yang menginginkan jasa personal training secara lepas di Carousell dengan menggunakan gambar perubahan fisiknya untuk mempromosikan jasanya.

Awalnya, tato-tato di tubuhnya menuai skeptisisme orang-orang.

"Sekarang tato tampil terang-terangan, tetapi dulu, orang-orang melihat saya seperti iklan. Tentunya, klien merasa tidak nyaman dan masih sulit menaruh kepercayaan," ucapnya.

Yeo bekerja keras untuk mengubah persepsi negatif orang-orang dengan menunjukkan komitmen kepada klien-kliennya dan keterampilan yang dapat dia tawarkan. Pada akhirnya, semua terbayarkan. 

Sekarang, setelah 10 tahun menjadi personal trainer, dia telah melatih lebih dari 200 klien, mulai dari anak 15 tahun yang baru antusias memulai olahraga hingga orang tua di usia 70-an yang ingin membangun kekuatan agar dapat menjalani aktivitas keseharian. Beberapa di antaranya bahkan bertahan selama 10 tahun.

Dia juga mengikuti kompetisi binaraga. Yeo tidak semata-mata mengejar kemenangan, melainkan juga manfaat dari rutinitas intensif setiap harinya mulai dari menyiapkan makanan hingga fokus latihan.

"Memasak itu membutuhkan banyak waktu. Setiap tiga jam sekali, saya harus makan," jelas Yeo. "Saya harus latih badan saya dan kardio selama dua jam (setiap harinya)." Ditambah dengan merawat dan membawa jalan anjing-anjing kesayangannya, lengkap sudah aktivitas kesehariannya. 

Dia merasa bersyukur dengan rutinitas menantang ini karena dengan itu, pikirannya bersih dari segala yang membebani dan mengusiknya selama bertahun-tahun.

"Saya (jadi) fokus dan bisa merasakan perubahannya pada badan saya. Di situlah saya mulai merasa: 'Oke, ini akan jadi tujuan hidup saya. Paling tidak, saya berbuat baik untuk diri saya sekarang'."

Dia mulai perlahan-lahan meresmikan bisnis personal training secara lepas, mengajukan pinjaman, mencari tempat, dan menegosiasikan harga sewa untuk gym. Tak lama kemudian, Unstoppable Fitness berdiri.

Kutipan yang ditulis Luke Yeo pada dinding gym miliknya, 16 April 2026. (Foto: CNA/Mak Jia Kee)

Awalnya, Yeo mengerjakan segalanya sendiri. Dia mengatur jadwal dan membuka sesi latihan dengan klien-kliennya, mengerjakan segala administrasi dan pemasarannya, bahkan rela gulung lengan baju untuk membersihkan dan mencuci kain sendiri.

"Sebagai pemilik usaha, apapun masalahnya itu adalah masalah kita juga," kata Yeo, menambahkan bahwa dia harus belajar mengerjakan pekerjaannya tanpa pelatihan formal di bidang bisnis maupun pemasaran sebelumnya.

Awalnya, dia mencoba menurunkan harganya serendah mungkin demi menjangkau pelanggan sebanyak-banyaknya, sekaligus menerima semua pelanggan yang datang demi bisa membayar tagihan. Namun, strategi pemasaran ini tidak efektif dan terlalu memaksa sehingga dia kelelahan. 

"Parahnya uangnya tidak datang, dan (keuangan) saya terkuras tiap bulan. Sampai-sampai, saya bertanya sendiri: 'Mengapa saya masih melakukan ini? Apa sebaiknya berhenti?'” Di luar keganjilan yang menerpanya, komitmen tegar dan enggan menyerah membuat Yeo bersikukuh maju.

"Tidak ada yang saya sesali karena tanpa pengalaman itu, saya pikir saya tidak bisa bertahan sampai sekarang." 

Akhirnya, ketulusannya memenangkan banyak hati klien yang berhasil dia kumpulkan. Sejak saat itu, namanya mulai banyak disebut. Yeo ingat percakapan dengan seorang klien yang menceritakan segala yang dia lakukan untuk membangun bisnisnya. 

Klien tersebut memiliki masalah kesehatan dan mengatakan bahwa kedatangannya ke tempat gym tersebut adalah bentuk pelariannnya sembari berupaya menurunkan berat badan. 

Hal itu membuat Yeo sadar karena dia juga menemukan pelarian dalam gym saat dia masih muda dan hilang arah. "Dulu saya selalu berbuat masalah, terlibat perkelahian dan semacamnya. Dan gym menjadi tempat saya merasa diterima."

Klien tersebut juga mengatakan bahwa dampak yang Yeo berikan sangat dalam, karena kesehatannya meningkat, lebih percaya diri, dan meningkatkan hubungannya dengan istrinya. 

"Saya selalu berpikir kalau latihan itu hanya fisik. Tetapi menjadi pelatih juga menjadi pendengar yang baik," kata Yeo. 

"Sebagian orang mungkin sedang mengalami hari yang tidak menyenangkan di tempat kerja atau masalah (keluarga), dan mereka datang untuk melepaskannya."

MASIH 'BOCAH KECIL DENGAN BADAN BESAR'

Tampaknya kehidupannya berakhir bahagia dan sempurna: mantan preman yang dulunya bermasalah, berubah dan menemukan tujuan baru dalam bisnisnya yang sedang berkembang. Akan tetapi, Yeo menyadari bahwa dia belum sepenuhnya lepas dari keterpurukan.  

