Taman Nasional Komodo akan ditutup untuk wisata tahun depan, apa alasannya?
Badan Taman Nasional Komodo mengungkapkan setidaknya ada empat alasan utama taman ini menutup aktivitas wisata.
Komodo merupakan hewan yang habitat aslinya berada di Indonesia. (Foto: iStock/USO)
Salah satu destinasi favorit di Indonesia, Taman Nasional Komodo (TNK) akan ditutup untuk aktivitas wisatawan pada tahun depan. Rencana tersebut tengah dikaji oleh Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), lantaran mempertimbangkan sejumlah alasan.
BTNK mengungkapkan bahwa Taman Nasional Komodo rencananya akan ditutup untuk wisata mulai pertengahan tahun depan dan dilakukan secara bertahap. Hingga saat ini, pembahasan terkait penutupan TNK untuk kegiatan wisata masih terus dilakukan, termasuk apakah akan ditutup total atau pada hari-hari tertentu saja.
"Tentu akan memperhatikan kebutuhan pengelolaan dan respons masyarakat, dimungkinkan akan ditutup total," ujar Kepala BTNK Hendrikus Rani Siga, Senin (15/7), dikutip dari Detik.
Hendrikus mengungkapkan setidaknya ada empat alasan utama taman ini menutup aktivitas wisata. Alasan pertama adalah karena Taman Nasional Komodo perlu pemulihan dari aktivitas wisata yang semakin lama semakin meningkat.
"Memberikan kesempatan kawasan dan sumber daya alam TNK untuk bisa 'beristirahat dan atau memulihkan diri' dari tekanan akibat aktivitas wisata yang akhir-akhir ini sangat intens dan cenderung meningkat," ujarnya.
BTNK mencatat 300.488 wisatawan berkunjung ke Taman Nasional Komodo sepanjang 2023, menurut laporan Liputan6.
Alasan kedua, penutupan Taman Nasional Komodo dinilai dapat mendorong spot-spot wisata di daratan Pulau Flores sebagai destinasi utama selain Taman Nasional Komodo.
Pasalnya, aktivitas wisata yang intens tersebut selama ini hanya terpusat di kawasan Taman Nasional Komodo saja.
"Menjadikan daya tarik wisata di 'mainland' Pulau Flores juga sebagai tujuan wisata pilihan utama selain TNK," kata Hendrikus.
Alasan ketiga, penutupan dapat mendorong peluang ekonomi bagi masyarakat yang berada sekitar daya tarik wisata di Pulau Flores dan sekitarnya.
Terakhir, penutupan TNK juga agar dapat mendorong efektivitas pengelolaan melalui penataan kembali sumber daya amnusia (SDM), infrastruktur, relasi dengan para pihak, terutama masyarakat.
Kajian terkait penutupan Taman Nasional Komodo dilakukan oleh Pusat Kajian Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM) yang didukung Badan Pengelola Otoritas Labuan Bajo Flores (BPOLBF), dan mengandeng masyarakat serta pihak terkait lainnya.
Hasil kajian akan menjadi acuan pengelolaan kawasan konservasi tersebut.
"Masih dalam diskusi informal, dalam konsep jika ditutup sehari, maka diharapkan wisatawan melakukan aktivitas wisata di luar kawasan dan meningkatkan lama tinggal wisatawan di Labuan Bajo," kata Hendrikus, menurut laporan Antara.