Sering makan gorengan dan mager, anak muda kini 'langganan' kolesterol tinggi
"Guys, aku sempat cek kolesterol dan ternyata tinggi banget sampe 270, sedangkan umurku baru 21 tahun. Sakitnya enggak karuan juga," cuitan di Twitter yang viral. Tak lagi identik dengan usia lanjut, kolesterol kini menjadi ancaman bagi kaum muda.
Terlalu banyak makan gorengan bisa memicu kolesterol tinggi pada anak muda. (Foto: iStock/bushton3)
JAKARTA: Belum lama ini, linimasa media sosial X diramaikan oleh unggahan seseorang berusia 21 tahun yang mengaku memiliki kadar kolesterol hingga 270 mg/dL.
Ia pun berbagi pengalamannya sembari bertanya soal gejala dan cara mengubah gaya hidup kepada warganet.
"Guys, aku sempat cek kolesterol dan ternyata tinggi banget sampe 270, sedangkan umurku baru 21 tahun. Sakitnya enggak karuan juga. Kalian yang ada kolesterol tinggi boleh spill gejala yang kalian alamin plus cara kalian ubah pola makan dan pola hidup gak? Aku mau tau dari pengalaman kalian juga biar lebih paham step ke depannya. Thankyou!" tulis seorang warganet.
Kasus ini seolah mencerminkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menunjukkan bahwa kelompok usia 15–24 tahun justru mendominasi prevalensi kolesterol tinggi di Indonesia. Tak lagi identik dengan usia lanjut, kolesterol kini menjadi ancaman yang nyata bagi kaum muda.
PEMICU UTAMA
Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari RS Siloam Lippo Village, dr. Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono, menyebut tren ini sebagai "sinyal bahaya" yang tak boleh diremehkan.
"Tren peningkatan kadar kolesterol di usia muda adalah sinyal bahaya. Ini faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke yang sebenarnya bisa dicegah,” kata dr Nicolaus, dikutip dari Antara (26/5).
Ia menambahkan bahwa pola hidup sedentari, seperti malas bergerak (mager), konsumsi makanan berlemak tinggi, kebiasaan merokok, serta penggunaan minyak goreng berulang, menjadi penyebab dominan.
"Tidak ada toleransi untuk rokok. Satu batang pun sudah terlalu banyak. Selain itu, kontrol berat badan dan batasi konsumsi lemak trans, terutama dari minyak goreng yang dipakai berulang, juga sangat penting," lanjutnya.
Senada, dr. Aru Ariadno SpPD-KGEH menyebut bahwa faktor genetik memang berperan, tetapi gaya hidup sejak masa kanak-kanak sangat menentukan.
"Pertama ya memang secara genetik mereka (anak muda) memiliki gen-gen akan meningkatkan (risiko) kolesterol. Kedua dipicu dengan pola hidup yang salah saat sejak masih kecil sudah terbiasa (mengonsumsi) makanan dengan kadar lemak tinggi, ditambah dengan kondisi berat badan yang tinggi...," ujarnya, dikutip dari Detik.
"Apalagi banyak yang kaum rebahan, hanya main games, nonton TV atau aktivitas kurang gerak," tambahnya.
GEJALA KOLESTEROL
Yang membuatnya semakin berbahaya, kolesterol tinggi kerap kali tidak menunjukkan gejala khusus. Tak heran jika ia dijuluki sebagai silent killer.
"Tanda atau gejala kolesterol tinggi lebih sering tidak tampak. Jadi kadang tahu setelah (melakukan) medical check up atau bila sudah ada penyakit lainnya seperti darah tinggi atau diabetes," ujar dr Aru.
Kolesterol dikatakan tinggi jika kadar totalnya melebihi 200 mg/dL, dan satu-satunya cara pasti untuk mengetahuinya adalah lewat tes darah rutin.
Salah satu faktor terbesar pemicu kolesterol tinggi adalah pola makan. Dikutip dari Harvard Health Publishing dan Cleveland Clinic, berikut sejumlah makanan yang patut dibatasi:
- Daging Merah & Olahan: Potongan berlemak seperti hamburger, sosis, dan hot dog mengandung lemak jenuh tinggi.
- Makanan Gorengan: Kentang goreng, onion ring, dan makanan deep-fried lainnya meningkatkan kolesterol jahat (LDL).
- Kue dan Pastri: Mengandung mentega dan shortening dalam jumlah tinggi.
- Produk Susu Full Cream: Keju, mentega, dan yogurt tinggi lemak memicu kenaikan kolesterol.
Alih-alih produk tinggi lemak, pilih protein dari ayam tanpa kulit, ikan, kacang-kacangan, serta produk susu rendah atau tanpa lemak.
DIET DAN OLAHRAGA
Dokter spesialis gizi klinik konsultan, dr. Ida Gunawan, menekankan pentingnya personalisasi diet sesuai kondisi individu. Ia menyarankan untuk memperhatikan keseluruhan lipid profile, termasuk HDL, LDL, trigliserida, dan kadar gula darah.
"Ya itu mesti personalize, jadi harus personal, mesti ketemu dengan orang profesional dalam hal ini dokter gizi," katanya, dikutip dari Liputan6.
Ida juga menyarankan beberapa langkah umum, seperti memperbanyak konsumsi serat yang bisa didapatkan dari saur, buah, dan biji-bijian. Selain itu, batasi juga kandungan lemak jenuh dan memilih mengonsumsi lemak sehat seperti alpukat dan minyak zaitun.
Sebagai tambahan, kurangi karbohidrat olahan berbasis tepung, seperti roti putih yang dapat meningkatkan trigliserida.
Tak hanya soal makanan, perubahan gaya hidup menyeluruh juga dibutuhkan. Aktivitas fisik ringan sebanyak lima kali dalam seminggu disarankan sebagai langkah preventif.
"Kesadaran bisa dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Gaya hidup sehat itu investasi jangka panjang," tutup dr. Nicolaus.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.