Beberapa tahun terakhir, maraknya penutupan gym mencerminkan tantangan yang dihadapi para pengelola gym: mulai dari harga sewa tinggi, pasar jenuh, dan permintaan pelanggan menurun di saat sistem kerja hibrid atau fleksibel semakin mengakar di masyarakat setelah pandemi COVID.

Yeo memiliki beberapa pelatih dan staf yang membantunya, tetapi dia tetap hadir di gym enam hari seminggu untuk menemui klien-kliennya.

Sekarang, impiannya adalah membuka cabang Unstoppable Fitness lainnya di tempat yang lebih strategis dengan fasilitas terbaru agar orang-orang tertarik untuk mendaftar. 

Dia juga berharap dapat tampil di panggung kompetisi binaraga sesekali selagi performanya masih prima, meski kini ia kesulitan mempertahankan rutinitas olahraganya yang ketat karena harus menghadapi tekanan yang tiada hentinya dalam menjalankan bisnisnya.

Portret Luke Yeo di perumahan Toa Payoh, tempat ia dibesarkan pada 28 April 2026. (Foto: CNA/Mak Jia Kee)

Meski banyak beban yang harus dipikulnya, Yeo mengatakan bahwa dia masih dekat dengan kakak laki-lakinya. Saat ini, kakaknya (34) yang juga personal trainer di Unstoppable Fitness tinggal bersama Yeo di Toa Payoh, dekat dengan apartemen tiga kamar yang mereka huni bersama semasa kecil dengan enam orang lainnya. 

Meski dia mengaku dirinya sebagai orang yang introvert, Yeo dengan antusiasnya mengajak saya mengelilingi kompleks perumahan yang berwarna dinding bata dan lapangan bola basket, di mana menurutnya, "orang-orang nakal" biasa berkumpul.

Sambil duduk di bangku yang menghadap ke arah taman bermain, yang baru saja direnovasi menjadi tiga lantai dan tidak lagi bisa dipanjat seperti yang biasa dia lakukan saat kecil, Yeo menunjukkan satu-satunya foto semasa kecil yang berhasil dia temukan. Saat itu, dia masih bocah di acara wisuda taman kanak-kanak, mengenakan toga dan topi biru, tersenyum malu-malu ke arah kamera. 

"Muka saya tak banyak yang berubah. Bedanya, sekarang saya kelihatan seperti bocah berbadan lebar," tutur Yeo dengan senyum kekanak-kanakan yang tidak hilang darinya. 

Luke Yeo tengah melihat fotonya semasa kecil di lingkungan tempat dia dibesarkan pada 28 April 2026. (Foto: CNA/Mak Jia Kee)

Dia sempat bertanya ke teman-teman sekolah lamanya apakah mereka masih menyimpan foto dirinya semasa kecil, tetapi ternyata tidak ada yang memilikinya. Dia terlalu banyak absen dari sekolah sehingga dirinya tidak masuk dalam foto kelas saat di SMP. 

Akan tetapi, salah satu kenangan yang paling membanggakannya adalah diundang untuk berbicara di depan 40 pelajar perihal kariernya sebagai personal trainer 20 tahun kemudian. Itu pertama kalinya dia menginjakkan kaki di auditorium sekolah. 

"Saya malu," Yeo mengaku. "Saya (bahkan tak pernah lulus) sekolah dan di sini, saya memberi bimbingan kepada orang lain. Senang, sedih, semua bercampur jadi satu. 

Ketika saya menanyakan apakah menurutnya mendiang neneknya bangga dengan semua pencapaiannya, Yeo justru memasang senyum malu. 

"Saya rasa sebagian iya, sebagian lagi tidak," jawabnya, meksipun dia masih mengingat nasihat-nasihat neneknya tentang menjadi orang yang baik dan membantu orang lain.

Nilai itu terus dijadikan sebagai pegangannya dalam setiap pekerjaannya hingga saat ini. Tahun lalu, Unstoppable Fitness ikut serta dalam penggalangan dana untuk Rare Diseases Society of Singapore pada 2025. Dalam kegiatan itu, Yeo dan trainer-nya harus melakukan push-up sebanyak 1,000 kali sebagai satu tim.

Luke Yeo dan tim Unstoppable Fitness pada acara amal untuk Rare Disorders Society Singapore pada 2025. (Foto: Luke Yeo)

Dalam rangkaian kegiatan amal tersebut, dia berkesempatan untuk foto bareng dengan selebriti lokal yang merupakan aktor sekaligus model, Paul Foster.

Hingga saat ini, dia masih merasa tidak menyangka saat ditanya tentang acara tersebut. "Orang seperti saya, tahu-tahu foto bareng dengan aktor sekarang," tuturnya dengan nada heran.

"Saya tidak bisa tentukan siapa orangtua saya, saya tidak punya investor ataupun rekan, tapi saya bisa tentukan jalan saya sendiri. Bukan berarti saya sudah sukses, tetapi melihat anak-anak atau orang-orang mengatakan kalau mereka ingin seperti saya, baik dari segi fisik maupun pribadi, paling tidak, saya sekarang bisa menginspirasi orang."

Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.

Source: CNA/ar(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan