Survival show dukun Korea 'Battle of Fates' dikecam imbas menerawang penyebab kematian
Keluarga mendiang mengaku terkejut isi tayangan dinilai jauh dari bentuk penghormatan terhadap almarhum yang gugur saat bertugas.
Potongan adegan dalam survival show dukun di Korea, Battle of Fates, yang tayang di Walt Disney+. (Foto: Dok. Walt Disney Korea)
Tim produksi survival show bertema okultisme, Battle of Fates, meminta maaf usai muncul tudingan acara mereka tidak menghormati seorang pemadam kebakaran yang gugur dalam tugas. Acara berbentuk kompetisi itu diduga menginstruksikan peserta untuk menerawang penyebab kematian dengan cara yang tidak etis.
Tayang di Disney+, Battle of Fates merupakan program survival show yang mempertemukan dukun, peramal, pembaca tarot, dan ahli fisiognomi Korea untuk menyelesaikan berbagai misi.
Dalam salah satu tantangan, para peserta diminta untuk menyimpulkan penyebab kematian petugas pemadam kebakaran Kim Cheol-hong, menggunakan petunjuk berupa nama, foto, waktu lahir, serta tanggal wafatnya.
Kim merupakan satu dari enam pemadam kebakaran yang tewas saat Tragedi Kebakaran Hongje-dong terjadi pada Maret 2001 di Distrik Seodaemun, Seoul.
Dalam pernyataannya, pihak produser menjelaskan mereka telah mendapat persetujuan dari keluarga mendiang.
"Sebelum proses syuting, kami telah memberi tahu keluarga yang ditinggalkan bahwa program ini adalah acara survival yang menampilkan para peramal yang menganalisis takdir mendiang melalui bagan kelahirannya," bunyi pernyataan pihak produser.
"Kami sudah memperoleh persetujuan tertulis untuk menggunakan potret, nama, serta detail kelahiran almarhum. Di lokasi syuting, kami sempat mengheningkan cipta untuk menghormati almarhum dan mendoakan kedamaiannya," lanjut pernyataan itu.
Namun, mereka juga mengakui bahwa beberapa anggota keluarga dan kerabat baru mendapat informasi tentang proses persetujuan tersebut setelah tayangan disiarkan. "Kami akan terus menjelaskan situasinya dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi," tulis para produser, menurut laporan Korea JoongAng Daily.
Pernyataan itu berlanjut, "Kami dengan tulus meminta maaf kepada keluarga yang ditinggalkan dan rekan-rekan sesama pemadam kebakaran yang merasa terluka akibat insiden ini."
Setelah tayangan tersebut disiarkan, seorang warganet berinisial A mengaku sebagai keponakan Kim, mengungkapkan, keluarga mendiang Kim kaget dengan tayangan yang disiarkan, dan menyesal memberikan persetujuan.
"Saya paham bahwa program ini ingin menghormati para pahlawan dan martir, sehingga memang sudah diberikan persetujuan. Namun, saat aku lonfirmasi kepada tanteku, ia mengaku terkejut melihat isi tayanganya," tutur A, dikutip dari The Chosun Daily.
"Ia tidak akan memberi persetujuan jika sejak awal mengetahui seperti apa konten tayangan itu," tutur A melanjutkan.
A juga mengaku marah melihat para peserta menebak-nebak bagaimana pamannya meregang nyawa saat menjalani tugasnya dalam tragedi kebakaran tersebut.
"Tim produksi mengklaim tayangan ini ingin menghormati pengorbanan [paman], tetapi sejujurnya aku tak paham. Bagaimana ini bisa dianggap sebagai program untuk kepentingan publik?" ujar A.
"Menyaksikan para dukun menebak bagaimana paman saya meninggal dunia, dengan panelis yang menggunakan bahasa dan bereaksi yang provokatif, membuatku sangat marah. Siapa yang tidak marah jika kematian anggota keluarganya saat menjalankan tugas digambarkan seperti ini?" ungkapnya.
Sementara itu, Serikat Pemadam Kebakaran Korea (KPFLU) menyesalkan adanya acara semacam ini. "Hal ini dapat mencoreng kehormatan dan martabat almarhum," tulis mereka dalam pernyataan, dikutip dari The Star.
Selain itu, sang MC acara, Jun Hyun-moo, baru-baru ini ikut memicu kemarahan publik setelah menggunakan istilah slang Korea, "kalppang", yang berarti penusukan, saat menilai tingkat akurasi para peserta dalam menebak penyebab kematian polisi yang gugur saat menjalankan tugas.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.