Kisah di balik Bandung jadi surga 'boots handmade' dunia, kolektor dari AS sampai Jepang rela borong
Sepasang boots handmade asal Bandung kerap disebut sejajar dengan brand heritage legendaris seperti Red Wing, Viberg, dan White's Boots. Bagaimana ceritanya?
Brand boot handmade dari Bandung, seperti Sagara Bootmaker, Briselblack, Onderhoud Handmade, dan Txture berhasil menarik perhatian para penggemar boot dari seluruh dunia berkat keahlian kerajinan mereka. (Foto: Instagram/onderhoud.handmade, sagarabootmaker, txture, briselback_bootmaker; ilustrasi: CNA/Chern Ling)
Bandung sudah lama dikenal lewat udara sejuk, bangunan Art Deco, dan berbagai macam kulinernya. Namun di kalangan pencinta heritage menswear, kota ini juga punya reputasi sebagai rumah bagi sejumlah pembuat boots handmade yang kualitasnya diakui hingga mancanegara.
Ibu kota Jawa Barat yang kerap dijuluki Parijs van Java berkat pesona era kolonial dan budaya kreatifnya itu kini sudah menjelma menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi penggemar sepatu boots handmade.
Di komunitas pencinta boots, sepasang boots handmade asal Bandung kerap disebut sejajar dengan brand heritage legendaris seperti Red Wing, Viberg, dan White's Boots.
Industri kerajinan lokal yang awalnya berskala kecil ini kini berkembang menjadi fenomena global, dengan kolektor dari Jepang, Australia, Eropa, hingga Amerika Serikat rela datang langsung untuk memesan boots sesuai keinginan mereka.
JADI PUSAT INDUSTRI BOOTS
Jika Prefektur Okayama di Jepang identik dengan selvedge denim kelas dunia, Bandung kini dikenal sebagai pusat industri boots di Indonesia.
Tradisi pembuatan sepatu di kota ini sudah dimulai sejak era kolonial Belanda pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika teknik pembuatan sepatu dari Eropa diperkenalkan ke Bandung.
Kawasan seperti Cibaduyut kemudian berkembang menjadi sentra alas kaki yang melahirkan banyak pengrajin kulit dan pembuat sepatu.
Keahlian mereka diwariskan dari generasi ke generasi, baik di lingkungan keluarga maupun bengkel kerja.
Meski begitu, perjalanan Bandung menjadi destinasi boots kelas dunia baru benar-benar dimulai beberapa dekade terakhir.
Pada awal 2000-an, tren global raw denim dan heritage menswear meningkatkan minat terhadap workwear asal Amerika Serikat.
Melalui forum online dan komunitas menswear, para penggemar di Indonesia mulai mengenal pembuat boots legendaris seperti Red Wing, White's Boots, Wesco, dan Viberg.
Service boots bergaya tangguh, engineer boots, hingga model yang terinspirasi dari sepatu militer pun menjadi incaran.
Sayangnya, ada satu kendala besar. Boots impor dibanderol dengan harga yang terlalu mahal bagi banyak masyarakat Indonesia.
Beruntung, Bandung sudah memiliki modal yang tidak kalah berharga, yaitu banyak pengrajin kulit berbakat, bengkel alas kaki yang mapan, serta pengalaman membuat sepatu selama lebih dari satu abad.
Alih-alih hanya mengagumi boots asal Amerika dari kejauhan, generasi baru para pengrajin mulai mempelajarinya secara mendalam.
Beberapa bahkan membeli boots impor, membongkarnya satu per satu, lalu mempelajari setiap jahitan, pola, hingga teknik konstruksinya.
Mereka tak hanya memahami tampilannya, tetapi juga menguasai teknik tradisional yang digunakan untuk membuatnya.
Awalnya terinspirasi dari boots Amerika, para pengrajin boots di Bandung perlahan mengembangkan produk mereka menjadi sesuatu yang khas Indonesia.
