Ibu satu ini memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah bersama putranya di usia 40
Di usia 40, Sharifah Radhia memilih untuk kembali ke bangku kuliah, menjalani studi selama setahun di Temasek Polytechnic bersama putranya, Muhammad Abbas, yang berusia 18 tahun. Meski keduanya mengambil jurusan berbeda, mereka saling bahu-membahu menghadapi berbagai tugas dan ujian kuliah.
Sharifah Radhia dan putranya, Muhammad Abbas menghabiskan setahun belajar di kampus yang sama di Temasek Polytechnic, serta berbagi pengalaman serupa menghadapi tenggat tugas dan stres ujian. (Foto: Eveline Gan)
Setiap acara wisuda, biasanya orang tua hadir untuk memberi dukungan moral kepada anak-anaknya. Namun bagi Muhammad Abbas, 18 tahun, hal ini justru berkebalikan.
Mei lalu, Abbas duduk sebagai tamu undangan, melihat ibunya, Sharifah Radiah, 40 tahun, naik ke atas panggung untuk melakukan serah terima ijazah spesialisnya.
Betapa bangganya Abbas melihat perempuan yang merangkap peran sebagai ibu tunggal tiga anak sekaligus manajer operasional purnawaktu itu kini melangkah ke panggung dengan toga.
"Saya tahu mama orangnya bisa," jawabnya kepada CNA Women. "Tapi begitu saya melihat mama saya di panggung memakai toga dan menerima ijazah spesialisnya, rasanya beda sekali. Dan saya hadir di saat-saat terpenting dalam hidup mama."
Acara wisuda tersebut menjadi kenangan istimewa bagi keduanya karena ibu dan anak tersebut sama-sama menyelesaikan studi di kampus yang sama di Temasek Polytechnic (TP).
Di saat Abbas menekuni program studi sarjana di bidang keamanan siber, Sharifah mengikuti kelas malam untuk program studi spesialis setahun di bidang analitik bisnis. Meskipun keduanya jarang bertemu di kampus, mereka berbagi pengalaman serupa tentang menghadapi tenggat tugas dan stres ujian.
"Walau jadwal kelas kami berbeda, kesulitan kami dengan tugas kuliah masih sama," jawab Abbas sambil tertawa.
KEMBALI KE BANGKU KULIAH DI USIA 40 TAHUN
Sebagai lulusan manajemen bisnis, Sharifah sebenarnya bisa saja memilih jalan aman dengan bertahan di pekerjaan yang stabil. Namun, dia merasa yakin "mampu melakukan lebih dari itu".
Melihat teman-temannya kesulitan beradaptasi dengan sistem baru di tempat kerja dan mendengar rekan-rekan kerja yang lebih tua mengatakan kalau belajar hal baru di usia 40 tahun ke atas itu "terlampau sulit", tekadnya menjadi bulat untuk kembali ke bangku perkuliahan.
"Saya ingat pernah berpikir: Saya tidak ingin saya terlalu nyaman sampai tidak lagi ingin mempelajari hal-hal baru," ujarnya.
Sharifah yakin keterampilan dalam ijazah spesialisnya akan terus relevan di berbagai tempat kerja.
Kelas malamnya berlangsung dua kali seminggu, dari jam 7 hingga 10 malam, sehingga dia tetap bisa bekerja.
Alasan lainnya dia memilih jurusan tersebut adalah karena fokus pada statistik, yang mana merupakan bagian penting dari analitik data.
Meskipun Sharifah sebelumnya suka dengan pelajaran matematika, dia kali ini kesulitan dengan statistika di awal-awal perkuliahannya. "Saya mau lihat seberapa jauh kemampuan saya di bidang ini," jelas ibu tiga anak tersebut.
"Menempuh jurusan analitik data membuat pemahaman saya terhadap statistika lebih kuat dan benar-benar meningkatkan kemampuan saya dalam menafsirkan dan menerapkan konsep statistika di kehidupan sehari-hari."
Dia menambahkan, waktunya juga "sangat pas sekali". Anak bungsunya baru saja masuk Primary 1 (atau setara dengan SD kelas 1), sementara anak tengahnya tahun depan akan mengikuti ujian akhir sekolah dasar.
Pada saat yang bersamaan, Abbas baru saja mendaftar di TP melalui program yayasan dari politeknik, yakni jalur persiapan selama satu tahun bagi pelajar Secondary 4 Normal (Academic) yang memenuhi syarat untuk melanjutkan studi diploma setelah lulus modul-modul inti tertentu.
"Mama saya banyak menginspirasi saya untuk terus melanjutkan pendidikan saya di TP," kata Abbas yang juga menambahkan bahwa dia kerap meminta bantuan ibunya untuk menyelesaikan tugas kuliahnya yang berhubungan dengan matematika.
