Kasih nan tabu? Ketika lansia India usia 60 plus mencari cinta
Seiring usia yang kian tua dan sepi yang kian menusuk, makin banyak lansia di India yang tidak hanya melawan kesunyian dengan romansa dan kebersamaan, tetapi juga mendobrak tabu.
Pasangan Kunal Mukherjee (kiri) dan Ashoka Bhattacharya harus melanggar tradisi di India demi bisa bersama.
KOLKATA, India: Kunal telah dua kali bercerai, dan Ashoka adalah seorang janda. Kini keduanya berusia 65 tahun. Tapi usia maupun patah hati tak menghalangi Kunal Mukherjee dan Ashoka Bhattacharya untuk jatuh cinta di senja kala kehidupan mereka.
Dulu sekali, mereka menjalin cinta monyet. Kunal sempat berharap hubungan mereka akan lebih serius. “Setiap melihatnya, dada saya terasa penuh,” kenangnya. Tetapi rencana tinggal rencana, dan masing-masing menikah dengan orang lain.
Ketika mereka bertemu kembali puluhan tahun kemudian, asmara pun merekah. “Saya bilang, ‘Apakah menurutmu sudah waktunya kita mulai serius mempertimbangkan (pernikahan)?’” kenang Kunal. “Dan dengan suara yang sangat lembut, dia berkata, 'Ya, bisa.’”
Mereka menikah dua tahun kemudian, pada 2023, dalam upacara keagamaan terbatas di rumah mempelai perempuan. Tak ada tamu undangan — anak-anak mereka sekalipun.
Di usia mereka, menikah kembali berarti melanggar sebuah tabu. Dalam budaya India yang konservatif, hubungan romantis antara para lansia masih kerap dianggap tidak pantas, terutama jika melibatkan janda atau duda. Tentangan begitu besar ketika Ashoka akhirnya mengabari orang-orang terdekatnya.
“Di usia setua ini, tidak ada yang mendukung atau senang melihat perempuan menjalin hubungan baru,” katanya. “Sahabat terdekat saya pun tak mau lagi bicara atau bertemu. Saudara-saudara perempuan saya juga sama.”
Namun, mereka bukan satu-satunya pasangan yang menolak menua tanpa cinta.
Semakin banyak lansia kesepian di India yang diam-diam mencari pendamping hidup. Ada yang mendaftar ke layanan pencarian jodoh dan aplikasi kencan, bahkan ada pula yang memilih hidup bersama tanpa menikah — menentang ekspektasi tradisional tentang penuaan dan pernikahan.
DEMI ATASI SEPI
Seiring peningkatan usia harapan hidup, kesepian di masa tua menjadi persoalan yang kian nyata di India. Menurut data PBB, harapan hidup di sana bertambah 10 tahun dalam satu generasi — dari 62,7 tahun pada 2000 menjadi 72,2 tahun pada 2024.
Dalam studi oleh Agewell Foundation tahun lalu terkait menua sendirian, sebanyak 15 persen lansia usia 60 tahun ke atas di perkotaan India dilaporkan hidup sendirian.
Dalam survei terhadap 10.000 responden ini, 57,3 persen lansia yang hidup sendiri menyatakan merasa lebih mandiri, namun 40,8 persen lainnya mengaku rasa sepi berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.
“Di rumah sakit kami, kami menemukan banyak (lansia) yang mengatakan, ‘Dokter, untuk apa saya hidup? Tolong lakukan sesuatu supaya saya bisa mati secepatnya,’” ujar Arunansu Talukdar, kepala bagian geriatri di Medical College Hospital Kolkata.
Entah karena kehilangan pasangan, tinggal terpisah dari anak-anak yang sebagian merantau, atau tak pernah menikah, banyak lansia berjuang mencari alasan untuk bertahan hidup.
Tanpa pasangan atau kehadiran anak-anak, sebagian lansia kehilangan tujuan dan komunitas, dan hal ini perlahan tapi pasti bisa berdampak buruk pada kesehatan mereka.
“Rasa sepi itu membunuh perlahan,” kata Amitava De Sarkar, sekretaris organisasi non-pemerintah Thikana Shimla. “Karena kesepian, mereka mudah jatuh sakit. Dan salah satu solusinya adalah kehadiran pendamping.”
Untuk membantu para lansia membangun kembali hubungan dalam hidup mereka, organisasi seperti Thikana Shimla rutin mengadakan pertemuan sosial dan acara pencarian jodoh.
“Jika kami adakan empat acara (pencarian jodoh) dalam setahun, semuanya pasti sukses. Jika saya butuh 200 orang untuk hadir, saya bisa dapat 200 orang,” ujar Amitava.
“Kondisi sakit-sakitan, kekhawatiran soal kesehatan, dan rasa takut akan kematian menjadi alasan mencari pendamping hidup.”
