Skip to main content
Iklan

Lifestyle

Rupiah melemah, tiket konser tetap sold out: Memahami fenomena Lipstick Effect

Rupiah melemah dan harga BBM naik, tetapi pusat perbelanjaan, konser, dan festival kreatif tetap dipadati pengunjung. Mengapa masyarakat tetap mengeluarkan uang untuk hiburan dan gaya hidup di tengah tekanan ekonomi?

Rupiah melemah, tiket konser tetap sold out: Memahami fenomena Lipstick Effect

Grup K-pop BTS tampil dalam konser ‘BTS The Comeback Live Arirang’ di pusat kota Seoul, Korea Selatan, pada 21 Maret 2026. (Foto: BIGHIT MUSIC/Netflix/via REUTERS)

JAKARTA: Tangan Setiorini gemetar hebat. Ia hanya bisa terdiam sambil menatap layar laptopnya. Kesempatan yang dinantikannya selama bertahun-tahun akhirnya datang juga: menyaksikan grup K-pop BTS tampil secara langsung.

Setiorini berhasil mengamankan tiket konser BTS World Tour ARIRANG untuk Sabtu, 19 Desember 2026, di National Stadium, Singapura. Perempuan berusia 35 tahun ini juga berhasil mendapat tiket konser BTS di Jakarta untuk 27 Desember nanti.

Mengantongi dua tiket konser BTS jadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidupnya. Pasalnya bagi seorang ARMY, sebutan untuk penggemar BTS, seperti dirinya, war tiket konser grup K-pop merupakan pertarungan strategi, mental, dan keberuntungan.

Untuk mendapatkan satu tiket konser BTS di lower tribune, baik di Jakarta atau Singapura, ia harus merogoh kocek sekitar Rp3 jutaan.

Di sudut Jakarta lainnya, Anisa Tiarani juga tak bisa menyembunyikan antusiasmenya saat menceritakan pengalaman berbelanja di brightspotCITY 2026, festival kreatif yang menghadirkan berbagai koleksi fashion, kuliner, dan produk gaya hidup pada Mei lalu.

Perempuan berusia 30 tahun yang telah mengunjungi festival Brightspot selama tiga kali berturut-turut itu mengaku menghabiskan sekitar Rp2 juta untuk membeli lima fashion item. "Keren event-nya, mengumpulkan brand-brand lokal yang bagus-bagus. Ada juga pernak-pernik, sepatu, makanan. Jadi aku dapat semua di satu event," ujarnya.

Event brightspotCITY 2026 diselenggarakan di Agora Mall pada Mei dan Juni 2026. (Foto: Dok. brightspotMRKT)

Jutaan rupiah untuk tiket konser atau belanja fashion bukanlah pengeluaran yang kecil bagi sebagian orang di Indonesia. Terlebih lagi di tengah ketidakpastian ekonomi, ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, IHSG terkoreksi tajam, dan harga bahan bakar non-subsidi terus meningkat.

Cerita Setiorini dan Anisa mencerminkan fenomena yang lebih luas di Indonesia. Data dari sejumlah platform belanja, pusat perbelanjaan, hingga penyelenggara festival menunjukkan masyarakat masih aktif mengeluarkan uang untuk hiburan, gaya hidup, dan berbagai kebutuhan non-esensial lainnya.

Fenomena inilah yang kerap disebut sebagai Lipstick Effect, yaitu kondisi ketika masyarakat tetap membelanjakan uang untuk barang atau pengalaman non-esensial di tengah tekanan ekonomi.

Menurut pakar ekonomi, fenomena ini muncul ketika target finansial besar terasa semakin sulit dicapai. Akibatnya, banyak orang mencari kepuasan melalui konsumsi yang lebih terjangkau.

"Ini menunjukkan orang butuh kebahagiaan kecil di area hiburan kecil karena mereka putus asa untuk bisa menabung beli rumah atau membiayai pendidikan anak," kata Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira kepada CNA.

HIBURAN JALAN TERUS

Setiorini, yang juga merupakan staf di salah satu kementerian lain, mengakui bahwa kocek yang dirogohnya untuk menghadiri konser BTS itu tidak sebanding dengan penghasilannya setiap bulan.