TURUN TANGAN MEMBANTU IBUNYA
Sharifah bercerita bahwa anak sulungnya adalah salah satu pendukung terbesarnya. Setiap kali tugas kuliahnya mendekati tenggat waktu, anak sulungnya selalu punya cara untuk meringankan beban pekerjaannya di rumah.
Misalnya, dia akan memeriksa tugas sekolah adik bungsunya dan sesekali mengantar-jemput adiknya dari tempat lesnya saat asisten rumah tangga tidak ada.
"Bahkan sesimpel mencuci piring dan menjaga kamar saya tetap bersih, itu sudah cukup membantu mengurangi beban mama saya," kata anaknya dan Sharifah pun tersenyum mendengarnya.
"Saya bersyukur Abbas punya perhatian dan mau berinisiatif untuk mengambil tugas-tugas yang disebutkannya tanpa mengeluh banyak, karena saya juga paham, anak muda juga punya hidup dan kesibukannya sendiri," terang Sharifah.
Ada juga saat di mana Abbas melihat ibunya kesusahan dalam menyelesaikan tugas-tugas yang sulit. "Kadang-kadang, mama suka mengeluh soal tugasnya yang amat sulit, sampai bertanya-tanya sendiri kenapa mau mengambil jurusan spesialis," sebutnya.
Sharifah ingat saat-saat dia dilanda keraguan. "Saya suka bertanya-tanya sendiri, mengapa saya ambil ini? Memangnya perlu banget saya kuliah di usia saya yang seperti ini?"
Terlepas dari itu semua, dia tidak menyerah. Dia tetap mengimbangi waktunya yang padat antara kerja, kuliah, dan merawat anak.
"Selesai kerja dan kelas malam, saya biasanya sudah penat banget. Karena begitu, saya sisihkan waktu mengerjakan tugas di setiap akhir pekan. Saya tidak yakin bisa mengerjakannya di malam hari setelah kerja," kata Sharifah.
Setiap akhir pekan, dia dengan sengaja memilih ruang tamu sebagai tempat belajar. "Saya tidak mengurung diri atau membuat anak-anak merasa saya mengasingkan mereka. Di ruang tamu, saya masih bisa dijangkau anak-anak," jelasnya.
Bahkan dengan jadwalnya yang padat, Sharifah masih menyempatkan waktu bersama dengan anak-anaknya. Aktivitas keluarganya berupa jalan-jalan ke taman bermain, mengahabiskan waktu seharian di wisata air, atau sekadar makan di luar di akhir pekan. Baginya, ini penting supaya anak-anak tidak merasa "diterlantarkan" atau tidak dipedulikan.
"Saya suka bilang ke anak-anak, 'Oke, ayo kita keluar, tapi kalau kita sudah pulang, kasih ibu waktu untuk mengerjakan tugas'," ujarnya.
PELAJARAN YANG DIAJARKANNYA KEPADA ANAK-ANAKNYA
Kegigihan Sharifah meninggalkan kesan yang membekas dalam diri Abbas.
"Salah satu hal yang dipelajari dari mama saya adalah kegigihannya. Terlepas dari kesibukannya sebagai ibu tunggal dan kerja purnawaktu, dia masih menyempatkan waktu untuk menghadiri kelas malam, mengikuti ujian, dan menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya," tuturnya.
Beberapa tahun terakhir, Abbas sedang mengalami kesulitan dengan proyek seni digitalnya. Meski dia sudah bertahun-tahun melatih diri, dia masih merasa belum memiliki banyak kemajuan. Ketika dia melihat bagaimana ibunya mendorongnya untuk keluar dari zona nyaman, hal itu membuatnya mempertimbangkan kembali caranya memandang proses belajar dan tumbuh, ucapnya.
Dengan melanjutkan pendidikannya, Sharifah ingin menunjukkan kepada anak-anaknya kalau belajar tidak berhenti karena usia. Dia ingin anak-anaknya mengingat keberaniannya untuk mengambil "side quest", istilah jenaka yang biasa dia gunakan, dan jangan takut gagal.
Dia juga ingin mengingatkan para ibu lainnya bahwa mengejar impian dan cita-cita itu adalah hal yang sah-sah saja.
"Mungkin kalian seorang ibu, istri, anak perempuan, kakak dari adik-adik, semua peran ini kalian jalani secara sekaligus. Tetapi kalian juga harus melihat diri kalian sebagai sosok yang punya pribadi yang utuh. Kalian tidak perlu menunggu semuanya beres dulu baru mau memprioritaskan diri kalian," ujarnya.
"Saya tidak mau sepuluh, dua puluh tahun dari sekarang menyesal karena tidak melakukan apa-apa. Saya lebih memilih mencoba dan gagal, daripada tidak mencoba sama sekali.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.