Salah satu peserta dalam pertemuan baru-baru ini adalah Pulak Nath Sinha, 77, yang kehilangan istrinya pada tahun 2023.
“Saya belum bisa menyesuaikan diri dengan situasi ini (hidup tanpa istri),” katanya. “Sulit sekali. Tidak ada yang menemani. Bagaimana hidup seperti ini?”
CINTA BERSEMI DI PANTI JOMPO
Mencari cinta dan kebersamaan, sebagian menemukannya di tempat tak terduga, misalnya satu panti jompo bagi kaum duafa di negara bagian Assam, timur laut India, yang baru-baru ini menjadi sorotan karena kisah cinta di sana.
Dua penghuni panti itu, Padmeswar Goala, 71, dan Jayaprabha Bora, 65, telah melajang seumur hidup mereka, hingga akhirnya bertemu di sana.
Jayaprabha lebih dulu menyatakan cinta. “Saat saya melihat dia mendendangkan lagu-lagu,” kenangnya, “kami berdua saling jatuh cinta.”
Kisah kasih mereka sangat mencolok. “Kalau Paman tertawa (dengan penghuni perempuan lain), Bibi biasanya cemburu,” ujar Utpal Harshavardhan, sekretaris Panti Jompo Pramod Talukdar Memorial tempat mereka tinggal, sambil tersenyum.
Pasangan itu akhirnya menikah Januari lalu berkat dorongan para staf. Cerita asmara mereka sangat memikat bagi warga sekitar, hingga sekitar 4.000 orang datang menghadiri pernikahan mereka yang didanai hasil urunan.
“Setiap orang kan punya impian untuk menikah suatu hari nanti,” kata Utpal. “Jadi kami pikir, ayo bantu mereka untuk menikah.”
Meski kamar penghuni panti jompo biasanya dipisahkan berdasarkan jenis kelamin, staf di sana membuat pengecualian dan menghadiahi pengantin baru ini kamar dengan ranjang besar. Utval bahkan merancang “bulan madu” di sebuah kota pegunungan terdekat.
“Aku tak yakin apa yang dimaksud dengan ‘bulan madu,’” ujar Jayaprabha tertawa. “Mungkin main-main, menyanyi, menari. Ya, pasti begitulah.”
Meski sebagian besar masyarakat menyambut positif kisah mereka, beberapa warga lokal justru menganggap pernikahan itu memalukan. “Mereka bilang, ‘Kenapa menikah di usia setua ini? Ini kan waktunya bersiap mangkat.’ Pola pikir mereka memang berbeda,” kata Utpal.
Namun, pasangan ini tak terpengaruh dan tetap bahagia. “Berapa lama lagi, sih, kita ada di dunia ini?” ucap Jayaprabha. “Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang paling penting sekarang hanyalah cinta dan kasih sayang kami.”
DUNIA BARU PERJODOHAN
Bagi sebagian lansia, menemukan pendamping hidup tak selalu berarti menikah. Di kota Pune, dekat Mumbai, satu biro jodoh menjadi sorotan karena mempertemukan para lansia yang ingin hidup bersama tanpa ikatan pernikahan.
“Pengalaman cerai pertama saya sudah cukup mengajari saya betapa melelahkannya proses itu,” ujar Asawari Kulkarni, 73 tahun. “Saya betul-betul tidak ingin berurusan lagi dengan pengadilan di umur setua ini.”
“Itulah kenapa konsep hubungan hidup bersama (tanpa menikah) terasa unik dan baru bagi saya. Ini ide yang sangat bagus.”
Sejak 2012, agensi Happy Seniors telah mempertemukan lebih dari 90 pasangan dan menetapkan biaya keanggotaan satu kali sebesar 7.000 rupee (sekitar Rp1,3 juta).
Para anggota bisa saling kenal lewat obrolan video dua kali sebulan, pertemuan langsung bulanan, dan retret semalam yang diadakan tiap tiga bulan sekali.
Agensi ini kemudian akan mencocokkan lansia yang saling menunjukkan ketertarikan untuk hidup bersama. Agensi juga membantu menyusun kontrak yang mengatur soal keuangan, tempat tinggal, hingga preferensi keintiman. Dengan cara ini, pasangan bisa lebih fokus pada kebersamaan.
“Kami ambil semua langkah pencegahan … supaya kemungkinan gagalnya nyaris nol,” ujar pendiri agensi, Madhav Damle.
Untuk melindungi perempuan dalam skema ini, Happy Seniors mewajibkan para pria menyetor uang jaminan antara 500.000 hingga 1 juta rupee.
Jika terjadi konflik hingga pihak pria memutuskan hubungan, dana jaminannya akan diberikan kepada pihak perempuan. Namun jika perpisahan berlangsung damai atau merupakan inisiatif pihak perempuan, pihak pria berhak mempertahankan uang tersebut.