Kalau menabung, dia menghitung setidaknya harus menyisihkan 30 persen gajinya selama empat bulan. Akhirnya, dia memutuskan menggunakan kartu kredit untuk mewujudkan kebahagiaannya tersebut.

"Jujur aku pakai kartu kredit, jadi enggak nabung dulu. Kalau menabung, butuh 4 bulan agar bisa nyaman menikmati konser di Singapura," kata dia.

Antusiasme masyarakat terhadap hiburan seakan tidak mencerminkan berbagai tekanan yang tengah membayangi perekonomian Indonesia. Pada Jumat (19/6), war tiket ARMY Membership Presale untuk konser BTS World Tour ARIRANG in Jakarta hari ketiga membludak hingga menembus 960.000 orang. 

Sebelumnya pada awal Juni 2026, penjualan umum (general sale) tiket konser BTS di Jakarta untuk hari pertama dan kedua habis terjual dalam 10 menit, dengan antrean daring mencapai sekitar 700.000 orang.

Sementara itu, pada April 2026, tiket konser EXO di Jakarta ludes dalam waktu kurang dari satu jam dengan antrean lebih dari 180.000 orang.

Grup K-pop EXO menggelar konser di Jakarta pada April 2026, dengan penjualan tiket yang ludes dalam waktu kurang dari satu jam dengan antrean lebih dari 180.000 orang. (Foto: Instagram/@weareone.exo)

Bukan hanya tiket konser, fenomena serupa juga tercermin dari data belanja masyarakat, baik secara online maupun offline.

Salah satu platform e-commerce terbesar di Indonesia, Lazada, mencatat kenaikan 52 persen pada nilai rata-rata pembelanjaan pelanggan selama kampanye diskon tanggal kembar Lazada 6.6 Super WOW Sale dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menariknya, pertumbuhan terbesar kembali datang dari kategori yang tergolong non-esensial, yakni elektronik dan fashion. Dalam siaran pers yang diterima CNA, Lazada menyebut penjualan elektronik meningkat hingga empat kali lipat, sementara fashion melonjak enam kali lipat dibandingkan hari biasa.

Tak hanya online, peningkatan aktivitas belanja secara offline juga terlihat marak. Anton Wirjono, founder brightspotMRKT yang menjadi penyelenggara brightspotCITY 2026, mengungkapkan sebanyak 216.000 orang mengunjungi festival yang digelar selama dua pekan di Agora Mall, di pusat kota Jakarta itu.

Menghadirkan 251 tenant dari kategori fashion, kuliner, olahraga, dan brand kreatif, event itu mencatat lonjakan transaksi penjualan sebesar 74 persen dibandingkan festival Brightspot sebelumnya, menurut Anton, sembari menolak mengungkapkan nilai total penjualan.

"Event terakhir didatangi 175.000 orang, yang kali ini 216.000. Jadi secara event, memang ini menjadi yang terbesar," ujar Anton, yang telah menggelar festival kreatif itu selama 17 tahun.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan tingkat kunjungan ke pusat perbelanjaan hingga kini masih relatif stabil, meski industri ritel saat ini tengah memasuki periode low season setelah puncak belanja selama Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri pada akhir Maret lalu.

"Sebagaimana biasanya, dalam berbagai kondisi dan situasi, masyarakat Indonesia tetap berkunjung ke pusat perbelanjaan," ujarnya kepada CNA.

Event brightspotCITY 2026 menghadirkan 251 tenant dari berbagai kategori, seperti fashion, kuliner, olahraga dan gaya hidup. (Foto: Dok. brightspotMRKT)

PENGARUH EMOSIONAL DAN SOSIAL

Semakin ramainya konser dan festival tidak otomatis berarti masyarakat memiliki lebih banyak uang untuk dibelanjakan. Menurut Bhima, kondisi tersebut bisa mencerminkan kecenderungan masyarakat mencari pelarian atau kepuasan jangka pendek di tengah tekanan ekonomi.

Fenomena Lipstick Effect ini, kata dia, kerap muncul ketika tujuan finansial jangka panjang terasa semakin sulit dijangkau. Dalam kondisi tersebut, sebagian masyarakat memilih mengalokasikan uang untuk kebutuhan tersier yang memberikan kepuasan instan, alih-alih menunggu hingga mampu mencapai target besar.