Kini, para pembuat boots ternama di Bandung telah memiliki identitas desain sendiri dengan memadukan inspirasi dari alas kaki militer, workwear, dan outdoor boots bersama sentuhan craftsmanship Indonesia serta tingkat kustomisasi yang luas.
Nama-nama seperti Sagara Bootmaker, Briselblack, Onderhoud Handmade, dan Txture kini tidak lagi dipandang sebagai alternatif dari pembuat boots Amerika, melainkan telah menjadi brand yang dihormati berkat kualitasnya sendiri. Sepasang boots handmade asal Bandung dibanderol mulai dari US$349 (Rp6,3 juta).
Kota yang dulu menjadikan work boots asal Amerika sebagai sumber inspirasi kini justru menerima pesanan dari para pencinta boots di negara yang menginspirasinya.
SALAH SATU ARTISAN "BOOTS"
Tersembunyi di salah satu gang yang sibuk di Bandung berdiri Sagara Bootmaker. Nama Sagara sendiri berarti "laut" dalam bahasa Sanskerta, sebagai penghormatan terhadap sejarah maritim Indonesia.
Brand ini menjadi salah satu pelopor yang membawa boots buatan Indonesia dikenal di panggung internasional.
Di dalam bengkelnya, para artisan boots menghabiskan waktu hingga beberapa pekan untuk mengubah lembaran kulit menjadi sepasang alas kaki.
Setiap pasang boots melewati lebih dari 200 tahapan, mulai dari memilih dan memotong kulit, membentuk last, menjahit midsole dan outsole secara hand-welted, hingga proses conditioning, polishing, dan waxing sebagai tahap akhir.
"Kami memimpin pasar dan menetapkan standar, baik dari sisi craftsmanship maupun pemilihan material," ujar pemilik sekaligus creative director Sagara Bootmaker, Bagus Satrio, kepada CNA.
Proses pembuatannya memang sengaja dibuat lambat.
"Kami membutuhkan waktu satu bulan atau bahkan lebih untuk membuat sepasang custom boots," ujar pria berusia 38 tahun itu. "Setiap tahapan dikerjakan oleh artisan yang berbeda untuk menjaga kualitas tetap konsisten."
Salah satu ciri khas Sagara adalah teknik saddle stitching yang menurut Satrio menawarkan daya tahan lebih baik dibandingkan lockstitch yang dibuat menggunakan mesin.
Faktor yang tidak kalah penting, boots tersebut dirancang agar mampu bertahan selama puluhan tahun, dengan konstruksi yang bisa diperbaiki maupun sol yang bisa diganti berkali-kali.
KISAH ARTISAN BOOTS LAINNYA
Brand inovator: Txture
Didirikan di garasi milik pendirinya, Joe Rahadiantara, pada 2009, Txture kini berkembang menjadi salah satu pembuat heritage boots paling dikenal di Bandung.
Service boots buatan tangan dan desain yang terinspirasi dari sepatu militer memadukan teknik konstruksi tradisional dengan sentuhan gaya modern.
Model Tanka Boot masih menjadi salah satu produk ikonik mereka.
Brand penuh seni: Onderhoud Handmade
Pendiri Onderhoud Handmade, Rizky Afnan, sengaja menjaga kapasitas produksinya tetap kecil dengan hanya membuat dua hingga tiga pasang hand-welted boots setiap pekan.
Jumlah produksi yang terbatas, dipadukan dengan craftsmanship yang sangat teliti, membuat Onderhoud Handmade memiliki status cult di kalangan kolektor.
Para pelanggan bahkan harus mengikuti sistem undian untuk mendapatkan kesempatan membeli sepasang boots.
Brand yang modern: Briselblack
Sebelumnya dikenal sebagai Benzein, Briselblack melakukan rebranding pada 2024 dengan fokus yang lebih kuat ke pasar internasional.
Berbeda dari banyak pembuat boots di Bandung yang identik dengan lace-up boots bergaya rugged, Briselblack membangun reputasinya melalui Chelsea boots, side-zip boots, dan Jodhpur boots yang tampil lebih elegan, sambil tetap menggabungkan konstruksi tradisional dengan desain kontemporer.
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.