Bertema iblis, KPop Demon Hunters dilarang di sekolah ini
Lagu-lagu dari film populer Netflix ini dianggap tidak sesuai dengan nilai agama yang dianut komunitas sekolah itu.
Salah satu adengan dalam film animasi KPop Demon Hunters yang tayang di Netflix mulai Juni 2025. (Foto: Dok. Netflix)
Sebuah sekolah di Inggris memutuskan menghentikan nyanyian lagu-lagu dari film KPop Demon Hunters setelah sejumlah orangtua mengeluhkan tema yang dianggap terlalu sensitif.
Para orang tua khawatir konten film musikal Korea ini dianggap tidak sejalan dengan "etos Kristiani".
Lilliput Church of England Infant School di Poole, Dorset, mengirim pesan kepada orangtua pada pekan lalu untuk menyampaikan bahwa beberapa anggota komunitas merasa "sangat tidak nyaman" dengan referensi tentang demon dalam lagu-lagu itu.
Sekolah menjelaskan bahwa ketidaknyamanan itu muncul karena mereka "mengaitkannya dengan kekuatan spiritual yang berseberangan dengan Tuhan dan kebaikan".
Pelaksana tugas kepala sekolah Lloyd Allington pekan ini mengumumkan pihaknya telah menerima saran dari para orangtua yang menyoroti pesan positif dalam lagu-lagu tersebut, namun menegaskan bahwa pihak sekolah tetap berupaya mendukung mereka yang merasa tema-tema itu "menantang".
KPop Demon Hunters menjadi film paling banyak ditonton di Netflix pada Agustus 2025. Film ini mengikuti petualangan grup perempuan K-pop fiksi bernama Huntr/x yang terdiri dari tiga anggota yang menggunakan musik dan kemampuan bertarung mereka untuk melindungi manusia dari para demon.
Film ini juga menampilkan kelompok rival beranggotakan lima demon bernama Saja Boys, dengan lirik lagu yang membahas tema seperti godaan dan bujuk rayu.
Dalam pesan awal kepada orangtua, sekolah Lilliput Church of England Infant School meminta mereka untuk mendorong anak-anak agar "tidak menyanyikan lagu-lagu tersebut di sekolah demi menghormati mereka yang merasa tema-temanya bertentangan dengan keyakinan mereka".
Namun, menurut laporan BBC, salah satu orangtua lain yang tak disebutkan namanya mengungkapkan, "Menurutku itu konyol. Putriku sangat suka K-pop dan dia serta teman-teman kecilnya semua menyukainya"
Ia mengatakan para murid sering menampilkan lagu-lagu itu di acara ekstrakulikuler setelah sekolah.
"Itu cuma kegiatan kecil yang menyenangkan dan tidak berbahaya, sekaligus membantu mereka membangun rasa percaya diri," ujarnya.
Orangtua tersebut menggambarkan dirinya sebagai seorang ateis dan merasa aturan baru ini seperti "sebuah pemaksaan dan mungkin agak tidak adil serta konyol".
Ia menambahkan bahwa sebelumnya tidak pernah ada aturan serupa dan secara umum ia memuji sekolah tersebut, tetapi ia merasa sekolah sedang berada di bawah tekanan untuk membuat perubahan ini.
Plt. kepala sekolah Allington menjelaskan bahwa sekolah menerima masukan bahwa beberapa lagu dalam film tersebut, termasuk lagu utama, Golden, membantu anak-anak belajar tentang kerja sama, keberanian, dan kebaikan.
Lagu Golden bertengger di puncak tangga lagu Inggris selama sepuluh pekan, menurut laporan Variety.
Ia melanjutkan: "Kami sepenuhnya menghormati hak kalian untuk menentukan konten apa yang ingin anak kalian konsumsi di rumah, tetapi kami juga ingin menjaga keberagaman keyakinan dalam komunitas sekolah kami."
"Bagi sebagian umat Kristiani, referensi tentang demon bisa terasa sangat tidak nyaman karena mereka mengaitkannya dengan kekuatan spiritual yang berseberangan dengan Tuhan dan kebaikan."
Ia menambahkan: "Kami tidak meminta orangtua untuk memberi tahu anak-anak bahwa ada sesuatu yang salah dengan menikmati film atau lagu-lagunya jika itu sejalan dengan pandangan dan keyakinan kalian."
"Peran kami hanyalah membantu anak-anak memahami bahwa beberapa teman mereka mungkin memiliki pandangan yang berbeda, dan mengajak mereka mengeksplorasi bagaimana saling menghormati dan mendukung teman-teman tersebut dalam memegang keyakinan mereka."
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.