"Kelas menengah belanja barang-barang yang sifatnya tersier, karena barang primer sulit dipenuhi," kata Bhima. 

ASAL MULA ISTILAH LIPSTICK EFFECT

Istilah Lipstick Effect dipopulerkan oleh Leonard Lauder, mantan Chairman Estée Lauder Companies, setelah penjualan lipstik perusahaannya meningkat sekitar 11 persen ketika ekonomi Amerika Serikat melemah pascaserangan 11 September 2001.

Lauder berpendapat bahwa ketika kondisi ekonomi memburuk, masyarakat cenderung menunda pembelian besar seperti rumah, mobil, atau barang mewah mahal, tetapi tetap mencari cara untuk memanjakan diri melalui kemewahan kecil yang lebih terjangkau.

Fenomena ini tidak terbatas pada kosmetik, tetapi juga ke barang atau pengalaman yang memberikan kenyamanan emosional tanpa terlalu membebani keuangan, mulai dari makanan dan minuman hingga gadget, konser, atau liburan singkat.

Meski demikian, keberadaan Lipstick Effect masih menjadi perdebatan di kalangan ekonom dan pengamat perilaku konsumen. Dalam sejumlah analisis yang dimuat media bisnis seperti Forbes dan Harvard Business Review, para peneliti menilai fenomena ini lebih tepat dipahami sebagai perubahan pola konsumsi saat masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi, bukan sebagai indikator pasti bahwa ekonomi sedang memasuki resesi.

Collapse

Setiorini mengatakan, keputusan menggunakan kartu kredit untuk membeli tiket konser BTS bukan semata soal hiburan. Baginya grup Kpop tersebut telah menjadi bagian penting dalam berbagai fase hidupnya.

"Buat aku pribadi, BTS bukan sekadar boyband. Mereka hadir di banyak fase hidupku, termasuk saat aku sedang merasa lelah, kehilangan semangat, atau meragukan diriku sendiri."

Setiorini mengakui bahwa keputusan ikut war tiket konser BTS di Singapura dan Jakarta memang bukan keputusan yang paling hemat.

"Tapi buatku ini adalah bentuk self-reward setelah bekerja keras selama bertahun-tahun. Aku bekerja, menabung, merencanakan semuanya dengan baik. Jadi, aku tidak melihatnya sebagai pemborosan," ungkapnya.

Sementara bagi Anisa yang kerap mengunjungi event fashion seperti Brightspot, menghabiskan jutaan rupiah untuk berbelanja barang-barang fashion tidak sampai mengganggu rencana keuangannya karena ia sudah menyiapkan dana khusus untuk itu.

"Jadi, pengeluaran aku untuk beli baju atau beli barang yang lain memang uang tidak terpakaiku yang aku sisihkan sendiri, tidak mempengaruhi budget alokasi untuk hal lain seperti investasi," pungkasnya.

Pengunjung mencoba lipstik di sebuah toko kosmetik di Tangerang pada 13 Juni 2026. Ekonom mengatakan permintaan terhadap barang-barang mewah yang relatif terjangkau tetap kuat meski ada kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Indonesia. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, mengonfirmasi bahwa angka kunjungan ke pusat perbelanjaan relatif stabil meski perekonomian mengalami penurunan lantaran kuatnya fungsi mal sebagai ruang sosial masyarakat. "Masyarakat Indonesia memiliki budaya senang atau suka berkumpul," ujarnya.

Di sektor pariwisata dan akomodasi, pelemahan rupiah juga memicu pergeseran rute liburan kelompok menengah atas. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, menjelaskan bahwa mahalnya ongkos ke luar negeri membuat wisatawan domestik mengalihkan anggaran mereka ke destinasi lokal yang mudah dijangkau, khususnya di Pulau Jawa.

"Sekarang orang mungkin tidak pergi ke luar negeri. Mereka akan berwisata atau spend duit mereka untuk berlibur masih di Indonesia saja," tuturnya kepada CNA.

Namun, Maulana mengingatkan bahwa fenomena Lipstick Effect yang semarak di Jawa dan Bali tidak mencerminkan realitas nasional. Konektivitas dan populasi besar memang menjaga denyut ekonomi di Pulau Jawa, tetapi tingginya harga bahan bakar yang melambungkan tiket pesawat justru memukul pariwisata di wilayah lain di Indonesia.