“Kami sangat berhati-hati karena dalam hubungan hidup bersama, pasangan bisa putus kapan saja,” ujar Madhav.
PASANG IKLAN
Bagi Asawari dan pasangannya, Anil Yardi, yang juga berusia 73 tahun, hubungan mereka yang berusia sepuluh tahun terus berkembang berkat rasa tanggung jawab bersama. Selain membagi biaya hidup dan tugas rumah secara adil, mereka juga secara sukarela menjalani pemeriksaan kesehatan dan tes HIV.
“Kami sudah saling terbuka satu sama lain sejak awal,” kata Asawari, “supaya tidak ada keraguan di antara kami.”
Namun, rintangan terbesar justru datang dari luar hubungan mereka, terutama dari orang-orang terdekat.
“Putri saya terkejut ada orang yang bisa hidup (sebagai pasangan tanpa menikah) seperti ini,” ujar Anil. “Dia bilang, itu tidak mungkin terjadi (dalam masyarakat India). Dia juga bilang kenapa saya tidak bisa hidup sendiri dulu saja.”
Asawari pun menghadapi respons serupa dari putranya. Ia menyarankan sang ibu untuk tinggal bersama ayahnya saja—usulan yang langsung ia tolak. “Saya tahu perilaku mantan suami saya tidak akan pernah berubah,” ujarnya.
Kepada para lansia yang mendaftar ke agensinya, Madhav selalu berpesan: “Pertimbangkan dengan hati-hati untuk diri sendiri.”
“Kalau memikirkan anak-anak terus, tidak akan ada habisnya,” tambahnya. “Mereka yang prioritaskan kebahagiaannya sendirilah yang bisa lanjut dan berhasil (menemukan pendamping).”
TETAP LEBIH SULIT BAGI PEREMPUAN
Namun, meski pandangan mulai bergeser, perempuan tetap menjadi pihak yang paling sering dihakimi ketika ingin menjalin hubungan di usia lanjut.
Sultana Abdullah, 67, tahu persis rasanya. Keluarganya sendiri meyakini ia seharusnya lebih fokus mengejar kehidupan akhirat ketimbang mencari pasangan di usianya kini.
“Di belahan dunia ini, perempuan seolah tidak punya kebutuhan apa pun. Dan kalaupun ada, dia seharusnya diam-diam saja soal itu,” ujar Sultana.
“(Misalnya), ‘Kenapa tidak pergi naik haji saja atau duduk di rumah sambil berdzikir?’”
Setelah mengelilingi dunia selama 37 tahun sebagai pramugari, Sultana menolak tunduk pada ekspektasi tradisional yang mencoba membatasi jiwanya yang bebas.
Ia tetap hidup “buka-tutup koper”, menjelajah dari satu tempat ke tempat lain. Namun, di lubuk hatinya ia berharap kelak bisa berbagi sisa hidup dengan seseorang yang istimewa. Kehilangan sang ibu pada 2016 semakin memperkuat keinginan itu.
“Saat itulah kesepian benar-benar menyelinap masuk, meresap ke dalam tubuh, ke pembuluh darah, ke saraf. Saya cuma bisa memikirkan keinginan memiliki seseorang di sisi saya,” tuturnya.
“Kita semua ingin sentuhan. Ingin dirawat. Ingin mendengar kata-kata menenangkan. Ingin diyakinkan.”
Sementara itu, putri dari Ashoka Bhattacharya masih berusaha menerima kenyataan ibunya telah menikah lagi. Namun, kabar itu belum diketahui keluarga mertua sang anak. “Jangan sampai perkataan orang berdampak pada putri saya. Itu saja yang saya mau,” ujar Ashoka.
Pandangan Kunal sendiri “sebagai laki-laki”: “Kenapa juga kita harus peduli sama omongan orang?” Namun ia mengakui: “Bagi perempuan di generasi kami, memang tidak sesederhana itu.”
Setelah sempat menyembunyikan hubungan mereka, kini pasangan ini siap untuk lebih terbuka. “Memang benar (hubungan) ini agak di luar kebiasaan. Tapi kami menjalani semuanya dengan baik,” ujar Ashoka.
Kami bahagia hidup berdua dan tidak mau ada yang mengganggu.”
Jika ada yang tidak setuju sampai “hatinya meledak”, seloroh Kunal, “ya itu urusan mereka.”
“Dunia sudah berubah,” ujarnya. “Selama ini kami hidup untuk orang lain. … Untuk beberapa tahun, atau mungkin beberapa dekade terakhir hidup Anda… hiduplah untuk diri sendiri.”
Ikuti saluran WhatsApp CNA Indonesia untuk dapatkan berita menarik lainnya. Pastikan fungsi notifikasi telah dinyalakan dengan menekan tombol lonceng.