"Nah, itu berarti kan orang Jakarta dan sekitarnya liburan hanya sekadar di Pulau Jawa. Tapi, bagaimana nasib yang di Pulau Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi termasuk di daerah bagian timur seperti Papua? Di sana bandaranya sepi," ujar Maulana.

Imbas lesunya pergerakan antarpulau ini mulai menekan bisnis perhotelan dan restoran di daerah, memaksa pelaku usaha melakukan efisiensi hingga pengurangan jam kerja karyawan. "Penurunan pergerakan itu tentu dampaknya ke restoran juga. Itu yang terjadi," tambahnya.

Pengunjung mengunjungi sebuah toko gaya hidup di Jakarta pada 13 Juni 2026. Pengeluaran konsumen untuk barang-barang diskresioner dengan harga lebih rendah tetap stabil meski pembelian barang yang lebih mahal semakin sulit dijangkau. (Foto: CNA/Ridhwan Siregar)

JANGAN BERLEBIHAN

Bhima dari CELIOS mengingatkan masyarakat untuk tidak berbelanja berlebihan di tengah kondisi ekonomi sekarang ini. Perhatian muncul ketika pengeluaran tersebut semakin banyak ditopang oleh pembiayaan utang.

Bhima menyoroti pertumbuhan penggunaan PayLater yang meningkat tajam, sementara pertumbuhan kredit untuk UMKM justru melambat.

Per April 2026, kredit Buy Now Pay Later (BNPL/PayLater) perbankan mencapai tumbuh sebesar 37,29 persen yoy menjadi Rp29,3 triliun, dengan jumlah rekening mencapai 31,76 juta. Sementara, kredit UMKM hanya tumbuh 0,16 persen yoy, menurut siaran pers Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dirilis pada 5 Juni 2026.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pola keuangan yang kurang sehat dan berpotensi menimbulkan masalah di kemudian hari. Karena itu, ia menyarankan masyarakat mengurangi belanja impulsif dan tidak mudah tergoda oleh berbagai promo pinjaman konsumtif.

Fenomena ini, lanjut Bhima, kemungkinan akan mereda ketika kondisi ekonomi membaik dan masyarakat kembali memiliki keyakinan untuk mengejar tujuan finansial jangka panjang.

"Kalau situasi ekonomi sudah mulai membaik lagi. Maka dia akan fokus lagi beli rumah. Fokus lagi beli kendaraan bermotor," kata Bhima.

Data survei harga properti residensial terbaru Bank Indonesia menunjukkan penjualan properti residensial primer turun 25,67 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I 2026, berbalik dari pertumbuhan 7,83 persen pada kuartal sebelumnya.

Pada periode yang sama, harga properti residensial hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan, mengindikasikan permintaan yang masih lemah.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) juga menyebut pelaku industri otomotif saat ini menghadapi tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat. Sekretaris Jenderal GAIKINDO Kukuh Kumara pada Januari lalu mengatakan harga mobil naik sekitar 7,5 persen per tahun, sementara pendapatan kelompok masyarakat yang berpotensi membeli mobil hanya tumbuh sekitar 3 persen.

Data GAIKINDO menunjukkan penjualan mobil secara wholesales (dari pabrikan ke dealer) mencapai 803.687 unit pada 2025, turun 7,2 persen dibandingkan 865.723 unit pada 2024.

Sementara itu, penjualan mobil secara ritel (dari dealer ke konsumen) tercatat 833.692 unit pada 2025, turun 6,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, GAIKINDO tetap optimistis industri otomotif akan pulih pada tahun ini.

Bhima mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru menganggap ramainya pusat perbelanjaan atau tingginya konsumsi sebagai tanda bahwa kondisi ekonomi sedang baik-baik saja.

"Jadi jangan melihat ramai menjadi indikator ekonomi baik-baik saja. Justru harus membacanya secara lebih kritis di balik fenomena orang membelanjakan sesuatu," kata Bhima.

Laporan tambahan oleh Kiki Siregar.

Source: CNA/ps(da)

Juga layak dibaca

Iklan
Iklan